{"id":15381,"date":"2019-04-05T11:35:07","date_gmt":"2019-04-05T04:35:07","guid":{"rendered":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/"},"modified":"2019-04-05T11:35:07","modified_gmt":"2019-04-05T04:35:07","slug":"jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/","title":{"rendered":"Jatiwangi art Factory: Hidup Bergembira dari Tanah Liat"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Genting adalah Jatiwangi, dan Jatiwangi adalah genting. <\/span><\/em><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah puluhan tahun warga kecamatan di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tersebut menggantungkan hidupnya pada ratusan pabrik genting, yang dikenal sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">jebor<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam istilah setempat. Krisis moneter 1998 membuat industri genting merosot, perekonomian lokal melemah, dan masyarakat kehilangan kegembiraannya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMasalahnya, dulu mereka baru bergembira saat dapat uang dari menjual genting. Kami ingin mengajak masyarakat bergembira dan bangga bukan hanya dari hasil penjualan. Tapi dari identitas mereka sebagai orang yang berkarya dan melindungi jutaan manusia yang bernaung di bawah gentingnya,\u201d ujar Arief Yudi Rahman, seniman yang lahir dan tumbuh di Jatiwangi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2005, ia menggagas Jatiwangi art Factory (JaF) bersama istrinya, Loranita Theo, adiknya, Ginggi Syarief Hasyim, serta Deden Imanudin dan Ketut Aminudin. Mereka sepakat menggunakan seni untuk mengembalikan kegembiraan warga Jatiwangi. \u201cSeni menangkap dan menajamkan apa yang ada dalam keseharian. Ia menyumbang tafsir dan rasa pada apa yang dilakukan setiap hari. Maka kita bisa gembira dan berumur panjang karena tidak terpaku pada rutinitas,\u201d ucap Arief.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para inisiator menjadikan JaF sebagai organisasi sosial berupa ruang kreatif seni budaya yang memberdayakan kehidupan pedesaan dan menyelesaikan konflik masyarakat. Bekas pabrik genting milik keluarga Arief direnovasi menjadi ruang seni berjudul Jebor Hall sebagai pusat kegiatan JaF.<\/span><\/p>\n<p><b>Festival Sebagai Fondasi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan JaF sangat beragam, namun awal dan tulang punggungnya adalah serangkaian festival yang melibatkan seniman dan warga. Dalam tiga festival berbeda, seniman nusantara dan mancanegara bermukim di salah satu rumah warga di 16 desa di Jatiwangi, berinteraksi dengan penduduk, berkolaborasi dalam karya seni, lalu menampilkannya bersama-sama. Konsep tamu-tuan rumah ini bermaksud menembus batas-batas praktik seni dan mendorong penciptaan karya yang merefleksikan ide, tradisi, dan isu dari komunitas lokal, dipadukan dengan ide dan praktik artistik seniman mukiman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Festival Residensi Jatiwangi dilaksanakan setiap tahun dengan fokus pada seni kontemporer. Awalnya bernama Jatiwangi International Performing Arts-in-Residence Festival, perhelatan ini pertama kali diadakan pada 2006. \u201cSeniman luar tertarik karena mereka lihat ada seni kontemporer bisa masuk ke warga biasa tanpa pengetahuan seni. Ini berbeda dengan menampilkan karya di galeri seni, yang hadirinnya memiliki pengetahuan seni dan bisa membaca karya mereka,\u201d tutur Arief.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bekerja sama dengan Sunday Screen, kelompok pembuat video dari Bandung, JaF menyelenggarakan Festival Video Desa tiap dua tahun. Residensi dilakukan selama dua pekan, saat pembuat video berkolaborasi dengan penduduk dan aparat desa. Dalam prosesnya, penduduk dilatih memetakan masalah dan kejadian sehari-hari. Video yang mendokumentasikan kehidupan desa lantas diputar dalam acara pada akhir festival.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pula Festival Musik Keramik yang diadakan setiap tiga tahun. Seperti namanya, perhelatan ini berfokus pada musik yang terbuat dari keramik, olahan tanah liat. Acara ini menggali dan menggunakan lagi beragam alat musik keramik tradisional yang sempat hilang dari masyarakat. \u201cWaktu saya kecil, banyak orang memainkan suling tanah. Ini kemudian hilang, tapi digali kembali dan kami malah belajar dari Youtube,\u201d kata Arief. \u201cKami juga belajar dari internet, bagaimana cara menggunakan genting sebagai perkusi dan memaksimalkan bunyinya, jadi seperti gamelan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada penyelenggaraan pertamanya tahun 2012, festival dibuka dengan lebih dari 1.500 orang menabuh genting yang menghasilkan irama rancak. Pada 2015, jumlah penabuh genting melonjak menjadi lebih dari 5.000 orang. Dalam festival ketiga yang akan diadakan November 2018, diperkirakan jumlahnya akan bertambah lebih banyak lagi.<\/span><\/p>\n<p><b>Dari Forum hingga Museum<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sela-sela festival, JaF melaksanakan beragam kegiatan. Forum 27an, misalnya, adalah serial diskusi bulanan yang diadakan setiap tanggal 27. Selain penanda tanggal, nama acara ini mengandung arti lain, yakni forum untuk mencapai dua tujuan. Pertama, menyelesaikan masalah, dan kedua, menyasar ke dalam diri sebagai sebentuk introspeksi. Dalam forum, semua warga Jatiwangi bisa datang untuk mengobrolkan pikiran, ide, dan pendekatan dalam berbagai bidang. Tak cuma seni yang dibahas, masalah ekonomi, pendidikan, dan politik juga sering muncul. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk anak muda, ada Apamart, ajang berupa pasar bulanan. Acara ini dimaksudkan agar anak muda mengembangkan pengetahuan dagang dan menyebarkan jaringan pertemanan secara langsung. Uniknya, alat pembayaran Apamart berupa uang koin dari tanah. Selain gerai pedagang, Apamart juga diisi pentas musik dan lokakarya untuk remaja. Beda lagi untuk anak-anak. JaF rutin mengunjungi sekolah-sekolah di Jatiwangi untuk menggelar lokakarya pembuatan keramik. Anak-anak kelas 3 hingga 6 SD menjadi pesertanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bidang audiovisual, ada televisi komunitas bertajuk JaF TV, yang menayangkan informasi relevan untuk warga Jatiwangi. Acara disiarkan selama sekitar enam jam tiap hari, terdiri atas program berita, hiburan, pendidikan, dan acara anak-anak. Ada pula JaF Radio, yang jangkauan pancaran sinyalnya mencapai radius 50 km. Dengan pengantar bahasa Sunda, bahasa ibu penduduk Jatiwangi, radio ini mengeksplorasi isu-isu lokal dan kerap mengadakan acara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">off-air <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">untuk menjalin hubungan dengan pendengarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun Bakar Berjamaah ialah perhelatan khusus sebelum Festival Musik Keramik. Dalam acara ini, ribuan suling tanah, yang dibuat bersama-sama oleh para warga, dibakar agar bisa digunakan saat festival berlangsung. Menyertai pembakaran, diadakan juga pengajian sebagai wujud syukur sekaligus doa demi kelancaran acara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada September 2018, JaF meresmikan Museum Kebudayaan Tanah untuk melestarikan aset kebudayaan yang berkaitan dengan tanah. \u201cMuseum ini tidak hanya untuk menyimpan kenang-kenangan masa lalu, tapi juga untuk membuat kenang-kenangan masa depan. Tidak hanya karya JaF yang bisa disimpan di museum ini, tapi juga karya tentang kebudayaan tanah lainnya,\u201d tutur Ginggi.<\/span><\/p>\n<p><b>Saat Masyarakat Terlibat<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">JaF berdiri dengan gagasan untuk membuat warga desa mengalami kenikmatan berkesenian\u2014yang melekat alamiah dengan kenikmatan berpikir, berpendapat, mengenal, dan menganalisis diri. Warga adalah unsur mutlak dalam seluruh rangkaian kegiatan JaF. Awalnya, tim JaF berinisiatif mengundang seniman luar untuk bermukim di desa. Untuk melibatkan warga, JaF mengadakan pertemuan di semua desa di Jatiwangi dan berunding. Warga ditawari, apakah bersedia menyediakan sepiring ekstra nasi dan lauk pauk untuk para seniman yang bermukim; atau meminjamkan rumahnya menjadi tempat pameran karya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAwalnya, warga ada yang mengerti dan percaya, ada juga yang curiga. Kami percaya dengan konsistensi, jadi terus melakukan kegiatan meski responsnya berbeda-beda,\u201d ucap Ginggi. Perlahan warga sadar bahwa Jatiwangi bisa dikunjungi dan menjadi menarik untuk orang luar. Neng, salah satu penduduk Jatiwangi, mengaku senang rumahnya menjadi ruang pamer karya seni. \u201cKalau ada yang datang, suami saya akan berusaha menjelaskan makna lukisan yang dipamerkan, menurut pemahamannya,\u201d ucap Neng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem ruang pamer ini serupa galeri seni profesional. \u201cKalau terjual, warga pemilik rumah akan mendapat 15 persen. Karya ditaruh di rumah mereka sesuai waktu pelaksanaan pameran, kadang dua minggu, kadang sebulan. Kami sesuaikan karakteristik seniman dan tuan rumah, tidak asal meletakkan karya,\u201d kata Ginggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makin lama, antusiasme warga maupun seniman untuk terlibat makin tinggi. Mulai dari anak-anak, guru, pekerja pabrik genting, hingga aparat polisi dan militer ikut serta. Mereka menjadi panitia, kolaborator, dan penampil dari beragam rangkaian acara yang digadang JaF. \u201cSampai saya nggak kebagian tempat, semua sudah dikerjakan banyak orang. Saya mulai bingung mau apa lagi,\u201d kata Arief sembari tertawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari segi dana, nyaris semua aspek JaF dibiayai secara swadaya, baik oleh warga maupun seniman. Sebagian kecil didapat dari pemerintah, misalnya renovasi Jebor Hall, dengan dana dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), dan program Belajar Bersama Maestro, dengan dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesuksesan JaF mendatangkan kegembiraan bagi warganya dan menarik perhatian banyak orang, baik seniman, media massa, maupun warga kecamatan lain. Menurut Arief, beberapa kecamatan di sekeliling Jatiwangi ingin belajar bagaimana cara menghadirkan hal serupa. Namun, katanya, mereka tidak sabar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cRata-rata mereka ingin kita bikin panggung, dan [membuat] orang datang, bukan program berdasarkan masalah daerah masing-masing. Padahal program [JaF] tujuannya berkumpul, menyelesaikan konflik, memiliki kesepakatan dengan visi daerahnya. Bukan hanya ingin orang luar datang berwisata. Kemewahan daerah harus lebih dulu dinikmati oleh warga lokal,\u201d tutur Arief.<\/span><\/p>\n<p><b>Terakota Sebagai Identitas<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-8983\" src=\"http:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Untitled3.png\" alt=\"\" width=\"834\" height=\"480\" data-id=\"8983\" \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak JaF berdiri, Jatiwangi telah banyak berubah. Pembangunan bandara internasional Kertajati dan banyak pabrik mengubah kecamatan tersebut. Makin banyak pabrik genting tutup, tanahnya dijual ke pabrik, sedangkan pekerjanya pindah ke pabrik garmen atau manufaktur lain di sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Arief menilai perubahan tersebut sesungguhnya menghambat mobilitas sosial-ekonomi warga. Dulu saat bekerja di pabrik genting, mereka bisa belajar segala aspek produksi genting kemudian membuka pabrik sendiri. Jika bekerja di pabrik garmen, misalnya, mereka hanya bisa terampil dalam satu hal, misal memotong pola atau menjahit. Modal peralatan juga sangat mahal. Bisa dibilang tak mungkin mereka bisa membuka pabrik garmen sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimanapun, perubahan adalah keniscayaan. Meski belum ada dampak sosial buruk yang kentara dari perubahan di Jatiwangi, JaF berupaya memitigasi dengan mencoba jalur kolaborasi. \u201cKami mulai bekerja sama dengan banyak pabrik, melibatkan mereka agar pemilik pabrik tahu apa yang kami lakukan. Lalu, bersama-sama berusaha mengatasi masalah sosial dari perubahan ini,\u201d ucap Arief.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">JaF berniat menjadikan Jatiwangi sebagai Kota Terakota. Ini upaya mempertahankan tanah liat agar tetap relevan dalam keseharian warga. Caranya, misalnya, dengan merevitalisasi sejumlah jebor, dan menata kecamatan itu sedemikian rupa agar dipenuhi olahan tanah liat, baik dalam bentuk genting, ubin, atau dekorasi lainnya. Monumen terakota pun rencananya dipasang di titik nol Jatiwangi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBeberapa teman saya sudah menawarkan untuk membantu merancang tata kotanya. Lucu juga, banyak sekali orang ingin terlibat padahal ini nggak ada uangnya,\u201d kata Arief berseloroh. Ia juga mengungkapkan, dukungan yang paling dibutuhkan JaF adalah peningkatan kapasitas organisasi. Khususnya, bagaimana fokus pada satu titik atau misi menjadi napas semua kegiatan JaF. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama 15 tahun berdiri, JaF terus-menerus berkegiatan sehingga belum sempat membuat evaluasi menyeluruh terhadap organisasi dan cara kerjanya. Jika evaluasi itu bisa dilakukan, maka JaF akan lebih memahami kebutuhannya dan bagaimana cara memenuhinya. Dengan begitu, JaF bisa terus membantu warga memenuhi ikrar untuk menghormati karya leluhur dan berinovasi demi mewariskannya pada generasi mendatang\u2014membuat kohesi sosial Jatiwangi makin erat. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lirik lagu Baraya yang diciptakan warga dengan iringan musik tanah liat ini seolah mewakili visi JaF: \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jatiwangi tanah nu urang \/ Geura jaga budaya bangsa \/ Nu endah tur matak betah \/ Warisan keur anak urang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u201d (Jatiwangi, tanah kita. Mari menjaga budaya bangsa yang indah, yang membuat kita betah. Sebagai warisan untuk anak kita.)<\/span><\/p>\n<p><em>*Artikel &#8220;Hidup Bergembira dari Tanah Liat&#8221; merupakan bagian dari buku Dampak Seni di Masyarakat terbitan Koalisi Seni Indonesia. Buku bisa dibeli dengan mengirimkan surel ke <a href=\"mailto:sekretariat@koalisiseni.or.id\">sekretariat@koalisiseni.or.id<\/a>.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Genting adalah Jatiwangi, dan Jatiwangi adalah genting. Sudah puluhan tahun warga kecamatan di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tersebut menggantungkan hidupnya pada ratusan pabrik genting, yang dikenal sebagai jebor dalam istilah setempat. Krisis moneter 1998 membuat industri genting merosot, perekonomian lokal melemah, dan masyarakat kehilangan kegembiraannya. \u201cMasalahnya, dulu mereka baru bergembira saat dapat uang dari menjual [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13044,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[419],"tags":[],"coauthors":[],"class_list":["post-15381","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized-en"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.7 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Jatiwangi art Factory: Hidup Bergembira dari Tanah Liat - Koalisi Seni<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Jatiwangi art Factory: Hidup Bergembira dari Tanah Liat - Koalisi Seni\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Koalisi Seni\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-04-05T04:35:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/untitled.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"995\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"664\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Koalisi Seni Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Koalisi Seni Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/\"},\"author\":{\"name\":\"Koalisi Seni Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/1169383ccc6b34cf2590eb14d5535e04\"},\"headline\":\"Jatiwangi art Factory: Hidup Bergembira dari Tanah Liat\",\"datePublished\":\"2019-04-05T04:35:07+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/\"},\"wordCount\":1581,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/untitled.png\",\"articleSection\":[\"Uncategorized @en\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/\",\"name\":\"Jatiwangi art Factory: Hidup Bergembira dari Tanah Liat - Koalisi Seni\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/untitled.png\",\"datePublished\":\"2019-04-05T04:35:07+00:00\",\"description\":\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/untitled.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/untitled.png\",\"width\":995,\"height\":664},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Jatiwangi art Factory: Hidup Bergembira dari Tanah Liat\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"description\":\"Untuk kebijakan ekosistem seni lebih baik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png\",\"width\":3200,\"height\":3200,\"caption\":\"Koalisi Seni\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/1169383ccc6b34cf2590eb14d5535e04\",\"name\":\"Koalisi Seni Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/image\/ff9277301922930e30f04bdcf15f4fe7\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/28dff173e8e7a3d5d9a84556c0418905bec470171c1230efce01fe9b775cdf00?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/28dff173e8e7a3d5d9a84556c0418905bec470171c1230efce01fe9b775cdf00?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Koalisi Seni Indonesia\"},\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/author\/koalisiseniindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Jatiwangi art Factory: Hidup Bergembira dari Tanah Liat - Koalisi Seni","description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Jatiwangi art Factory: Hidup Bergembira dari Tanah Liat - Koalisi Seni","og_description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","og_url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/","og_site_name":"Koalisi Seni","article_published_time":"2019-04-05T04:35:07+00:00","og_image":[{"width":995,"height":664,"url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/untitled.png","type":"image\/png"}],"author":"Koalisi Seni Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Koalisi Seni Indonesia","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/"},"author":{"name":"Koalisi Seni Indonesia","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/1169383ccc6b34cf2590eb14d5535e04"},"headline":"Jatiwangi art Factory: Hidup Bergembira dari Tanah Liat","datePublished":"2019-04-05T04:35:07+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/"},"wordCount":1581,"publisher":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/untitled.png","articleSection":["Uncategorized @en"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/","name":"Jatiwangi art Factory: Hidup Bergembira dari Tanah Liat - Koalisi Seni","isPartOf":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/untitled.png","datePublished":"2019-04-05T04:35:07+00:00","description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#primaryimage","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/untitled.png","contentUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/untitled.png","width":995,"height":664},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/jatiwangi-art-factory-hidup-bergembira-dari-tanah-liat\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Jatiwangi art Factory: Hidup Bergembira dari Tanah Liat"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/","name":"Koalisi Seni","description":"Untuk kebijakan ekosistem seni lebih baik","publisher":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization","name":"Koalisi Seni","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png","contentUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png","width":3200,"height":3200,"caption":"Koalisi Seni"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/1169383ccc6b34cf2590eb14d5535e04","name":"Koalisi Seni Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/image\/ff9277301922930e30f04bdcf15f4fe7","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/28dff173e8e7a3d5d9a84556c0418905bec470171c1230efce01fe9b775cdf00?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/28dff173e8e7a3d5d9a84556c0418905bec470171c1230efce01fe9b775cdf00?s=96&d=mm&r=g","caption":"Koalisi Seni Indonesia"},"url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/author\/koalisiseniindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15381","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15381"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15381\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13044"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15381"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15381"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15381"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=15381"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}