{"id":15386,"date":"2019-03-24T20:30:11","date_gmt":"2019-03-24T13:30:11","guid":{"rendered":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/"},"modified":"2019-03-24T20:30:11","modified_gmt":"2019-03-24T13:30:11","slug":"mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/","title":{"rendered":"Mari Berbagi Seni: Memantik Pikiran Kritis Lewat Seni"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Kajian Komisi Nasional Perlindungan Anak pada 2017 membuat banyak orang terperanjat. Kini kebencian dan sikap diskriminatif terbukti menjangkiti lingkungan sekolah.<\/em> <\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebanyak 79% anak-anak yang disurvei dalam kajian itu mempertimbangkan agama dalam memilih teman. Selain itu, anak terpapar ajakan kebencian oleh orang dewasa yang melibatkan mereka ke dalam kegiatan politik. Tak heran kalau remaja ikut terpeleset menyebar hoax alias kabar bohong dan intoleransi di dunia maya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu tak semuanya bernasib seperti seorang pelajar berusia 18 tahun di Sukabumi, yang harus berurusan dengan polisi akibat menyebarkan hoax tentang penyerangan pemuka agama melalui akun media sosialnya. Namun, kondisi seperti ini memicu keprihatinan seiring dengan semakin terjangkaunya telepon seluler dan kuota internet yang diikuti dengan peningkatan penggunaan media sosial. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada Januari 2018, hanya dalam waktu setahun, pengguna media sosial di Indonesia tercatat meroket 23% menjadi 130 juta orang.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Lonjakan itu berarti kini 49% atau hampir separuh populasi nusantara aktif memakai media sosial. Sayangnya, meluasnya penetrasi media sosial dan pemakaian internet belum diiringi kemampuan berpikir kritis\u2014termasuk di kalangan remaja, yang setidaknya 23 juta orang di antaranya getol bermedia sosial. Ini membuat remaja mudah menjadi korban hoax dan ujaran kebencian yang cenderung merajalela setiap musim pemilihan umum. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lestia Primayanti dan Tita Djumaryo, pendiri lembaga pendidikan seni Ganara Art, bertekad melakukan sesuatu. Sejak 2017, mereka menggagas kegiatan bertajuk Mari Berbagi Seni. Kini tak kurang dari 1.700 remaja dari 5 SMK dan SMA di Makassar, Tangerang Selatan, dan Bogor telah terlibat dalam inisiatif ini. \u201cKami ingin menciptakan kegiatan yang meningkatkan sikap berpikir kritis dan mendukung inklusi sosial. Seni kami jadikan mediumnya,\u201d ujar Lestia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam Mari Berbagi Seni (MBS), seni menjadi kendaraan untuk berdiskusi dan membiasakan peserta terhadap sudut pandang berbeda-beda. Dengan seni, peserta disentuh untuk belajar menghargai perbedaan dan keragaman di dalam masyarakat. Para siswa peserta MBS juga diharapkan tidak hanya tumbuh semangat berpikir kritisnya, tapi juga menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><b>Menjelajah Keberagaman<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lestia menjelaskan, kegiatan ini terdiri dari tiga modul. Fokus tiap modul berbeda, yakni keberagaman, empati, dan kebebasan berekspresi. Sejauh ini, baru modul pertama yang dilaksanakan. Modul tersebut dilaksanakan sekali seminggu dalam waktu delapan pekan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam aktivitas pertama, siswa diajak belajar menggambar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">still life <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">objek sehari-hari, lantas mendiskusikan beragamnya penafsiran peserta lain terhadap karya yang dihasilkan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Berikutnya, kegiatan bertajuk \u201cSatu-satu Jadi Padu\u201d meminta siswa melukis lantas membahas soal cara memadukan elemen dalam gambar, serta bagaimana agar elemen-elemen itu bisa selaras. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada pertemuan ketiga, peserta dijelaskan soal konsep keseimbangan dalam mandala, kemudian tiap kelompok menentukan komposisi dan berbagi tugas untuk membuat mandala bersama-sama. \u201cRagam-ragam Rona\u201d, aktivitas keempat, mengajak siswa cara memadukan warna pada kertas dengan cara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">marbling<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Mereka juga diminta membahas definisi indah dan benar yang ternyata bisa beragam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya paling suka kegiatan ini,\u201d kata Nur Afni, siswi kelas XII Administrasi Perkantoran SMK 8 Makassar. \u201cSebelumnya saya tidak pernah diajari bahwa dengan mencampur warna-warna dasar, kita bisa mendapat warna baru. Dalam sesi itu saya juga jadi lebih paham dan mempraktikkan langsung soal kerja sama, juga menghargai orang lain.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam pertemuan berikutnya, peserta diminta melukis topi dengan flora dan fauna. Diskusi lantas dipantik dengan pertanyaan tentang keunikan yang dibanggakan siswa dari daerahnya, serta bagaimana daerah lain memandang keunikannya. Pekan ketujuh diisi dengan aktivitas \u201cBertandang Agar Tak Senjang\u201d. Peserta berkunjung ke sekolah difabel atau panti asuhan untuk menceritakan karyanya, membuat karya bersama, sekaligus mengenal orang-orang yang berbeda dengan dirinya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Afni, dulu ia bersama peserta lain dari SMK 8 Makassar datang ke panti asuhan untuk berbagi ilmu tentang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">marbling<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kepada anak yatim piatu. \u201cAnak-anak di panti asuhan senang sekali karena ternyata sama seperti kami, mereka baru tahu warna-warna bisa dicampur jadi warna lain. Di atas kertas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">marbling, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mereka menggambar cita-citanya, lalu dipajang di dinding,\u201d kata Afni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Lestia, MBS ingin peserta bisa bertemu dengan kelompok yang berbeda dari mereka dan saling bertukar pengalaman. Biasanya, prasangka peserta terhadap orang lain berubah setelah mengobrol dan memulai pertemanan. Ini terjadi pada Afni bukan hanya dengan berkunjung ke panti asuhan, melainkan ketika ia harus beraktivitas dalam satu kelompok dengan siswa kelas lain. Sebelum ikut MBS, ia hanya bergaul dengan kawan satu jurusan di angkatannya. MBS mengharuskannya satu kelompok dengan siswa dari jurusan dan angkatan lain. \u201cSaya kira dulu mereka galak. Setelah kenal, ternyata mereka asyik juga,\u201d ucapnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di akhir modul, siswa membuat pameran karya, melatih kemampuan berkomunikasi, dan belajar mengemukakan pendapatnya. Mereka pun belajar cara mengapresiasi seni dan karya teman-temannya. Di Makassar, karya Afni dan rekan-rekannya dipamerkan di Rumata\u2019 Artspace. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya senang dan bangga karena kami bisa membuat pameran bersama. Murid dari sekolah lain dan bahkan mahasiswa datang melihat karya kami. Saya sempat panik waktu harus cerita tentang karya di depan orang-orang yang tidak dikenal. Tapi kata fasilitator, bicara saja dan anggap semuanya teman,\u201d kata Afni sembari tertawa mengingat kegugupannya saat itu.<\/span><\/p>\n<p><b><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-8960\" src=\"http:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Copy-of-Ganara-6.jpeg\" alt=\"\" width=\"1040\" height=\"585\" data-id=\"8960\" \/><\/b><\/p>\n<p><b>Memicu Daya Kritis<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk melihat dampak kegiatan MBS terhadap pola pikir pesertanya, Koalisi Seni Indonesia mengadakan riset pada peserta di Makassar. Salah satu indikator utama yang dikaji dalam penelitian tersebut adalah kebiasaan berpikir kritis. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasilnya, para peserta MBS di Makassar menunjukkan peningkatan kebiasaan berpikir kritis. Skor mereka yang tadinya 68 sebelum kegiatan menjadi 74 seusai mengikuti rangkaian aktivitas tersebut. Artinya, pelatihan terstruktur yang mendukung motivasi berpikir kritis dalam kegiatan seni terbukti meningkatkan kebiasaan peserta untuk berpikir lebih kritis dalam kegiatan sehari-harinya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, selama MBS berlangsung, peserta mampu menyampaikan opininya mengenai isu-isu tertentu, di samping membicarakan karya seni yang mereka buat. Dengan demikian, seni juga berperan dalam memicu perbincangan tentang isu-isu sosial secara santai dan dinamis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSekarang mereka lebih bisa berpikir kritis dan berani mengungkapkan pendapatnya sendiri. Mereka juga sering bertanya kapan kegiatan MBS ini diadakan lagi,\u201d kata Muhammad Yayat, salah satu fasilitator di Makassar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Afni mengaku merasa lebih kritis seusai mengikuti rangkaian MBS. Dulu, ia sering mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Kini ia sering menimbang-nimbang plus minus serta konsekuensi bagi keputusannya di masa depan. Menjelang pemilihan presiden, Afni pun tak mau menyebarkan informasi yang tampak sebagai ujaran kebencian terhadap para calon. \u201cBanyak yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">posting<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di Facebook dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">share <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di WhatsApp soal calon A begini, calon B begitu. Tapi karena saya tidak tahu kebenarannya, saya nggak mau ikut-ikutan menyebarkannya,\u201d ucap Afni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya, ternyata bukan hanya peserta MBS yang makin mumpuni berpikir kritis. Fasilitator seperti Muhammad Yayat pun mengaku kini jadi bisa berpikir lebih kritis. \u201cDulu saat keluarga berkumpul, saya hanya mengiyakan pendapat paman, tante, dan orang tua. Tapi sekarang, saya tidak serta-merta mengikuti perkataan mereka. Saya berani mengeluarkan pendapat sendiri,\u201d tuturnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">MBS menempatkan fasilitator daerah sebagai salah satu aktor penting dalam pelaksanaan program. Menurut Lestia, pihaknya sengaja memilih fasilitator lokal dan melatih mereka dengan serius. Sebab, MBS ingin menggulirkan perubahan dengan memberdayakan masyarakat lokal, sehingga perlu fasilitator yang paham konteks sosial setempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fasilitator juga diharuskan masih muda, berusia di bawah 30 tahun agar lebih luwes dalam diskusi dengan remaja. \u201cKami ingin mereka bisa menciptakan diskusi dengan hubungan yang setara,\u201d ucap Lestia. Setelah lolos seleksi awal, para calon fasilitator dilatih selama dua hari untuk memastikan mereka memahami modul serta mampu memantik diskusi dan aksi peserta dalam berkesenian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Muhammad Yayat mengatakan pelatihan tersebut bukan hanya menyiapkan kemampuan fasilitasi kegiatan, tapi juga membedakan MBS dengan kegiatan sukarela yang sebelumnya ia lakukan. \u201cSebelumnya saya sudah sering jadi relawan untuk kerja sosial. Biasanya kegiatan langsung diserahkan ke relawan, dan kami langsung beraksi di lokasi tertentu. Gaya MBS berbeda. Saya merasa dipersiapkan dan dibekali sekali melalui pelatihan, sehingga saya lebih siap menghadapi adik-adik,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><b>Tekad Menyebar Manfaat<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelaksanaan MBS tentu bukan tanpa tantangan. Lestia dan timnya harus berurusan dengan birokrasi lokal dan sekolah untuk mendapat izin pelaksanaan. Peserta pun ada yang tampak kurang antusias saat mengikuti kegiatan tersebut. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, MBS dapat dibilang cukup sukses memicu kemampuan berpikir kritis di kalangan remaja. Inisiatornya pun telah beberapa kali diundang media dan forum untuk berbagi kisah MBS. Antara lain, Tita Djumaryo diwawancarai Metro TV untuk tema \u201cMari Berjuang untuk Seni\u201d. Pada 2017, Ganara Art diundang oleh Direktorat Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk hadir dalam acara Musyawarah Guru Seni dan Budaya. Di acara tersebut, MBS mengisi lokakarya \u201cBerpikir Kritis Melalui Pengajaran Seni\u201d untuk para guru dari Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">MBS bertekad akan terus mengembangkan program ini dalam jangka panjang. Modul kedua dan ketiga akan segera dilaksanakan. MBS pun ingin menjangkau lebih banyak sekolah dan kota. \u201cKami ingin mencari sekolah yang bukan unggulan, terletak di pinggir kota, dan berada di daerah yang rentan masalah intoleransi dan keberagaman,\u201d tutur Lestia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh ini, Dinas Pendidikan Kota Makassar telah merekomendasikan sejumlah sekolah di pinggiran Makassar untuk dijadikan lokasi program tambahan. Dinas tersebut juga menyanggupi membukakan pintu ke sekolah-sekolah itu. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sektor swasta tak ketinggalan diikutsertakan. Kini modul kedua telah mendapatkan dukungan dari UOB. Bank tersebut akan mendukung kegiatan di Makassar, Jabodetabek, Ambon, dan Yogyakarta. Tetap saja, menurut Lestia, ada beberapa dukungan yang masih diperlukan MBS untuk melebarkan cakupannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, diperlukan staf penghubung yang dapat menjembatani MBS dengan sekolah-sekolah dan pemangku kepentingan dalam sektor pendidikan di banyak daerah. Staf ini diharapkan bisa membangun jejaring yang kuat sehingga menarik lebih banyak lagi anak-anak muda untuk menjadi fasilitator.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, MBS memerlukan ruangan khusus untuk pelatihan dan pertemuan, ruang pameran dan pemutaran film dokumentasi kegiatan, serta ruang penyimpanan barang dan materi kegiatan\u2014salah satunya untuk menampung donasi barang sesuai karakter program.<\/span><\/p>\n<p><em>*Artikel &#8220;Memantik Pikiran Kritis Lewat Seni&#8221; merupakan bagian dari buku Dampak Seni di Masyarakat terbitan Koalisi Seni Indonesia. Buku bisa dibeli dengan mengirimkan surel ke <a href=\"mailto:sekretariat@koalisiseni.or.id\">sekretariat@koalisiseni.or.id<\/a>.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kajian Komisi Nasional Perlindungan Anak pada 2017 membuat banyak orang terperanjat. Kini kebencian dan sikap diskriminatif terbukti menjangkiti lingkungan sekolah. Sebanyak 79% anak-anak yang disurvei dalam kajian itu mempertimbangkan agama dalam memilih teman. Selain itu, anak terpapar ajakan kebencian oleh orang dewasa yang melibatkan mereka ke dalam kegiatan politik. Tak heran kalau remaja ikut terpeleset [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13040,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[419],"tags":[],"coauthors":[],"class_list":["post-15386","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized-en"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.7 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Mari Berbagi Seni: Memantik Pikiran Kritis Lewat Seni - Koalisi Seni<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mari Berbagi Seni: Memantik Pikiran Kritis Lewat Seni - Koalisi Seni\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Koalisi Seni\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-03-24T13:30:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/copy-of-ganara-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"788\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Koalisi Seni Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Koalisi Seni Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/\"},\"author\":{\"name\":\"Koalisi Seni Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/1169383ccc6b34cf2590eb14d5535e04\"},\"headline\":\"Mari Berbagi Seni: Memantik Pikiran Kritis Lewat Seni\",\"datePublished\":\"2019-03-24T13:30:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/\"},\"wordCount\":1523,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/copy-of-ganara-1.jpg\",\"articleSection\":[\"Uncategorized @en\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/\",\"name\":\"Mari Berbagi Seni: Memantik Pikiran Kritis Lewat Seni - Koalisi Seni\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/copy-of-ganara-1.jpg\",\"datePublished\":\"2019-03-24T13:30:11+00:00\",\"description\":\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/copy-of-ganara-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/copy-of-ganara-1.jpg\",\"width\":1080,\"height\":788},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mari Berbagi Seni: Memantik Pikiran Kritis Lewat Seni\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"description\":\"Untuk kebijakan ekosistem seni lebih baik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png\",\"width\":3200,\"height\":3200,\"caption\":\"Koalisi Seni\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/1169383ccc6b34cf2590eb14d5535e04\",\"name\":\"Koalisi Seni Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/image\/ff9277301922930e30f04bdcf15f4fe7\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/28dff173e8e7a3d5d9a84556c0418905bec470171c1230efce01fe9b775cdf00?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/28dff173e8e7a3d5d9a84556c0418905bec470171c1230efce01fe9b775cdf00?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Koalisi Seni Indonesia\"},\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/author\/koalisiseniindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mari Berbagi Seni: Memantik Pikiran Kritis Lewat Seni - Koalisi Seni","description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mari Berbagi Seni: Memantik Pikiran Kritis Lewat Seni - Koalisi Seni","og_description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","og_url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/","og_site_name":"Koalisi Seni","article_published_time":"2019-03-24T13:30:11+00:00","og_image":[{"width":1080,"height":788,"url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/copy-of-ganara-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Koalisi Seni Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Koalisi Seni Indonesia","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/"},"author":{"name":"Koalisi Seni Indonesia","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/1169383ccc6b34cf2590eb14d5535e04"},"headline":"Mari Berbagi Seni: Memantik Pikiran Kritis Lewat Seni","datePublished":"2019-03-24T13:30:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/"},"wordCount":1523,"publisher":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/copy-of-ganara-1.jpg","articleSection":["Uncategorized @en"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/","name":"Mari Berbagi Seni: Memantik Pikiran Kritis Lewat Seni - Koalisi Seni","isPartOf":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/copy-of-ganara-1.jpg","datePublished":"2019-03-24T13:30:11+00:00","description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#primaryimage","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/copy-of-ganara-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/copy-of-ganara-1.jpg","width":1080,"height":788},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/mari-berbagi-seni-memantik-pikiran-kritis-lewat-seni\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mari Berbagi Seni: Memantik Pikiran Kritis Lewat Seni"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/","name":"Koalisi Seni","description":"Untuk kebijakan ekosistem seni lebih baik","publisher":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization","name":"Koalisi Seni","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png","contentUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png","width":3200,"height":3200,"caption":"Koalisi Seni"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/1169383ccc6b34cf2590eb14d5535e04","name":"Koalisi Seni Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/image\/ff9277301922930e30f04bdcf15f4fe7","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/28dff173e8e7a3d5d9a84556c0418905bec470171c1230efce01fe9b775cdf00?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/28dff173e8e7a3d5d9a84556c0418905bec470171c1230efce01fe9b775cdf00?s=96&d=mm&r=g","caption":"Koalisi Seni Indonesia"},"url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/author\/koalisiseniindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15386","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15386"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15386\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13040"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15386"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15386"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15386"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=15386"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}