{"id":15409,"date":"2018-07-27T23:20:12","date_gmt":"2018-07-27T16:20:12","guid":{"rendered":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/"},"modified":"2018-07-27T23:20:12","modified_gmt":"2018-07-27T16:20:12","slug":"koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/","title":{"rendered":"Koalisi Seni Indonesia: Indikator Kebudayaan Sebagai Tolok Ukur Pembangunan"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/indonesiadevelopmentforum.com\/2018\/article\/5087-koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\">Artikel ini pertama kali dipublikasikan di website Indonesia Development Forum (IDF). Untuk membaca artikel asli, silakan klik tautan ini. <\/a><\/p>\n<p>&#8211;<\/p>\n<p>Sepintas, gambar itu terlihat aneh. Seorang yang tak jelas jenis kelaminnya memakai kostum warna merah marun dengan penutup kepala berwarna kunyit. Hanya matanya saja yang nampak. Rantai membebat leher, sedangkan tangan kirinya membawa pedang yang ditusukkan ke telinganya.<\/p>\n<p>\u201cBerkostum moral, menunggu pendekar ahli benci,\u201d begitu tulisan yang menjelaskan karikatur yang dibuat oleh seniman Yogyakarta, Eko Nugroho.<\/p>\n<p>Karya Eko itu merupakan kritik sosial terhadap perilaku masyarakat akhir-akhir ini.<\/p>\n<div id=\"attachment_1222\" style=\"width: 660px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1222\" class=\"wp-image-1222\" src=\"http:\/\/koalisiseni.andangkelana.com\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223-288x300.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"676\" srcset=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223-288x300.jpg 288w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223-768x799.jpg 768w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223-600x624.jpg 600w, https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223.jpg 800w\" sizes=\"auto, (max-width: 650px) 100vw, 650px\" \/><p id=\"caption-attachment-1222\" class=\"wp-caption-text\">\u201cBerkostum Moral, Menunggu Pendekar Ahli Benci\u201d \u2013 Eko Nugroho<\/p><\/div>\n<p>Dikutip dari\u00a0<em>Brilio.id,\u00a0<\/em>laki-laki lulusan Institut Seni Indonesia ini memang terkenal di Indonesia dan mancanegara. Karyanya yang cenderung satir telah banyak dipamerkan ke beberapa negara seperti Belanda, Australia, hingga Amerika Serikat.\u00a0 Tak heran, Eko masuk dalam\u00a0<em>Power 100 A Ranked List of The Contemporary Artworld\u2019s Most Powerful Figures<\/em>\u00a0versi\u00a0<em>ArtReview<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>Icon of The Year 2013 in Art and Culture<\/em>\u00a0yang diberikan oleh\u00a0<em>Majalah<\/em>\u00a0<em>Gatra<\/em>, Indonesia.<\/p>\n<p>Yogyakarta memang dikenal pencetak banyak seniman dan budayawan terbaik di Indonesia. Tak hanya Eko Nugroho saja, sebut saja seniman dan budayawan seperti Butet Kertaradjasa, Martinus Miroto, Diwa Hutomo, dan masih banyak yang tumbuh dari kota seni ini. Hal dikarenakan Yogya sudah mempunyai ekosistem seni.<\/p>\n<p>\u201cKetika ingin mengembangkan seni kita juga harus mengembangkan ekosistem seninya,\u201d kata Aquino Hayunta, Manajer Program Koalisi Seni Indonesia ketika ditemui awal Juni 2018 lalu.<\/p>\n<p>Aquino mencontohkan ekosistem seni di budaya membatik. Membicarakan batik, di dalamnya ada ekosistem yang meliputi teknik, alat, seniman pembatik, teknologi, pasokan bahan, hingga pendistribusian. Jadi, kalau pemerintah ingin melestarikan seni dan budaya, kata Aquino, ekosistem juga dipertahankan.<\/p>\n<p>Saat ini, Aquino melihat hanya ada tiga kota yang sudah mempunyai ekosistem yang kuat yaitu Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Di Yogya misalnya, ekosistem tak hanya berisi seniman, tetapi juga ada kurator, museum atau galeri, kolektor. Bahkan, ekosistem ini mendapat dukungan dari pemerintah daerah.<\/p>\n<p>Sayangnya, ekosistem seni sulit ditemui di daerah lain, terutama di Indonesia timur. Alhasil, budaya lokal kurang berkembang. Padahal, lewat seni dan kebudayaan, kesenjangan ekonomi bisa diatasi. Contohnya, Korea Selatan mampu menghasilkan keuntungan dari budaya pop-nya. Namun jelas, pembangunan ekosistem seni membutuhkan waktu yang panjang lewat pembangunan kebudayaan.<\/p>\n<p>\u201cDi negara-negara yang budaya popnya bisa menghasilkan uang, ada sektor seni yang memang tidak bisa jadi\u00a0<em>profit<\/em>\u00a0kayak seni eksperimental, seni tradisional,\u201d ujar Aquino.<\/p>\n<p>Pembangunan ekosistem seni di daerah-daerah merupakan salah satu inovasi mengatasi kesenjangan di Indonesia. Inilah salah satu solusi yang dicari lewat Indonesia Development Forum 2018. Forum ini\u00a0 akan mengangkat tema \u2018<em>Pathways to Tackle Regional Disparities Across The Archipelago<\/em>\u2019. IDF 2018 digagas oleh Bappenas dan didukung oleh Pemerintah Australia melalui\u00a0<em>Knowledge Sector Initiative<\/em>. Tujuannya, menjaga kesinambungan pembangunan berbasiskan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan fakta untuk mendukung percepatan pembangunan di Indonesia yang lebih merata dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Pembangunan kebudayaan sendiri, diartikan oleh Aquino, sebagai pembangunan yang bukan berdasarkan indikator-indikator ekonomi, melainkan kesejahteraan dan kebahagiaan manusianya sebagai subjek pembangunan.<\/p>\n<p>Peneliti Koalisi Seni Indonesia Annayu Maharani mengatakan sejatinya seni budaya dapat memelihara ekspresi masyarakat. Orang yang seni dan budayanya terpelihara biasanya lebih mempunyai pandangan terbuka terhadap hal baru dan mau berdiskusi saat terjadi perbedaan. Dengan seni dan budaya pula, kata Annayu, rekonsiliasi konflik seperti kubu Islam dan Kristen di Ambon bisa bersatu.<\/p>\n<p>\u201cJadi, kami pikir seharusnya ada indikator kebudayaan menjadi salah satu tolok ukur pembangunan nasional, selain indikator ekonomi,\u201d ujar Annayu.<\/p>\n<p><strong>Kembangkan Bukan Lindungi<\/strong><\/p>\n<p>Peneliti Koalisi Seni Indonesia Annayu Maharani mengatakan ada paradigma pemangku kebijakan yang mesti diubah saat membicarakan seni dan budaya. Selama ini, seni dan budaya selalu dipandang sebagai bagian yang mesti dilindungi. Alhasil, kebijakan terkait kebudayaan lebih cenderung preservasi dan konservasi.<\/p>\n<p>\u201cPadahal pelestarian tak cukup menjawab tantangan globalisasi,\u201d kata Annayu.<\/p>\n<p>Dia mengatakan seni dan budaya yang ada di Indonesia sebaiknya dikembangkan agar tak kalah bersaing dengan negara lain. Nyatanya, seni dan kebudayaan di Indonesia sudah diakui di mancanegara. Annayu menyontohkan seni rupa kontemporer Indonesia menempati urutan kedua terbesar di Asia. Sejumlah seniman sering kali hilir mudik ke negara-negara lain untuk menggelar pertunjukan bahkan ada yang karyanya laris manis dikoleksi penikmat seni internasional.<\/p>\n<p>Masalah pengembangan seni dan budaya di Indonesia, menurut Annayu, lebih pada sistem pendukung (<em>support system)\u00a0<\/em>dan infrastruktur pendukung. Hal ini bisa tercukupi bila ekosistem seni bisa berkembang dengan baik.<\/p>\n<p>Manajer Program Koalisi Seni Indonesia, Aquino Hayunta mengatakan pengembangan seni dan budaya di Indonesia juga membutuhkan dukungan langsung dari pemerintah. Dia mencontohkan kebijakan pemerintah\u00a0 Amerika Serikat terkait film.<\/p>\n<p>\u201cWaktu Jerman kalah perang, Amerika bernegosiasi agar film-film Amerika tayang di bioskop-bioskop Jerman,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Perlu dukungan pemerintah terkait promosi dan upaya regenerasi pegiat-pegiat seni di daerah-daerah. Aquino mengkritik pelaksanaan festival-festival di daerah yang jarang memikirkan keberlanjutan ekosistem dan regenerasi seniman baru.<\/p>\n<p>\u201cFestival itu bagus, tapi sebaiknya menjadi puncak setelah rangkaian usaha, riset, pertukaran informasi, ada seniman, ada pendidikan. Baru karya-karyanya ditampilkan di festival. Tanpa itu, festival hanya sekadar mengumpulkan seniman yang sudah terkenal dan\u00a0<em>mindahin<\/em>\u00a0tempat berkarya saja,\u201d kata Aquino.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artikel ini pertama kali dipublikasikan di website Indonesia Development Forum (IDF). Untuk membaca artikel asli, silakan klik tautan ini. &#8211; Sepintas, gambar itu terlihat aneh. Seorang yang tak jelas jenis kelaminnya memakai kostum warna merah marun dengan penutup kepala berwarna kunyit. Hanya matanya saja yang nampak. Rantai membebat leher, sedangkan tangan kirinya membawa pedang yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12984,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[419],"tags":[],"coauthors":[],"class_list":["post-15409","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized-en"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.7 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Koalisi Seni Indonesia: Indikator Kebudayaan Sebagai Tolok Ukur Pembangunan - Koalisi Seni<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Koalisi Seni Indonesia: Indikator Kebudayaan Sebagai Tolok Ukur Pembangunan - Koalisi Seni\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Koalisi Seni\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-07-27T16:20:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"832\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Koalisi Seni Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Koalisi Seni Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/\"},\"author\":{\"name\":\"Koalisi Seni Indonesia\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/1169383ccc6b34cf2590eb14d5535e04\"},\"headline\":\"Koalisi Seni Indonesia: Indikator Kebudayaan Sebagai Tolok Ukur Pembangunan\",\"datePublished\":\"2018-07-27T16:20:12+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/\"},\"wordCount\":808,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223.jpg\",\"articleSection\":[\"Uncategorized @en\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/\",\"name\":\"Koalisi Seni Indonesia: Indikator Kebudayaan Sebagai Tolok Ukur Pembangunan - Koalisi Seni\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223.jpg\",\"datePublished\":\"2018-07-27T16:20:12+00:00\",\"description\":\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223.jpg\",\"width\":800,\"height\":832,\"caption\":\"\u201cBerkostum Moral, Menunggu Pendekar Ahli Benci\u201d \u2013 Eko Nugroho\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Koalisi Seni Indonesia: Indikator Kebudayaan Sebagai Tolok Ukur Pembangunan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"description\":\"Untuk kebijakan ekosistem seni lebih baik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png\",\"width\":3200,\"height\":3200,\"caption\":\"Koalisi Seni\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/1169383ccc6b34cf2590eb14d5535e04\",\"name\":\"Koalisi Seni Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/image\/ff9277301922930e30f04bdcf15f4fe7\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/28dff173e8e7a3d5d9a84556c0418905bec470171c1230efce01fe9b775cdf00?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/28dff173e8e7a3d5d9a84556c0418905bec470171c1230efce01fe9b775cdf00?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Koalisi Seni Indonesia\"},\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/author\/koalisiseniindonesia\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Koalisi Seni Indonesia: Indikator Kebudayaan Sebagai Tolok Ukur Pembangunan - Koalisi Seni","description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Koalisi Seni Indonesia: Indikator Kebudayaan Sebagai Tolok Ukur Pembangunan - Koalisi Seni","og_description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","og_url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/","og_site_name":"Koalisi Seni","article_published_time":"2018-07-27T16:20:12+00:00","og_image":[{"width":800,"height":832,"url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Koalisi Seni Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Koalisi Seni Indonesia","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/"},"author":{"name":"Koalisi Seni Indonesia","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/1169383ccc6b34cf2590eb14d5535e04"},"headline":"Koalisi Seni Indonesia: Indikator Kebudayaan Sebagai Tolok Ukur Pembangunan","datePublished":"2018-07-27T16:20:12+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/"},"wordCount":808,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223.jpg","articleSection":["Uncategorized @en"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/","name":"Koalisi Seni Indonesia: Indikator Kebudayaan Sebagai Tolok Ukur Pembangunan - Koalisi Seni","isPartOf":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223.jpg","datePublished":"2018-07-27T16:20:12+00:00","description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#primaryimage","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223.jpg","contentUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/08\/media-1529497223.jpg","width":800,"height":832,"caption":"\u201cBerkostum Moral, Menunggu Pendekar Ahli Benci\u201d \u2013 Eko Nugroho"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/koalisi-seni-indonesia-indikator-kebudayaan-sebagai-tolok-ukur-pembangunan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Koalisi Seni Indonesia: Indikator Kebudayaan Sebagai Tolok Ukur Pembangunan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/","name":"Koalisi Seni","description":"Untuk kebijakan ekosistem seni lebih baik","publisher":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization","name":"Koalisi Seni","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png","contentUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png","width":3200,"height":3200,"caption":"Koalisi Seni"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/1169383ccc6b34cf2590eb14d5535e04","name":"Koalisi Seni Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/image\/ff9277301922930e30f04bdcf15f4fe7","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/28dff173e8e7a3d5d9a84556c0418905bec470171c1230efce01fe9b775cdf00?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/28dff173e8e7a3d5d9a84556c0418905bec470171c1230efce01fe9b775cdf00?s=96&d=mm&r=g","caption":"Koalisi Seni Indonesia"},"url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/author\/koalisiseniindonesia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15409","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15409"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15409\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12984"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15409"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15409"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15409"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=15409"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}