{"id":15414,"date":"2017-12-08T14:59:15","date_gmt":"2017-12-08T07:59:15","guid":{"rendered":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/"},"modified":"2017-12-08T14:59:15","modified_gmt":"2017-12-08T07:59:15","slug":"dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/","title":{"rendered":"Dari Sapi ke Uang Tunai: Sejarah Panjang Pendanaan Kesenian di Australia"},"content":{"rendered":"<p><em>Artikel ini adalah hasil terjemahan dari artikel berjudul\u00a0<\/em><em>\u201cFrom Cows to Cash: Australia\u2019s Long History of Arts Funding\u201d\u00a0<\/em><em>yang ditulis oleh Amanda Smith dan diterbitkan oleh www.abc.net.au. <a href=\"http:\/\/www.abc.net.au\/radionational\/programs\/rearvision\/the-history-of-arts-funding-in-australia\/7550288\">Klik tautan ini untuk membaca artikel asli.<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>Sepanjang tahun lalu, kecemasan dan kemarahan muncul terkait berubahnya model pendanaan kesenian di Australia. Apa masalahnya? Amanda Smith melihat kembali bagaimana seni disubsidi di Australia. <\/strong><\/p>\n<p>Hibah seni pertama yang diberikan untuk kesenian di Australia, bukanlah berupa uang tunai atau cek. Melainkan, ternak.<\/p>\n<p>Pada awal abad ke-19, seorang penyair lulusan Oxford, bernama Michael Massey Robinson, menulis serangkaian ode untuk George III dan Quen Charlotte pada hari ulang tahun mereka.\u00a0\u201cIa mendapat dua ekor sapi dari pemerintah karena jasanya sebagai penyair puisi,\u201d kata ekonom David Throsby.<\/p>\n<p>Robinson menjadi penyair pertama dan satu-satunya di Australia, dan mungkin satu-satunya seniman yang dibayar dengan ternak.\u00a0Skema pendanaan kesenian nyata yang pertama, <em>Commonwealth Literary Fund<\/em>, ada tidak lama setelah terbentuknya Federasi, di bawah pemerintahan Deakin.<\/p>\n<pre>Baca juga: <a href=\"http:\/\/koalisiseni.or.id\/jejak-maesenas-dalam-seni-indonesia\/\">Jejak Maesenas dalam Seni Indonesia<\/a><\/pre>\n<p>Tapi skema ini tidak membiayai penulis untuk menulis buku, melainkan adalah dana pensiun untuk penulis berusia lanjut.\u00a0\u201cMenerima dana dari <em>Commonwealth Literary Fund<\/em>, bukan menjadi hal yang patut untuk dirayakan,\u201d kata Katya Johanson, yang meneliti sejarah dan politik seni di Australia.<\/p>\n<p>\u201cMenerima dana pensiun dianggap cukup memalukan. Jadi nama penerima dananya tidak diumumkan ke publik.\u201d\u00a0Pada tahun 1939, <em>Literary Fund<\/em> diperluas untuk menawarkan sejumlah kecil beasiswa kepada para penulis hebat. Ini berlanjut sampai tahun 1960an.<\/p>\n<p><strong>Dewan Kesenian<\/strong><\/p>\n<p>Bagi seniman, masyarakat umum, dan politisi, mencoba menemukan cara terbaik untuk mendukung kesenian selalu menjadi tantangan tersendiri. Mekanisme yang akhirnya muncul di Australia adalah apa yang kemudian dikenal sebagai Dewan Kesenian.<\/p>\n<p>Asal-muasalnya berasal dari sisi lain dunia, yaitu Inggris, dan tokoh kuncinya adalah John Maynard Keynes.\u00a0Tidak hanya menjadi ekonom abad ke-20 yang paling terkenal, Keynes juga terlibat dengan salah satu lingkungan artistik paling terkenal di zamannya, Grup Bloomsbury.<\/p>\n<p>Anna Uphurch, penulis buku \u201cThe Origins of the Arts Council Movement\u201d, mengatakan ada dua contoh model dari gagasan Keynes terkait Dewan Kesenian. Salah satunya adalah sebuah organisasi yang dibentuk oleh pemerintah Inggris selama Perang Dunia II yang disebut <em>Council for the Encouragement of Music in the Arts<\/em> (CEMA)<\/p>\n<p>\u201cCEMA mengorganisir kelompok teater, orkestra, dan penari untuk berkeliling di seluruh negeri. Bagi publik, kegiatan ini dapat meningkatkan kepercayaan diri dan keceriaan mereka. Sekaligus memberi pemasukan bagi industri seni pertunjukan,\u201d kata Upchurch.<\/p>\n<p>Keynes ditunjuk sebagai Ketua CEMA pada 1942, dan terlibat dalam pemilihan panel yang terdiri dari para spesialis, yang akan meninjau pengajuan pendanaan untuk bidang seni drama, musik, dan seni visual.\u00a0Model lainnya adalah sebuah organisasi yang berbeda bernama <em>University Grants Committee, <\/em>yang mendukung penelitian akademis.<\/p>\n<p>Dewan Kesenian Inggris Raya kemudian didirikan pada 1946, dengan Keynes sebagai Ketua Pendiri untuk waktu yang singkat, sampai kematiannya pada tahun yang sama.\u00a0\u201cDia tidak tertarik dengan Kementerian Kesenian, dan sebenarnya dia dan pendukung seni lainnya menentang kementerian dan berargumen untuk hadirnya organisasi lepas dimana politisi tidak terlibat secara langsung dalam menentukan seni seperti apa yang didukung,\u201d kata Upchurch.<\/p>\n<p><strong>Kesenian setelah Perang Dunia II<\/strong><\/p>\n<p>Kembali ke Australia, diskusi serupa dimulai di <em>Department of Post-War Reconstruction<\/em>, dibentuk pada 1943, dengan ekonom HC \u2018Nugget\u2019 Coombs sebagai Direktur Jenderal.\u00a0Coombs telah dilatih sebagai ekonom di London dan sangat dipengaruhi oleh Keynes.<\/p>\n<p>\u201cIa benar-benar memiliki visi menjadikan Australia tempat yang lebih baik dengan masyarakat yang lebih baik pula. Visinya untuk kesenian adalah tentang memperbaiki kehidupan orang Australia dan memperkaya kehidupan orang Australia,\u201d kata Johanson.<\/p>\n<p>Coombs dan rekan-rekannya di <em>Department of Post-War Reconstruction<\/em> mengemukakan berbagai rencana, termasuk rencana pendanaan kesenian di tingkat pemerintahan. Tapi pada 1949 terjadi perubahan pemerintahan, mengakhiri gagasan tentang pendanaan nasional untuk seni.<\/p>\n<p>\u201cPemerintah Menzies menganggap skema semacam itu sebagai bukti sosialisme, ketidaksukaan yang muncul karena politik,\u201d kata Johanson.<\/p>\n<p>\u201cYang menarik adalah semua hal yang muncul dan mewujud menjadi Dewan Kesenian Australia sekitar 20 tahun kemudian, sebenarnya sudah diimpikan oleh <em>Department of Post-War Reconstruction<\/em> pada pertengahan tahun 1940an.\u201d<\/p>\n<p>Pada 1954, <em>Australian Elizabethan Theatre Trust<\/em> didirikan sebagai penghormatan kepada Ratu Elizabeth muda.\u00a0\u201cIni pada dasarnya untuk seni pertunjukan, untuk mempersiapkan industrinya yang kemudian berkembang menjadi Australian Opera, Australian Ballet, Melbourne Theatre Company, dan Sydney Theatre Company. Semua didanai dengan baik oleh pemerintah,\u201d kata Throsby.<\/p>\n<p>Pada akhir 1960an, ada dorongan kuat untuk mendukung seni. Dan yang pada awalnya dikenal sebagai Dewan Kesenian Australia, dikembangkan.\u00a0Perdana Menteri saat itu Harold Holt lebih mendukung pendanaan kesenian daripada Menzies.<\/p>\n<pre>Baca juga: <a href=\"http:\/\/koalisiseni.or.id\/filantropi-dan-sumber-sumber-pendanaan-untuk-kesenian\/\">Filantropi, dan Sumber-Sumber Pendanaan untuk Kesenian di Indonesia<\/a><\/pre>\n<p>Pada 1967, sekelompok kecil orang awam terpelajar bertemu untuk pertama kalinya, awal dari apa yang akan menjadi Dewan Kesenian Australia. Menentukan model Dewan Kesenian adalah hasil kerja Nugget Coombs di balik layar.<\/p>\n<p>Selama 1960an, Coombs adalah Gubernur Reserve Bank dan juga Ketua Pendiri Australian Elizabethan Theatre Trust. Dia juga menjadi Ketua Dewan Kesenian Australia.<\/p>\n<p>Sejak didirikan pada 1967, Coombs ingin dewan ini memiliki otoritas hukum. Butuh waktu delapan tahun sampai kemudian tercapai di bawah pemerintahan Whitlam. Sehingga, Dewan Kesenian Australia baru benar-benar berjalan di tahun 1975.<\/p>\n<p><strong>Bagaimana <\/strong><strong>Pendanaan Berubah<\/strong><\/p>\n<p>Dari tahun 1975, organisasi seniman dan seni disubsidi melalui Dewan Kesenian Australia. Perubahan sistem pendanaan kesenian terjadi pada tahun 2015, ketika Senator George Brandis menjadi Menteri Kesenian.<\/p>\n<p>Dalam anggaran federal tahun itu, entitas baru yang disebut <em>National Program for Excellence in the Arts<\/em> (NPEA), diperkenalkan.\u00a0\u201cNPEA mengambil $ 105 juta dari anggaran Dewan Kesenian Australia dan memasukkannya ke dalam Kementerian Kesenian yang lalu didistribusikan langsung oleh Menteri,\u201d kata novelis, kritikus dan komentator Alison Croggon.<\/p>\n<p>\u201cBahkan Dewan Kesenian Australia tidak tahu tentang NPEA sampai hari diumumkan, jadi ini benar-benar mengejutkan.\u201d<\/p>\n<p>Jadi mengapa terjadi perubahan, dan mengapa ini krusial?<\/p>\n<p>\u201cTampaknya bagi banyak orang, situasi ini merupakan usaha awal untuk menyingkirkan Dewan Kesenian Australia sebagai distributor utama pendanaan kesenian di Australia,\u201d kata Croggon.<\/p>\n<p>\u201cSelama beberapa dekade, sejak terbentuknya Dewan kesenian Australia, pendanaan kesenian dikelola secara lepas, bebas dari kendali menteri.\u201d<\/p>\n<p>Pada November 2015, ketika Mitch Fifield menggantikan George Brandis, NPEA diubah namanya menjadi Catalyst dan $ 32 juta dari $ 105 juta-nya kembali ke Dewan Kesenian Australia.\u00a0Namun masih ada kekurangan $ 73 juta, yang menyebabkan 65 organisasi seni kehilangan dana Dewan Kesenian Australia mereka tahun ini.<\/p>\n<p><strong>Pendanaan <\/strong><strong>Kesenian Selalu <\/strong><strong>Me<\/strong><strong>micu <\/strong><strong>Pertanyaan<\/strong><\/p>\n<p>Johanson mengatakan bahwa Dewan Kesenian Australia bisa dikritik karena keputusan pendanaannya dibuat independen dari pemerintah.<\/p>\n<p>\u201cNilai seni sangat sulit diidentifikasi dan diukur,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cDan ketika pakar seni atau seniman yang membuat keputusan itu, sangat sulit bagi mereka untuk dibenarkan. Mereka sering terlihat seolah-olah hanya sebagai orang-orang yang membagi-bagikan uang dengan teman mereka. Itulah risikonya.\u201d<\/p>\n<pre>Baca juga: <a href=\"http:\/\/koalisiseni.or.id\/siasat-kebuntuan-bantuan-aktivitas-seni-di-makassar\/\">Siasat Kebuntuan Bantuan Aktivitas Seni di Makassar<\/a><\/pre>\n<p>Mengalihkan uang dari Dewan kesenian Australia ke pemerintah untuk didistribusikan bukanlah hal yang baru.\u00a0\u201cPaul Keating terkenal karena dukungannya terhadap seni, namun pada 1991 dia membentuk sebuah Komite Penasehat Kebudayaan yang juga merekomendasikan untuk menahan atau mengarantina sejumlah besar dana dari Dewan Kesenian Australia untuk didistribusikan oleh menteri,\u201d kata Johanson.<\/p>\n<p>Namun demikian, Throsby adalah pendukung model Dewan Kesenian yang digagas oleh ekonom Nugget Coombs dan John Maynard Keynes sebelumnya.\u00a0\u201cSaya pikir sangat disayangkan bahwa telah terjadi langkah menuju bentuk dukungan yang lebih sentralistis yang kita lihat melalui pengaturan sekarang,\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cRencana Senator Brandis adalah langkah yang sangat substansial ke arah itu. Jalannya telah ditahan sedikit oleh program <em>Catalyst<\/em> yang sekarang kita miliki, tapi tetap saja tidak kemana-mana, selain mendekati kenyataan bahwa ada intervensi pemerintah. \u201d<\/p>\n<p>Ada argumen lain untuk, dan juga melawan, model Dewan Kesenian itu, menurut Anna Upchurch.\u00a0Di satu sisi, ada yang berpendapat bahwa menjauhkan kesenian dari politik meminggirkan kesenian dan memberikan alasan kepada pemerintah untuk tidak menganggap serius kesenian.<\/p>\n<p>Sebaliknya, ada yang berpendapat bahwa pendanaan kesenian yang melibatkan pemerintah akan malah menguntungkan pemerintah karena memberikan mereka jalan untuk menjauh dari kontroversi yang dipicu oleh kesenian.<\/p>\n<p>Tapi Throsby mengatakan model Dewan Kesenian ini mampu memuaskan semua sisi argumen.\u00a0\u201cModel ini sangat sesuai karena pegiat seni dapat memiliki independensi tentang bagaimana seni harusnya berkembang, dan hal ini dapat memuaskan pemerintah karena dengan demikian pegiat seni dapat menghasilkan karya-karya yang memang ditujukan untuk kepentingan publik,\u201d katanya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Di akhir masa tugasnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah kompak mengebut pengesahan beragam Rancangan Undang-undang (RUU) bermasalah. Salah satunya adalah RUU Ekonomi Kreatif, yang proses pembahasannya menghabiskan biaya banyak namun relatif tertutup dan hanya menghasilkan aturan tanpa gigi.<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":13296,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[419],"tags":[],"coauthors":[],"class_list":["post-15414","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized-en"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.7 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Dari Sapi ke Uang Tunai: Sejarah Panjang Pendanaan Kesenian di Australia - Koalisi Seni<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dari Sapi ke Uang Tunai: Sejarah Panjang Pendanaan Kesenian di Australia - Koalisi Seni\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Koalisi Seni\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-12-08T07:59:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"700\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"467\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Amanda Smith\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Amanda Smith\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/\"},\"author\":{\"name\":\"Amanda Smith\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/ed34c8100266020397116ff5cf01fc55\"},\"headline\":\"Dari Sapi ke Uang Tunai: Sejarah Panjang Pendanaan Kesenian di Australia\",\"datePublished\":\"2017-12-08T07:59:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/\"},\"wordCount\":1266,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia.jpg\",\"articleSection\":[\"Uncategorized @en\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/\",\"name\":\"Dari Sapi ke Uang Tunai: Sejarah Panjang Pendanaan Kesenian di Australia - Koalisi Seni\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia.jpg\",\"datePublished\":\"2017-12-08T07:59:15+00:00\",\"description\":\"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia.jpg\",\"width\":700,\"height\":467},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dari Sapi ke Uang Tunai: Sejarah Panjang Pendanaan Kesenian di Australia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"description\":\"Untuk kebijakan ekosistem seni lebih baik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization\",\"name\":\"Koalisi Seni\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png\",\"width\":3200,\"height\":3200,\"caption\":\"Koalisi Seni\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/ed34c8100266020397116ff5cf01fc55\",\"name\":\"Amanda Smith\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/image\/8db67897f5abaad0475625c5568fdfe4\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0ceea31219b8ce9d7052b97691a6c9234ab4773b75cfe527aac265a7a537877b?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0ceea31219b8ce9d7052b97691a6c9234ab4773b75cfe527aac265a7a537877b?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Amanda Smith\"},\"url\":\"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/author\/amanda-smith\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dari Sapi ke Uang Tunai: Sejarah Panjang Pendanaan Kesenian di Australia - Koalisi Seni","description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Dari Sapi ke Uang Tunai: Sejarah Panjang Pendanaan Kesenian di Australia - Koalisi Seni","og_description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","og_url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/","og_site_name":"Koalisi Seni","article_published_time":"2017-12-08T07:59:15+00:00","og_image":[{"width":700,"height":467,"url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Amanda Smith","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Amanda Smith","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/"},"author":{"name":"Amanda Smith","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/ed34c8100266020397116ff5cf01fc55"},"headline":"Dari Sapi ke Uang Tunai: Sejarah Panjang Pendanaan Kesenian di Australia","datePublished":"2017-12-08T07:59:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/"},"wordCount":1266,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia.jpg","articleSection":["Uncategorized @en"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/","name":"Dari Sapi ke Uang Tunai: Sejarah Panjang Pendanaan Kesenian di Australia - Koalisi Seni","isPartOf":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia.jpg","datePublished":"2017-12-08T07:59:15+00:00","description":"Mari berkoalisi untuk ekosistem seni lebih baik, yang membuat orang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Jadilah bagian perubahan penting ini!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#primaryimage","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia.jpg","contentUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia.jpg","width":700,"height":467},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/dari-sapi-ke-uang-tunai-sejarah-panjang-panjang-pendanaan-kesenian-di-australia\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dari Sapi ke Uang Tunai: Sejarah Panjang Pendanaan Kesenian di Australia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#website","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/","name":"Koalisi Seni","description":"Untuk kebijakan ekosistem seni lebih baik","publisher":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#organization","name":"Koalisi Seni","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png","contentUrl":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/logo-koalisi-seni-kotak.png","width":3200,"height":3200,"caption":"Koalisi Seni"},"image":{"@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/ed34c8100266020397116ff5cf01fc55","name":"Amanda Smith","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/#\/schema\/person\/image\/8db67897f5abaad0475625c5568fdfe4","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0ceea31219b8ce9d7052b97691a6c9234ab4773b75cfe527aac265a7a537877b?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0ceea31219b8ce9d7052b97691a6c9234ab4773b75cfe527aac265a7a537877b?s=96&d=mm&r=g","caption":"Amanda Smith"},"url":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/author\/amanda-smith\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15414","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15414"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15414\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13296"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15414"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15414"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15414"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/koalisiseni.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=15414"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}