{"id":15297,"date":"2020-12-22T17:27:51","date_gmt":"2020-12-22T10:27:51","guid":{"rendered":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/"},"modified":"2020-12-22T17:27:51","modified_gmt":"2020-12-22T10:27:51","slug":"tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/","title":{"rendered":"Tiga Perempuan untuk Ekosistem Seni yang Setara"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari tahun ke tahun, angka kekerasan terhadap perempuan terus meningkat. Sementara, Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) hingga kini tak juga disahkan. Semua sektor, termasuk seni, belum menjadi ruang aman bagi perempuan. Di tengah kondisi mendesak ini, sejumlah perempuan anggota Koalisi Seni bergerak mengupayakan kesetaraan bagi perempuan melalui musik, sastra, dan kolektif seni. Tiga di antaranya adalah Kartika Jahja (Jakarta), Lily Yulianti Farid (Makassar), dan Rahmadiyah Tria Gayathri (Palu).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak 2013, musisi dan aktivis kesetaraan gender Kartika Jahja mulai fokus pada isu perempuan. Meski tak mengalami secara langsung, ia mengamati cara seni dan industri musik pada khususnya, masih diskriminatif pada perempuan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-12279 aligncenter\" src=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/kartika-jahja-1-650x313.png\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"313\" srcset=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/kartika-jahja-1-650x313.png 650w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/kartika-jahja-1-1024x493.png 1024w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/kartika-jahja-1-768x370.png 768w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/kartika-jahja-1-600x289.png 600w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/kartika-jahja-1.png 1350w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKetimpangan gender itu ada di depan mata. Pola pikir patriarkis membuat banyak orang menganggap itu bukan masalah, tapi setelah ditanya lagi baru sadar, oh iya, itu pelecehan ya? Itu kekerasan ya?\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Tika, seksisme, pelecehan, kekerasan, hingga standar kecantikan yang tak realistis masih langgeng dalam industri musik arus utama. Ia berbagi pengalamannya saat menjadi juri di salah satu kompetisi musik. Pelecehan verbal dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">male gaze <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pada kontestan perempuan tak terhindarkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMereka melecehkan perempuan dengan komentarnya dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngotot<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memilih peserta perempuan yang dianggap seksi. Pengambil keputusan masih diisi oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">gembong<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> laki-laki yang patriarkis,\u201d kata peraih Tokoh Seni Musik Pilihan Majalah Tempo 2009 ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berangkat dari pengalaman dan keresahan akan diskriminasi terhadap perempuan, Tika membentuk sejumlah kolektif untuk mengedukasi publik tentang kekerasan gender melalui seni, musik, dan budaya pop dalam Yayasan Bersama Project,\u00a0 Ruang Selatan, dan Mari Jeung Rebut Kembali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, di dunia sastra ada Lily Yulianti Farid, penulis sekaligus penggagas Rumata\u2019 Art Space dan Makassar International Writers Festival (MIWF). Ia mengaku tak nyaman dengan candaan seksis yang sering dilontarkan laki-laki penulis saat berkumpul, baik secara luring maupun daring.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-12274 aligncenter\" src=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/lily-yulianty-farid-650x313.png\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"313\" srcset=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/lily-yulianty-farid-650x313.png 650w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/lily-yulianty-farid-1024x493.png 1024w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/lily-yulianty-farid-768x370.png 768w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/lily-yulianty-farid-600x289.png 600w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/lily-yulianty-farid.png 1350w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMemang tidak semua ya, tapi ini kerap saya alami. Padahal mestinya sebagai penulis dan seniman, mereka ini yang harus menunjukkan sikap tidak seksis,\u201d ucap Lily.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut mantan jurnalis yang mengambil studi master bidang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gender and Development<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini, masih banyak pekerjaan rumah pegiat sastra untuk menciptakan eksosistem yang setara. Masih minimnya pelatihan penulisan dan penerjemahan karya perempuan, menurut Lily, adalah beberapa penyebab yang membuat kapasitas dan kesempatan perempuan masih tertinggal dibanding laki-laki penulis. Selain itu, belum memadainya pendataan gender dalam penerbitan dan acara sastra membuat ketimpangan ini seringkali tak terlihat dan teratasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Identifikasi atas ketimpangan gender yang ia amati mendorong Lily menerapkan prinsip keberagaman gender dalam <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">MIWF.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Dengan itu, gagasan sastra yang muncul menjadi lebih beragam dan mewakili aneka sudut pandang. Bahkan dalam program Lintas Laut, Lily mengupayakan residensi khusus untuk perempuan penulis asal Indonesia Timur dan Australia Barat, bekerja sama dengan Centre for Stories, Perth.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKesadaran akan kesetaraan dan keterwakilan perempuan menjadi prinsip kerja kami. Relawan MIWF pun 80 persen perempuan. Ini pemihakan yang jelas,\u201d tuturnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lily berharap penyelenggara festival sastra pada masa mendatang menjadikan isu feminisme dan keadilan gender sebagai bagian terpadu dalam kerja dan program. Menurutnya, hal tersebut penting untuk menyudahi diskriminasi berbasis gender di dunia sastra.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Palu, Sulawesi Tengah, Rahmadiyah Tria Gayathri bercerita soal keberuntungannya ada di dalam Forum Sudut Pandang, kolektif seni yang menjujung nilai kesetaraan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-12272 aligncenter\" src=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/untitled-design-1-650x313.png\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"313\" srcset=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/untitled-design-1-650x313.png 650w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/untitled-design-1-1024x493.png 1024w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/untitled-design-1-768x370.png 768w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/untitled-design-1-600x289.png 600w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/untitled-design-1.png 1350w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebagai satu-satunya perempuan pendiri kolektif ini, saya memiliki privilese dalam bekerja, juga mendapat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">support<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan perlindungan dari rekan. Saya sebagai perempuan memiliki posisi tawar setara,\u201d ujar seniman lintas media yang akrab disapa Ama itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, jika bicara ekosistem seni secara umum, Ama memberi rapor merah. Ia berpendapat perempuan masih sering ditempatkan pada posisi domestik dan manajerial dalam kelompok. Hal ini membuat lelaki mendominasi kesempatan untuk mengembangkan diri di bidang lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bersama Forum Sudut Pandang, Ama berupaya menggunakan lensa keadilan gender dalam karyanya. Misalnya, dalam film dokumenter untuk kampanye pengesahan RUU PKS yang baru mereka rampungkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDalam proyek itu, semua kru yang bekerja adalah perempuan. Ini mungkin bisa menjadi contoh bagaimana kami mencoba mengelaborasikan kerja-kerja yang dianggap maskulin agar dikerjakan dengan kesadaran gender,\u201d ucapnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui masing-masing inisiatif, tiga perempuan dari tiga skena seni dan daerah yang berbeda ini punya cita-cita yang sama, yaitu terbukanya kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan diri. Kesadaran akan diskriminasi berbasis gender dan lenyapnya logika patriarki jadi hal penting untuk mewujudkan ekosistem seni yang setara bagi semua. (Dian Putri)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari tahun ke tahun, angka kekerasan terhadap perempuan terus meningkat. Sementara, Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) hingga kini tak juga disahkan. Semua sektor, termasuk seni, belum menjadi ruang aman bagi perempuan. Di tengah kondisi mendesak ini, sejumlah perempuan anggota Koalisi Seni bergerak mengupayakan kesetaraan bagi perempuan melalui musik, sastra, dan kolektif seni. Tiga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":29,"featured_media":13682,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[419],"tags":[],"coauthors":[],"class_list":["post-15297","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized-en"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.7 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Tiga Perempuan untuk Ekosistem Seni yang Setara - Koalisi Seni<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tiga Perempuan untuk Ekosistem Seni yang Setara - Koalisi Seni\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Koalisi Seni\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-12-22T10:27:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/feature-images-web-2-01-1-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1440\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Koalisi Seni\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Koalisi Seni\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/\"},\"author\":{\"name\":\"Koalisi Seni\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/a815874ce5c50d0e5524daf3ac21e942\"},\"headline\":\"Tiga Perempuan untuk Ekosistem Seni yang Setara\",\"datePublished\":\"2020-12-22T10:27:51+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/\"},\"wordCount\":677,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/feature-images-web-2-01-1-scaled.jpg\",\"articleSection\":[\"Uncategorized @en\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/\",\"name\":\"Tiga Perempuan untuk Ekosistem Seni yang Setara - Koalisi Seni\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/feature-images-web-2-01-1-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2020-12-22T10:27:51+00:00\",\"description\":\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/feature-images-web-2-01-1-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/feature-images-web-2-01-1-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1440},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tiga Perempuan untuk Ekosistem Seni yang Setara\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"description\":\"Untuk kebijakan ekosistem seni lebih baik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png\",\"width\":3200,\"height\":3200,\"caption\":\"Koalisi Seni\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/a815874ce5c50d0e5524daf3ac21e942\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/image\/7ddff061b6bd383d5224662dd5bd9f16\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/839734f3ed3b1b4d8e057ed712c7b18ca30620f92d29c1701bcce6e3e4cf9fb8?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/839734f3ed3b1b4d8e057ed712c7b18ca30620f92d29c1701bcce6e3e4cf9fb8?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Koalisi Seni\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/koalisiseni.or.id\"],\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/author\/koalisiseni\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tiga Perempuan untuk Ekosistem Seni yang Setara - Koalisi Seni","description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Tiga Perempuan untuk Ekosistem Seni yang Setara - Koalisi Seni","og_description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","og_url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/","og_site_name":"Koalisi Seni","article_published_time":"2020-12-22T10:27:51+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1440,"url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/feature-images-web-2-01-1-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Koalisi Seni","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Koalisi Seni","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/"},"author":{"name":"Koalisi Seni","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/a815874ce5c50d0e5524daf3ac21e942"},"headline":"Tiga Perempuan untuk Ekosistem Seni yang Setara","datePublished":"2020-12-22T10:27:51+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/"},"wordCount":677,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/feature-images-web-2-01-1-scaled.jpg","articleSection":["Uncategorized @en"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/","name":"Tiga Perempuan untuk Ekosistem Seni yang Setara - Koalisi Seni","isPartOf":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/feature-images-web-2-01-1-scaled.jpg","datePublished":"2020-12-22T10:27:51+00:00","description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#primaryimage","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/feature-images-web-2-01-1-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/12\/feature-images-web-2-01-1-scaled.jpg","width":2560,"height":1440},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/tiga-perempuan-untuk-ekosistem-seni-yang-setara\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tiga Perempuan untuk Ekosistem Seni yang Setara"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/","name":"Koalisi Seni","description":"Untuk kebijakan ekosistem seni lebih baik","publisher":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization","name":"Koalisi Seni","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png","contentUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png","width":3200,"height":3200,"caption":"Koalisi Seni"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/a815874ce5c50d0e5524daf3ac21e942","name":"Koalisi Seni","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/image\/7ddff061b6bd383d5224662dd5bd9f16","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/839734f3ed3b1b4d8e057ed712c7b18ca30620f92d29c1701bcce6e3e4cf9fb8?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/839734f3ed3b1b4d8e057ed712c7b18ca30620f92d29c1701bcce6e3e4cf9fb8?s=96&d=mm&r=g","caption":"Koalisi Seni"},"sameAs":["https:\/\/koalisiseni.or.id"],"url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/author\/koalisiseni\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15297","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/29"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15297"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15297\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13682"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15297"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15297"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15297"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=15297"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}