/   
Komunitas Salihara
Pasar Minggu, Jakarta

Jl. Salihara No. 16, Pasar Minggu, Jakarta, Indonesia 12520

Komunitas Salihara adalah lembaga seni-budaya dan pusat kesenian multidisiplin milik swasta pertama di Indonesia, berdiri sejak 8 Agustus 2008. Komunitas ini didirikan oleh Goenawan Mohamad, sastrawan dan mantan pemimpin redaksi Majalah Tempo. Kegiatan Komunitas Salihara terpusat di Jalan Salihara No. 16, Pasar Minggu.

 

Cikal bakal Komunitas Salihara telah dimulai sejak tahun 1994, tepatnya ketika sejumlah sastrawan, seniman, wartawan, dan intelektual mendirikan Komunitas Utan Kayu yang beranggotakan Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Galeri Lontar, Teater Utan Kayu (TUK), Kantor Berita Radio 68H, dan Jaringan Islam Liberal. Aktivitas rutin Komunitas Utan Kayu beraneka macam, mulai dari diskusi sampai pementasan teater dan beberapa di antaranya adalah Jakarta International Puppetry Festival dan International Literary Biennale. Atas kebutuhan menampung segala aktivitas yang kian meluas tersebut, dibentuklah Komunitas Salihara.

 

Dalam menjalankan aktivitasnya, Komunitas Salihara bertujuan untuk memelihara kebebasan berpikir dan berekspresi, menghormati perbedaan dan keragaman, serta menumbuhkan dan menyebarkan kekayaan artistik dan intelektual. Upaya tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi Indonesia yang meskipun sudah lebih dari dua dekade menganut demokrasi elektoral, masih banyak mengancam kebebasan berpikir dan berekspresi. Aktivitas Komunitas Salihara diolah dalam macam-macam program yang memprioritaskan kesenian-kesenian baru. Dengan maksud mengajak publik turut mendukung kebaruan tersebut, Komunitas Salihara membuka ruang untuk menyikapi secara kreatif berbagai warisan kesenian Indonesia dan dunia, sekaligus menjadi tanda masyarakat pendukung kesenian yang dinamis.

 

Kegiatan-kegiatan Komunitas Salihara mengacu pada program jangka panjang yang disusun dalam berbagai bentuk seperti pertunjukan, pameran, olah pemikiran, kajian seni-budaya, dan program edukasi yang telah melalui seleksi ketat dewan kurator. Beberapa kurator yang bekerja untuk Komunitas Salihara di antaranya adalah Asikin Hasan, Ayu Utami, Goenawan Mohamad, Nirwan Dewanto, Tony Prabowo, Hendro Masto, dan Zen Hae.

 

Program-program Komunitas Salihara dilangsungkan secara rutin, di antaranya adalah dua festival besar SIPFEST (Salihara International Performing Art Festival) dan LIFES (Literature and Ideas Festival), serta program-program reguler seperti Salihara Jazz Buzz, Seri Kuliah Umum Salihara, Kompetisi Karya Trimatra, Helateater, dan Helatari.

New Post

Imagination and critical thinking are the keys to change. Therefore, art is a fundamental prerequisite for the realization of democracy. Support us in establishing policies that fully advocate for artists.