/   
Mariadi Dienaldo
Jakarta

DKI Jakarta

Mariadi Dienaldo adalah seorang seniman lintas disiplin yang menekuni bidang teater, tari, sastra, salah seorang pendiri Badan Perfilman Indonesia, dan 3 periode menjabat sebagai sekretaris dan wakil ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI). Laku keseniannya tak berhenti pada kekaryaan, melainkan sebagai diplomasi budaya untuk melerai konflik perbedaan SARA di tengah masyarakat. 

 

Taman Ismail Marzuki adalah tempat bersejarah bagi Mariadi. Di tempat itulah ia, pada 1987-an, diajak sutradara Teater Tanah Air cum dosen Institut Kesenian Jakarta, Jose Rizal Manua untuk melihat proses latihan teater. Meski awalnya merasa aneh melihat para aktor berlatih akting, siapa sangka, setelah lebih lama mengamati, ia tertarik untuk ikut bergelut di sana, peristiwa itu menjadi gerbang pertama baginya memasuki dunia teater. Sejak itu, ia intens membantu Jose Rizal melatih teater anak, remaja, hingga dewasa yang melahirkan aktor – aktor teater dan film pendatang baru. 

 

Bekal pengalamannya di Teater Tanah Air memantapkan langkahnya untuk berproses dari panggung ke panggung bersama kelompok tari dan teater lainnya. Ia tercatat pernah aktif di Teater SAE garapan Budi S Otong, memainkan lakon Biografi Yanti Setelah 12 Menit (1992) karya Afrizal Malna, dengan Teatro memainkan The Just Assassins/Teroris karya filsuf, Albert Camus, berlatih tari minang di Gumarang Sakti Total Teater, dan bersama Iwan Fals ikut berlatih di Bengkel Teater Rendra. 

 

Meski aktif berkesenian, pria kelahiran 21 Maret 1967 ini tak mengambil studi seni di ranah akademik. Ia tercatat menamatkan studi Ilmu Hukum di Universitas Indonesia dan sempat belajar Ilmu Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. 

 

Sejak kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, Mariadi aktif mengurus Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI), bersama seniman Ray Sahetapy dan lainnya. Bersama LESBUMI, Mariadi membuat beragam program seni budaya untuk seluruh pesantren di bawah Nahdlatul Ulama (NU) seperti diskusi buku, pameran seni rupa, dan pertunjukan teater/tari. Bertekun di LESBUMI turut membawanya studi lapangan, melerai konflik SARA di berbagai provinsi,  dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, NTB, hingga Papua. Pun negara – negara ASEAN dan Asia Selatan, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, India, China, hingga Qatar. Sederet pengalamannya mengecap perbedaan budaya di berbagai daerah di Indonesia dan dunia membuatnya percaya, seni selalu berhasil menghilangkan konflik SARA, kelentingan seni membuat manusia memanusiakan manusia.  

 

Tulisan Terbaru

Imajinasi dan daya berpikir kritis adalah kunci perubahan. Karena itu, seni merupakan prasyarat utama terwujudnya demokrasi. Dukung kami untuk mewujudkan kebijakan yang sepenuhnya berpihak pada pelaku seni.