/   

Lasja F. Susatyo adalah seorang sutradara film yang lahir pada 10 Oktober 1970. Ia menempuh pendidikan sarjana (1989-1994) di jurusan Sastra Inggris Universitas Indonesia dan lanjut mendalami Film dan Komunikasi saat magister (1995-1997) di program Liberal Studies, Towson University, Amerika Serikat.

 

Kiprah Lasja di dunia film berawal dari rasa kepincutnya pada film dokumenter berjudul Ring of Fire. Karya tersebut menggambarkan kawasan Indonesia dan melecut Lasja untuk berkarya. Karirnya dalam industri film kemudian dimulai ketika Ia bergabung dengan rumah produksi Miles Film. Pada masa-masa tersebut, Lasja memulai karir filmnya menjadi asisten sutradara dan tim kreatif untuk film Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Ia kemudian dikenal sebagai sutradara video klip musik untuk berbagai grup dan penyanyi populer seperti Melly Goeslaw, Iwan Fals, The Fly, Wayang, dan Gigi. Selain merilis film dokumenter pertamanya Cerita dari Taka Bonerate (2002), di sana Lasja juga meluncurkan feature film pertamanya Bekisar Merah (2003). 

 

Setelah itu, Ia melanjutkan kiprahnya dengan menyutradarai berbagai film. Dalam masa-masa awal berkarya, Lasja lebih sering membuat roman fiksi anak muda Lovely Luna (2004), Dunia Mereka (2006), dan Bukan Bintang Biasa (2007). Makin ke sini perasaannya terusik untuk membuat sesuatu yang berdampak pada masyarakat sosial. Ia banting stir dengan menyutradarai film-film yang kental dengan berbagai isu seperti Langit Biru (2011) dengan isu anti-bullying, Cinta dari Wamena (2013) dengan permasalahan HIV/AIDS, dan Sebelum Pagi Terulang Kembali (2013) yang mengangkat perjuangan anti-korupsi. Di samping itu, Lasja juga menjadi sutradara Begini Lho, Ed! (2013) sebuah grafis dokumenter hasil kerja sama dengan seniman grafis Alit Ambara, untuk menceritakan tentang Edhi Sunarsa, pematung legendaris dengan salah satu karya terkenalnya Selamat Datang.

 

Selain menyutradarai macam-macam film panjang, Lasja F. Susatyo kerap membuat film pendek, karya dokumenter, fragmen film, dan lain-lain. Ia pernah membuat film pendek berjudul (Bukan) Kesempatan yang Terlewat (2006), fragmen film Cerita dari Jakarta dalam epilog antologi film Perempuan Punya Cerita (2008), membuat dokumenter mengenai seniman lekra dalam Tjidurian 19 (2009), membuat film penyuluhan anti korupsi untuk siswa sekolah dengan judul Aku Padamu dalam antologi film Kita VS Korupsi (2012), kisah masyarakat Papua berjudul Papua Bicara (2015) dan Perempuan Tanah Humba (2019).    

 

Saat ini, Lasja banyak mengerjakan serial untuk platform online, dimulai dari Knock Out Girl (2018) di VIU, Scandal (2021) di vidio.com, Bali Man Amour (on progress) di Kanal Budaya, dan  Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi (2020) di Netflix.

 

Di tengah beragam aktivitasnya dalam dunia film, Lasja F. Susatyo juga pernah menjadi dosen di Universitas Paramadina (2009-2011) dan menjadi ketua umum pertama Asosiasi Sutradara Film Indonesia/IFDC (2013-2018), Ketua Hari Film Nasional (2016) dan Anggota Komite Program FFI (2018-2020). Lasja juga seorang ibu yang percaya, di antara berbagai kesibukan dalam dunia film yang menyita waktu, anak-anaknya di rumah akan selalu mendukung karena Ia tidak lelah memberitahu dan mereka paham bahwa apa yang dilakukannya penting untuk banyak orang.   

Tulisan Terbaru

Imajinasi dan daya berpikir kritis adalah kunci perubahan. Karena itu, seni merupakan prasyarat utama terwujudnya demokrasi. Dukung kami untuk mewujudkan kebijakan yang sepenuhnya berpihak pada pelaku seni.