/   
Yayasan Biennale Jogja
DI Yogyakarta

Taman Budaya Yogyakarta
Jl. Sriwedari 1, Yogyakarta
Indonesia

Telephone Number: 0274 587712
Email Address: the-equator@biennalejogja.org

Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) merupakan organisasi penyelenggara Biennale Jogja yang didirikan pada 23 Agustus 2010. Organisasi non profit ini memiliki visi dan misi mengembangkan konsep strategis perencanaan kota yang berbasis seni-budaya, dan penyempurnaan kerangka kerja kultural kota masa depan sebagai ruang hidup bersama yang adil dan demokratis. YBY berfokus pada pengelolaan kekayaan budaya untuk mengoptimalkan potensi kreativitas seniman serta pemanfaatan aset budaya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Yayasan Biennale Yogyakarta telah mengelola Biennale Equator adalah seri biennale yang akan diselenggarakan dari 2011–2022. Biennale ini adalah titik berangkat untuk membaca kembali dunia. Biennale Jogja seri Equator membawa Indonesia, khususnya Yogyakarta, mengelilingi planet Bumi selama 10 tahun. Yayasan Biennale Yogyakarta mengasumsikan ekuator sebagai perspektif baru dalam membuka diri untuk melakukan konfrontasi atas kemapanan. Dalam setiap penyelenggaraannya, Biennale Equator akan bekerjasama dengan satu atau lebih negara atau kawasan di sekitar ekuator atau khatulistiwa.

 

Biennale Equator #1(2011) berkolaborasi dengan India, Biennale Equator #2 (2013) bermitra dengan Negara-negara kawasan Arab, Biennale Ekuator #3 (2015) bekerja sama dengan Nigeria, Biennale Equator #4 (2017) berkarya dengan seniman-seniman dari Brazil, Biennale Equator #5 (2019) berfokus pada negara-negara di Asia Tenggara. Biennale selanjutnya akan dilaksanakan pada 2021, Biennale Equator #6 berencana berkolaborasi dengan negara-negara di Kepulauan Pasifik dan Australia, termasuk Indonesia sebagai Nusantara. Konklusi perjalanan menempuh garis khatulistiwa akan ditutup dengan Konferensi Equator pada 2022. Perjumpaan melalui kegiatan seni rupa dalam Biennale Equator diupayakan untuk membangun semangat berjejaring yang berkelanjutan di antara para praktisi di kawasan ekuator. Dengan jejaring tersebut, Biennale Jogja dapat memberikan kontribusi pada terbentuknya topografi medan seni rupa global yang dirumuskan secara baru.

 

Selain pameran seni, ada pula program Simposium Khatulistiwa yang menjadi ruang kolektif pertukaran wacana sehingga pemikiran dan pengkajian tentang khatulistiwa dapat menjadi jejaring jangka panjang. Simposium juga menjadi penghubung yang mempertemukan masyarakat seni dengan kelompok intelektual dan akademisi.

 

Pada awal 2019, YBY menginisiasi program baru, Asana Bina Seni yang mendukung terciptanya ekosistem seni rupa yang berkelanjutan di Yogyakarta. Gagasan ini berawal dari visi YBY untuk berkontribusi dalam proses pendidikan seni. Setiap kelas merupakan Program Jangka Panjang yang terdiri dari kelas-kelas teori bersama pembicara yang berpengalaman, praktik keterlibatan dalam peristiwa seni dan pemetaan lingkungan. Pada 2020, Asana Bina Seni membuka tiga kelas, yakni Kurator, Seniman dan Kolektif. Output dari kelas ini adalah pameran yang mempresentasikan karya peserta program kelas Asana Bina Seni Kurator, Asana Bina Seni Seniman, Asana Bina Seni Kolektif dan Seniman Panggilan Terbuka Karya Normal Baru.

 

New Post

Imagination and critical thinking are the keys to change. Therefore, art is a fundamental prerequisite for the realization of democracy. Support us in establishing policies that fully advocate for artists.