/   Advokasi, Liputan Media, Pemajuan Kebudayaan

Harian Kompas, 5 Januari 2022

Sejumlah kegiatan seni kembali menggeliat sejak dihantam pandemi Covid-19 sejak 2020. Untuk mendorong pulihnya ekosistem seni di 2022, dibutuhkan bantuan dana dan infrastruktur.

Berikut versi panjang tulisan ini, yang dimuat di kompas.id pada 5 Januari 2022.

Oleh Sekar Gandhawangi

JAKARTA, KOMPAS – Kendati kegiatan masyarakat sudah menggeliat kembali, dampak pandemi Covid-19 di bidang seni diperkirakan akan bertahan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Pendanaan dan ketersediaan infrastruktur dibutuhkan untuk menghidupkan seni di 2022.

Wakil Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Hikmat Darmawan mengatakan, dampak ekonomi akibat pandemi dapat berkepanjangan. Ini karena seniman dan pekerja seni kehilangan momen produksi hingga distribusi seni selama pandemi. Pelonggaran aktivitas masyarakat hingga hadirnya media digital untuk distribusi seni tidak serta-merta bisa menutup kerugian ekonomi para seniman.

“Misalnya, sesukses-suksesnya suatu film, belum tentu film itu mencapai satu juta penonton di bioskop (selama pandemi) karena okupansi bioskop menurun. Di sisi lain, bioskop jadi sumber pendapatan terbesar film,” kata Hikmat saat dihubungi pada Selasa (4/1/2022).

Menurutnya, seniman dan pekerja seni butuh bantuan berupa stimulus ekonomi. Investasi untuk membangun ekosistem seni untuk beberapa tahun ke depan juga dibutuhkan. Peran pemerintah penting dalam hal ini.

Ketua Generasi Muda Budaya Betawi (GMBB) Ridwansyah mengatakan, selama pandemi, kegiatan-kegiatan sanggar seni Betawi ini dihentikan sementara. Merka juga terpaksa membatalkan sejumlah acara kesenian yang semula akan mereka ikuti.

Ini membuat mereka kehilangan kesempatan untuk pentas dan memperoleh pendapatan. Ia menambahkan, GMBB tidak punya uang kas untuk memenuhi kebutuhan sanggar selama pandemi.

“Sejak November (2021) hingga kini kondisi sudah agak membaik. Latihan dengan prokes sudah dimulai dan job juga mulai ada lagi,” ucap dia. “Saya harap pemprov membuat surat keputusan agar mal-mal di Jakarta mengisi kegiatan dengan budaya Betawi. DPRD juga agar mengisi kegiatan maupun kunjungan dengan seni budaya Betawi,” tambahnya.

Potensi kehilangan

Menurut Manajer Advokasi Koalisi Seni Hafez Gumay, upaya menghidupkan ekosistem seni mesti segera dilakukan. Jika tidak, orang-orang yang selama ini mendukung keberlanjutan ekosistem seni terancam hilang, misalnya teknisi panggung, penata rias, hingga penata busana. Sejumlah pekerja seni, kata Hafez, beralih profesi akibat pandemi, misalnya sopir ojek daring.

“Menjaga agar ekosistem seni tidak habis itu tantangan besar. Jika habis, akan sulit untuk memulai lagi,” kata Hafez.

Menjaga agar ekosistem seni tidak habis itu tantangan besar. Jika habis, akan sulit untuk memulai lagi.

Salah satu hal yang dibutuhkan para seniman dan pekerja seni saat ini adalah bantuan dana untuk melakukan kegiatan seni. Selama ini, pendanaan bidang seni kerap datang dari pihak swasta. Namun, pendanaan tersebut macet selama pandemi. Ia berharap agar dana abadi kebudayaan dari pemerintah dapat segera digunakan.

Sebelumnya, dana abadi kebudayaan ditargetkan bisa digunakan pada 2022. Dana tersebut mencapai Rp 5 triliun. Adapun dana abadi kebudayaan merupakan amanat UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga memberi dana hibah untuk individu atau kelompok kebudayaan melalui program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK). Dana hibah ditujukan untuk tiga jenis kegiatan, yaitu dokumentasi karya/pengetahuan maestro, penciptaan karya kreatif inovatif, dan pendayagunaan ruang publik. Anggaran yang disiapkan untuk FBK 2021 sebesar Rp 76 miliar.

Hafez menambahkan, adanya media digital membuat ruang ekspresi seni menjadi lebih terbuka dari sebelumnya. Ini mendorong para seniman untuk bereksperimen dan merefleksikan kesenian yang selama ini ada. Hal ini juga mendorong munculnya seniman-seniman baru.

“Di sisi lain, yang jadi pertanyaan adalah apa orang Indonesia siap mengapresiasi seni dengan cara baru, misalnya dengan membeli album digital atau malah menunggu lagu bajakannya beredar di internet,” kata Hafez. “Pemahaman bahwa seni bukan hal yang murah pun diperlukan,” tambahnya.

Hikmat mengatakan, seniman juga membutuhkan infrastruktur pendukung berupa ruang yang memadai untuk dan melakukan pertunjukan seni. Pandemi  menjadi momentum untuk membangun fasilitas-fasilitas penunjang kegiatan seni.

Saat dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengatakan, dukungan terus diberikan ke penyelenggara kegiatan seni budaya selama pandemi. Berbagai skema dukungan pun disiapkan untuk tahun 2022. Kegiatan-kegiatan seni yang tertunda akan diwujudkan tahun ini dengan memerhatikan perkembangan kondisi kesehatan.

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan

Tulisan Terbaru

Tinggalkan komentar

Ayo Percepat Perubahan

Bayangkan Indonesia jadi tempat semua orang bisa mendapat manfaat maksimal dari seni — kita jadi bangsa yang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Seni jadi bagian terpadu dalam pendidikan dan segala kegiatan bermanfaat. Anda bisa membantu Koalisi Seni mendorong perubahan itu agar lebih cepat terjadi. Klik tautan ini untuk tahu caranya:

Silakan ketik dan tekan enter untuk mencari

X