/   
Fransiskus Delvi Abanit Asa
Atambua

Belu, Nusa Tenggara Timur

Fransiskus Delvi Abanit Asa adalah Pastor Keuskupan Atambua, juga pegiat seni yang aktif membangkitkan semangat belajar musik secara tepat. Merintis SALT Atambua (Sanggar Belajar Alternatif) sebagai ruang belajar kreatif bagi anak-anak. Banyak sekali menjadi juri dalam pelbagai ajang perlombaan seni dan budaya. Pernah menjadi salah satu juri Festival Paduan Suara Gerejawi Indonesia – Timor Leste tahun 2019 sebagai ajang silaturahmi budaya dan gereja dua negara yang bertalian secara kultural. Diharapkan kerjasama ini menjadi peluang untuk meningkatkan perekonomian bangsa dan menjadi penggerak.

 

Ia banyak terlibat dalam kegiatan Sosio kultural dan antropologi.  Halte Kopi Atambua merupakan sebuah aksi kreatif yg dirintis sebagai ruang publik berbasis nongkrong di Atambua kota perbatasan. Niatannya adalah ruang ini boleh menjadi tempat nongkrong, di sana boleh terbangun kondisi sharing ide dan diskusi. Sejak berdirinya, tahun 2016, halte kopi ini menjadi cafe perdana di Atambua berbasis ruang publik. 

 

Bagi Romo Delvi–sapaan akrabnya–kebudayaan dan segala segmennya merupakan pilar peradaban yang sangat kuat membentuk mental dan karakter bangsa dan gereja. Bersama beberapa rekan, merintis pula komunitas pemerhati budaya berbasis ekosistem sejak tahun 2018. Komunitas ini dikenal dengan sebutan JEF (Jalinan Ekokultur Fohorai). Di bawah payung platform indonesiana, JEF merintis dan menginisiasi kegiatan kebudayaan Akbar di Belu, perbatasan Indonesia – Timor Leste. Kegiatan ini dikenal sebagai Festival Fohorai. Meski banyak mengundang perhatian, festival ini tetap fokus pada spirit kebudayaan sebagai jalinan ekosistem. 

 

Dalam spirit JEF, Ia menjadi inisiator aktif berdirinya museum budaya perdana di Timor, yakni Museum Fohorai. Niatnya sederhana, yakni museum Fohorai ini menjadi wadah yang menarik bagi generasi mendatang, yang bercerita tentang kultur dan pendidikan berkarakter. Dengan segala keterbatasan sumber daya dan koleksi artefak, museum ini ke depan diharapkan menjadi ruang belajar kultur yang baik, sekaligus menjadi pemantik bagi masyarakat untuk tetap melestarikan adat dan budaya agar tetap terjaga dan tidak gampang punah ditelan waktu.

 

Ia menjadi salah satu team penyusun PPKD Kabupaten Belu dan menjadi wakil ketua Team PPKD Kabupaten Belu. Terlibat aktif dalam diskusi-diskusi kebudayaan dan seni dengan komunitas adat. Aktif membuat riset inisiatif sosio-antropologi di Timor. Tahun 2015 terlibat dalam Kongres Kesenian Indonesia di Bandung. Dan sejak tahun 2015 menjadi anggota Koalisi Seni.

Tulisan Terbaru
Ayo Percepat Perubahan

Bayangkan Indonesia jadi tempat semua orang bisa mendapat manfaat maksimal dari seni — kita jadi bangsa yang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Seni jadi bagian terpadu dalam pendidikan dan segala kegiatan bermanfaat. Anda bisa membantu Koalisi Seni mendorong perubahan itu agar lebih cepat terjadi. Klik tautan ini untuk tahu caranya:

Silakan ketik dan tekan enter untuk mencari

X