{"id":15276,"date":"2021-05-28T18:39:13","date_gmt":"2021-05-28T11:39:13","guid":{"rendered":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/"},"modified":"2021-05-28T18:39:13","modified_gmt":"2021-05-28T11:39:13","slug":"ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/","title":{"rendered":"Ampa Wayer, Disko Tanah, dan Kebebasan Berkesenian di Sulawesi Utara"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh: Satria Yanuar Akbar, <a href=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/anggota\/north-celebes-creative-lab\/\">North Celebes Creative Lab (NCCL)<\/a><\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ampa Wayer adalah seni tari yang lahir pada masa perang dunia kedua, tepat setelah akhir pendudukan Jepang di Indonesia. Ia merupakan adaptasi dan perpaduan kesenian Eropa dengan kesenian Kepulauan Sangihe, pulau terdepan Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara etimologi, Ampa Wayer berarti \u201cEmpat Baling-baling\u201d. Penamaan ini diambil tatkala para seniman Nusa Utara melihat berbagai serangan pesawat udara tentara sekutu melawan tentara Jepang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekspresi gerak tari yang diungkapkan adalah ekspresi kebebasan dan kemerdekaan. Gerak Ampa Wayer adalah gerak bebas namun beraturan, diiringi oleh musik dan dipimpin seorang Pangataseng (pemimpin tari).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seni ini merupakan seni yang muncul atas ekspresi masyarakat dan bukan seni yang muncul dari kalangan istana. Sifat spontanitas dan kebebasan merupakan ciri khas tari Ampa Wayer yang tampaknya selaras dengan denyut perkembangan dan <\/span><a href=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/advocacy\/artistic-freedom\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">kebebasan berkesenian<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> di Sulawesi Utara. Lagu \u201cTerpesona\u201d yang akhir-akhir ini viral merupakan salah satu lagu pengiring yang dinyanyikan dalam perhelatan Ampa Wayer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-12864\" src=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image1.png\" alt=\"\" width=\"641\" height=\"346\" srcset=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image1.png 641w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image1-600x324.png 600w\" sizes=\"auto, (max-width: 641px) 100vw, 641px\" \/>Sebagai sebuah provinsi yang memiliki tiga etnis dominan (Bolaang Mongondow, Minahasa dan Nusa Utara), Provinsi Sulawesi Utara memiliki tradisi feodal cukup kental. Masyarakat Bolaang Mongondow dan Nusa Utara adalah masyarakat yang memiliki tradisi kerajaan, sedangkan masyarakat Minahasa telah cukup lama bersentuhan dengan bangsa-bangsa Eropa seperti Spanyol, Portugis, dan Belanda. Meskipun masyarakat Minahasa tidak mengenal tradisi kerajaan, namun dalam tata laku dan hubungan masyarakat, pengaruh-pengaruh feodalistik Eropa cukup kental diserap dan dilakukan dalam aktivitas sehari-hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasca-kemerdekaan Indonesia, tradisi feodal ini masih cukup kental melembaga. Pemerintah menjadi semacam sentral kekuasaan baru. Gubernur, Bupati, ataupun Walikota sebagai pimpinan daerah mendapatkan penghargaan dari masyarakat sebagai \u201craja\u201d baru dan titahnya lah yang akan diikuti dan dilaksanakan oleh rakyat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan tradisi yang berkembang ini, sebetulnya percepatan perkembangan kesenian haruslah lebih kentara karena titah pemimpin adalah kewajiban yang harus dilaksanakan. Namun, ironisnya ekspresi perkembangan kesenian di Sulawesi Utara mayoritas tumbuh dari kalangan masyarakat. Pemerintah selalu tertinggal dalam merespon fenomena yang terjadi dan seringkali kewalahan dalam menyikapi perkembangannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu kasus yang menarik adalah fenomena perkembangan Disko Tanah sebagai ekspresi seni musik populer khas Sulawesi Utara. Genre ini berkembang sejak tahun 1950-1960-an seiring masuknya tren Rock &amp; Roll dan Boogy Woogy<span class=\"footnote_referrer\"><a role=\"button\" tabindex=\"0\" onclick=\"footnote_moveToReference_15276_1('footnote_plugin_reference_15276_1_1');\" onkeypress=\"footnote_moveToReference_15276_1('footnote_plugin_reference_15276_1_1');\" ><sup id=\"footnote_plugin_tooltip_15276_1_1\" class=\"footnote_plugin_tooltip_text\">(1)<\/sup><\/a><span id=\"footnote_plugin_tooltip_text_15276_1_1\" class=\"footnote_tooltip\"><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Di tahun 1980-an, seusai Gerakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) dan naiknya harga cengkeh, Disko Tanah menjadi tren baru terutama di kalangan muda-mudi. Hampir di setiap pesta dan perkumpulan, Disko Tanah menjadi menu yang wajib ada.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Disko Tanah adalah genre musik disko dengan irama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">breakbeat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sesuai ketukan khas masyarakat Sulawesi Utara yang acap kali dikenal dan terdengar dalam bentuk irama-irama musik bambu. Pertunjukan ini dilaksanakan di tanah lapang dengan pengeras suara khas yang dicat warna-warni.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perhelatan Disko Tanah bak menghadirkan suasana disko di tempat terbuka dan ruang publik. Popularitas Disko Tanah ini merangsang pula pertumbuhan para \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">beat maker<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d yang turut membentuk warna khas musik populer Sulawesi Utara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dewasa ini, duo musisi Ever Salikara dan Tian Storm merupakan nama fenomenal di belantika musik Indonesia. Melalui karyanya \u201cAnjing Kacili\u201d dan \u201c<\/span><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=qY1IFnjM8-Y\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ampun Bang Jago<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d, Disko Tanah menggoyang dunia. Rilisan lagunya di Youtube telah mendapatkan view puluhan juta. Hal ini turut mengundang klub sepak bola Inggris West Ham United menggunakan lagu \u201cAmpun Bang Jago\u201d dalam salah satu klip promosinya di platform Tik Tok.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, popularitas dan pertumbuhan Disko Tanah ini tidak selalu mulus. Seringkali pertumbuhan seni ini terhambat oleh regulasi. Sejak awal tahun 2010-an, Disko Tanah dianggap sebagai seni hiburan yang berpotensi menimbulkan kegaduhan akibat konsumsi minuman alkohol berlebihan oleh para penikmatnya. Sehingga, seringkali pada masa itu Disko Tanah tidak diberikan izin dan dibatasi penampilannya. Inilah yang berimbas pada menurunnya produktivitas para <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">beat maker<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Disko Tanah dalam mencipta karya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena ini seakan menjadi tipikal pendekatan pemerintah dalam pelaksanaan regulasi kesenian. Dibanding menelaah lebih dalam terkait permasalahan yang terjadi, pemerintah seolah lebih senang memilih jalan pintas untuk \u201cmemotong\u201d dan meniadakan potensi masalah.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Popularitas Ampa Wayer dan Disko Tanah telah membentuk wajah kesenian Sulawesi Utara hari ini. Ini terjadi secara alamiah, diawali oleh gerakan spontanitas masyarakat, bukan inisiatif terstruktur pemerintah. Ironisnya, terkadang berbagai kebijakan yang dikeluarkan bukannya mendorong pertumbuhan dan perkembangan seni namun semakin mengungkung kebebasan berekspresi. Malah, ada kalanya memperlambat pertumbuhan seni itu sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkembangan kesenian di Sulawesi Utara dapat dikatakan masih setengah hati. Misalnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bagi Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, perangkat dinas utama dalam proses pengembangan kesenian, sangatlah kecil dibanding dinas lainya. Boro-boro mendapatkan anggaran sesuai amanat UU No 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Dinas Kebudayaan seolah \u201cpelengkap\u201d yang belum dipandang sebagai kontributor utama dalam pembangunan di Sulawesi Utara. Ketika pemimpin belum memandang serius pengelolaan kesenian, ini berpengaruh terhadap minat literasi masyarakat akan kesenian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah ekspresi kebebasan kesenian di Sulawesi Utara hari ini terjadi akibat rendahnya literasi akan kebebasan kesenian. Para pelaku, regulator, maupun pemangku kepentingan terkait belum dapat memilih dan memilah hak dan mekanisme seniman mengolah proses penciptaannya. Hak seniman untuk bebas membayangkan, menciptakan, dan mendistribusikan beragam ekspresi budaya tanpa sensor, intervensi politik atau tekanan dari aktor non-negara masih sulit terjadi apabila setiap pihak tidak duduk dan berdiskusi dalam satu frekuensi yang sama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah gambaran tentang kebebasan kesenian yang masih terjadi di Sulawesi Utara hari ini. Kelemahan literasi akan kebebasan berkesenian seringkali membuat para seniman tidak sadar bahwa hak-haknya tengah terampas. Diperlukan upaya ekstra agar tersusun peta jalan bersama dalam sistem kebebasan berkesenian yang dapat mewujud menjadi salah satu upaya pemajuan kebudayaan di Sulawesi Utara.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bitung, 2 Mei 2021<\/span><\/p>\n<div class=\"speaker-mute footnotes_reference_container\"> <div class=\"footnote_container_prepare\"><p><span role=\"button\" tabindex=\"0\" class=\"footnote_reference_container_label pointer\" onclick=\"footnote_expand_collapse_reference_container_15276_1();\">Catatan Kaki:<\/span><span role=\"button\" tabindex=\"0\" class=\"footnote_reference_container_collapse_button\" style=\"display: none;\" onclick=\"footnote_expand_collapse_reference_container_15276_1();\">[<a id=\"footnote_reference_container_collapse_button_15276_1\">+<\/a>]<\/span><\/p><\/div> <div id=\"footnote_references_container_15276_1\" style=\"\"><table class=\"footnotes_table footnote-reference-container\"><caption class=\"accessibility\">Catatan Kaki:<\/caption> <tbody> \r\n\r\n<tr class=\"footnotes_plugin_reference_row\"> <th scope=\"row\" class=\"footnote_plugin_index_combi pointer\"  onclick=\"footnote_moveToAnchor_15276_1('footnote_plugin_tooltip_15276_1_1');\"><a id=\"footnote_plugin_reference_15276_1_1\" class=\"footnote_backlink\"><span class=\"footnote_index_arrow\">&#8593;<\/span>1<\/a><\/th> <td class=\"footnote_plugin_text\">Pinontoan Deny, Disko Tanah, Kelung : 2009<\/td><\/tr>\r\n\r\n <\/tbody> <\/table> <\/div><\/div><script type=\"text\/javascript\"> function footnote_expand_reference_container_15276_1() { jQuery('#footnote_references_container_15276_1').show(); jQuery('#footnote_reference_container_collapse_button_15276_1').text('\u2212'); } function footnote_collapse_reference_container_15276_1() { jQuery('#footnote_references_container_15276_1').hide(); jQuery('#footnote_reference_container_collapse_button_15276_1').text('+'); } function footnote_expand_collapse_reference_container_15276_1() { if (jQuery('#footnote_references_container_15276_1').is(':hidden')) { footnote_expand_reference_container_15276_1(); } else { footnote_collapse_reference_container_15276_1(); } } function footnote_moveToReference_15276_1(p_str_TargetID) { footnote_expand_reference_container_15276_1(); var l_obj_Target = jQuery('#' + p_str_TargetID); if (l_obj_Target.length) { jQuery( 'html, body' ).delay( 0 ); jQuery('html, body').animate({ scrollTop: l_obj_Target.offset().top - window.innerHeight * 0.2 }, 380); } } function footnote_moveToAnchor_15276_1(p_str_TargetID) { footnote_expand_reference_container_15276_1(); var l_obj_Target = jQuery('#' + p_str_TargetID); if (l_obj_Target.length) { jQuery( 'html, body' ).delay( 0 ); jQuery('html, body').animate({ scrollTop: l_obj_Target.offset().top - window.innerHeight * 0.2 }, 380); } }<\/script>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Satria Yanuar Akbar, North Celebes Creative Lab (NCCL) Ampa Wayer adalah seni tari yang lahir pada masa perang dunia kedua, tepat setelah akhir pendudukan Jepang di Indonesia. Ia merupakan adaptasi dan perpaduan kesenian Eropa dengan kesenian Kepulauan Sangihe, pulau terdepan Indonesia.\u00a0 Secara etimologi, Ampa Wayer berarti \u201cEmpat Baling-baling\u201d. Penamaan ini diambil tatkala para seniman [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":29,"featured_media":13842,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[419],"tags":[],"coauthors":[],"class_list":["post-15276","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized-en"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.7 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ampa Wayer, Disko Tanah, dan Kebebasan Berkesenian di Sulawesi Utara - Koalisi Seni<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ampa Wayer, Disko Tanah, dan Kebebasan Berkesenian di Sulawesi Utara - Koalisi Seni\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Koalisi Seni\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-05-28T11:39:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image2-e1622202328488.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"641\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"229\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Koalisi Seni\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Koalisi Seni\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/\"},\"author\":{\"name\":\"Koalisi Seni\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/a815874ce5c50d0e5524daf3ac21e942\"},\"headline\":\"Ampa Wayer, Disko Tanah, dan Kebebasan Berkesenian di Sulawesi Utara\",\"datePublished\":\"2021-05-28T11:39:13+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/\"},\"wordCount\":878,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image2-e1622202328488.png\",\"articleSection\":[\"Uncategorized @en\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/\",\"name\":\"Ampa Wayer, Disko Tanah, dan Kebebasan Berkesenian di Sulawesi Utara - Koalisi Seni\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image2-e1622202328488.png\",\"datePublished\":\"2021-05-28T11:39:13+00:00\",\"description\":\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image2-e1622202328488.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image2-e1622202328488.png\",\"width\":641,\"height\":229,\"caption\":\"Iringan Kue Tamo dan Tari Ampe Wayer dalam Upacara Adat TULUDE\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ampa Wayer, Disko Tanah, dan Kebebasan Berkesenian di Sulawesi Utara\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"description\":\"Untuk kebijakan ekosistem seni lebih baik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png\",\"width\":3200,\"height\":3200,\"caption\":\"Koalisi Seni\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/a815874ce5c50d0e5524daf3ac21e942\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/image\/7ddff061b6bd383d5224662dd5bd9f16\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/839734f3ed3b1b4d8e057ed712c7b18ca30620f92d29c1701bcce6e3e4cf9fb8?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/839734f3ed3b1b4d8e057ed712c7b18ca30620f92d29c1701bcce6e3e4cf9fb8?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Koalisi Seni\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/koalisiseni.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/author\/koalisiseni\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ampa Wayer, Disko Tanah, dan Kebebasan Berkesenian di Sulawesi Utara - Koalisi Seni","description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ampa Wayer, Disko Tanah, dan Kebebasan Berkesenian di Sulawesi Utara - Koalisi Seni","og_description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","og_url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/","og_site_name":"Koalisi Seni","article_published_time":"2021-05-28T11:39:13+00:00","og_image":[{"width":641,"height":229,"url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image2-e1622202328488.png","type":"image\/png"}],"author":"Koalisi Seni","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Koalisi Seni","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/"},"author":{"name":"Koalisi Seni","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/a815874ce5c50d0e5524daf3ac21e942"},"headline":"Ampa Wayer, Disko Tanah, dan Kebebasan Berkesenian di Sulawesi Utara","datePublished":"2021-05-28T11:39:13+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/"},"wordCount":878,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image2-e1622202328488.png","articleSection":["Uncategorized @en"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/","name":"Ampa Wayer, Disko Tanah, dan Kebebasan Berkesenian di Sulawesi Utara - Koalisi Seni","isPartOf":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image2-e1622202328488.png","datePublished":"2021-05-28T11:39:13+00:00","description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#primaryimage","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image2-e1622202328488.png","contentUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image2-e1622202328488.png","width":641,"height":229,"caption":"Iringan Kue Tamo dan Tari Ampe Wayer dalam Upacara Adat TULUDE"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/ampa-wayer-disko-tanah-dan-kebebasan-berkesenian-di-sulawesi-utara\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ampa Wayer, Disko Tanah, dan Kebebasan Berkesenian di Sulawesi Utara"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/","name":"Koalisi Seni","description":"Untuk kebijakan ekosistem seni lebih baik","publisher":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization","name":"Koalisi Seni","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png","contentUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png","width":3200,"height":3200,"caption":"Koalisi Seni"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/a815874ce5c50d0e5524daf3ac21e942","name":"Koalisi Seni","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/image\/7ddff061b6bd383d5224662dd5bd9f16","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/839734f3ed3b1b4d8e057ed712c7b18ca30620f92d29c1701bcce6e3e4cf9fb8?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/839734f3ed3b1b4d8e057ed712c7b18ca30620f92d29c1701bcce6e3e4cf9fb8?s=96&d=mm&r=g","caption":"Koalisi Seni"},"sameAs":["https:\/\/koalisiseni.or.id"],"url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/author\/koalisiseni\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15276","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/29"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15276"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15276\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13842"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15276"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15276"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15276"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=15276"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}