/   
Kartika Jahja
Jakarta

DKI Jakarta

Kartika Jahja adalah seorang musisi independen dan aktivis kesetaraan gender, Ia lahir di Jakarta 19 Desember 1980. Tika, sapaan akrab Kartika Jahja, menempuh studi di The Art Institute of Seattle, Washington, Amerika. Cemerlangnya Tika dalam menekuni musik sudah terlihat sejak kuliah, Ia sempat tergabung dengan band Yoko Phono dan Rhea Sisters Project.

 

Kendati Tika bergerak melalui jalur independen, karyanya melejit diakui publik Indonesia. Ia mengaku bahwa jalur non-komersil memberinya jalan untuk bebas berkarya dengan jujur. Album solo perdananya bertajuk Frozen Love Songs rilis pada tahun 2005 dan mengejutkan industri musik lokal karena kurang akrab dengan penyanyi perempuan yang keluar dari jalur pop. Setelah itu, bersama grup musiknya Tika and The Dissidents merilis lagu The Headless Songstress pada tahun 2009. Paduan antara jazz, blues, punk, waltz, dan tango dengan lirik cerdas dan politis dalam lagu tersebut mendapat respon luar biasa dari penggemar musik dan media, baik media nasional maupun internasional. 

 

Album lain Tika and The Dissidents bertajuk Merah yang rilis pada 2016 memuat lagu-lagu padat makna, di antaranya Unlearn the Fight, Lies My Teacher Told Me, Hawaiian Chicken Jam, Pukul Rata, dan A Normal Song. Bersamaan dengan album tersebut, Tika juga merilis single pertama berjudul Tubuhku Otoritasku. Di samping itu, Vokal Tika banyak mengisi scoring dan soundtrack film, di antaranya Janji Joni, 9 Naga, Berbagi Suami, Kala, Gara-Gara Bola, Perempuan Punya Cerita, Quicky Express, dan Pintu Terlarang.      

 

Seiring dengan aktivitas musiknya, Tika sering mengkampanyekan beragam isu perempuan dan kekerasan berbasis gender. Ia tergabung dalam gerakan global anti kekerasan terhadap perempuan One Billion Rising dan mengorganisir One Billion Rising Indonesia bersama beberapa aktivis dan seniman di Jakarta. Tika juga membentuk Yayasan Bersama Project, yang giat mengedukasi publik tentang kesetaraan gender melalui musik, seni, dan budaya populer. Lebih lanjut, Ia tergabung dengan macam-macam gerakan perempuan seperti Kolektif Betina dan Mari Jeung Rebut Kembali.     

 

Atas beragam karya dan aktivitas yang Ia lakukan, Tika mendapat beraneka macam penghargaan. Oleh majalah TIME Asia, Ia dijuluki sebagai “Indonesia’s Hottest Diva”. Majalah Rolling Stone menyebutnya sebagai “Penyanyi Solo Perempuan Independen Terbaik yang Dimiliki Indonesia” dan “30 Women Who Rock”. Bersama grup musiknya, Tika dipilih sebagai Tokoh Seni Musik 2009 oleh majalah Tempo dan “Perempuan Penembus Batas” dalam bidang seni dan gerakan sosial. Ia juga termasuk dalam 100 perempuan inspiratif di dunia versi BBC pada tahun 2016.

 

Selain giat bermusik dan aktif dalam gerakan perempuan, aktivitas Tika beraneka macam. Ia mengelola kafe Kedai di Kemang, Jakarta Selatan, menulis kolom mingguan Street Smart di The Jakarta Post, berakting dalam berbagai film seperti Kado Hari Jadi, Pintu Terlarang, dan At the Very Bottom of Everything. Ia juga terlibat dalam pementasan teater Subversif adaptasi karya Henrik Ibsen, Enemy of The People dan ikut serta menampilkan karya dalam pameran seni rupa Wani Ditata Project yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta.  

 

Tulisan Terbaru
Ayo Percepat Perubahan

Bayangkan Indonesia jadi tempat semua orang bisa mendapat manfaat maksimal dari seni — kita jadi bangsa yang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Seni jadi bagian terpadu dalam pendidikan dan segala kegiatan bermanfaat. Anda bisa membantu Koalisi Seni mendorong perubahan itu agar lebih cepat terjadi. Klik tautan ini untuk tahu caranya:

Silakan ketik dan tekan enter untuk mencari

X