/   
Naomi Srikandi
DI Yogyakarta

DI Yogyakarta

Email Address: nsrikandi@gmail.com

Naomi Srikandi adalah seorang aktor, sutradara, dan penulis naskah teater asal Yogyakarta, lahir pada 1975. Ia pernah mendalami ilmu komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Ia juga menjalani program residensi seniman yang diselenggarakan oleh DasArts Master School of Theatre, Amsterdam, Belanda dan Hooyong Performing Arts Center, Wonju, Korea Selatan. Naomi pernah berafiliasi dengan Teater Garasi sejak 1994 sampai 2016, sampai kemudian bersama Dhyta Caturani, Felencia Hutabarat, dan Lisabona Rahman, berinisiatif membentuk ruang ekspresi yang menunjukan visi keseniannya, bernama Peretas (Perempuan Lintas Batas). Dalam proses kreatif, Naomi biasa mengedepankan estetika sebagai kerangka kerja untuk melacak pertanyaan-pertanyaan mengenai timbal balik antara imaji, suara, dan teks sehari-hari dengan politik. 

 

Sebagai aktor, Naomi terlibat dalam aneka macam pertunjukan, antara lain teater-tari Waktu Batu dan opera The King’s Witch bersama Teater Garasi, serta musikal multibahasa Prism bersama Kageboushi Theater Company Jepang, Toy Factory Singapura, PETA Philipina, Teater Koma Indonesia, Actor’s Studio Malaysia, dan Bangkok Royal Theatre Thailand. Ia juga terlibat dalam proyek-proyek internasional seperti The Seven Spirit Banquet, produksi PARC dan Polynational Arts Carnival dan Di Cong Bak produksi Teater Garasi, Komunitas Tikar Pandan-Aceh, dan Theater Embassy-Amsterdam. Sebagai associate artistic director, Naomi bekerja sama dengan teater Jerman Rimini Protokoll dan Teater Garasi untuk pertunjukan 100% Yogyakarta yang melibatkan 100 orang warga Yogyakarta melalui pendekatan teater dokumenter.

 

Bersama Peretas, Naomi bergerak mengedepankan politik solidaritas feminis antar perempuan pekerja seni di Indonesia. Ia menata gagasan dan program-program yang bertujuan mendukung ruang produktif dan reproduktif bagi perempuan pekerja seni, antara lain Peretas Berkumpul, riset, penerbitan buku, dan diskusi publik. Aneka kegiatan yang dihelat itu juga sebagai bentuk kontribusi dalam perluasan pengertian praktik seni budaya, yang tidak hanya melulu berhubungan dengan produktivitas industri kreatif atau karir individu, tetapi juga transformasi sosial dan distribusi pengetahuan bersama. 

 

Beberapa karya tunggal Naomi menggunakan metode otobiografis dan merespon  seni rupa, antara lain After Ana Mendes: Self Portrait dan After Ugo Untoro: A Mother’s Short Story. Ia juga menyutradarai pementasan Medea Media, yang dipresentasikan di Women Playwrights International Conference di Sodra Teatern, Stockholm, Swedia dan Goyang Penasaran, yang dipresentasikan di Festival Salihara. Kedua karya tersebut dianugerahi Empowering Women Artist dari Yayasan Kelola.

 

Selain bergiat dalam seni pertunjukan, karya tulis Naomi diterbitkan di berbagai media massa dan jurnal, cerpennya terpilih dan diterbitkan oleh Anugerah Sastra Pena Kencana dalam 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 dan 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2009. Naskah dan teks-untuk-pertunjukan yang ditulisnya antara lain. Perbuatan Serong (Omah Sore dan Indonesian Playwrights Forum, 2011), Medea Media, Goyang Penasaran (KPG, 2012), dan Unavailable for Roosters. Naomi juga menerjemahkan lakon klasik Jepang Shichinin Misaki bersama Pacific Basin Association Jepang dan The Company India.

New Post

Imagination and critical thinking are the keys to change. Therefore, art is a fundamental prerequisite for the realization of democracy. Support us in establishing policies that fully advocate for artists.