/   

Mitu M. Prie adalah seorang konsultan independen untuk komunikasi kreatif seni budaya, praktisi arkeologi, penulis, dan pengajar tamu. Ia lulus dari Jurusan Arkeologi, Universitas Indonesia pada 1984. Sempat bekerja di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta; lalu di tahun 1988 Ia juga mengawali profesi sebagai praktisi komunikasi. Mulai dari public relation, video production, periklanan selama bertahun-tahun, multi-media, dan pertelevisian. Selain itu, Mitu aktif dalam berbagai komunitas jejaring seni dan budaya. 

 

Sejak 1991 bersama komunitas kreatif periklanan Ia mendirikan Kelompok Kreatif Indonesia (KKI), si Kancil. Melakukan beberapa kampanye sosial budaya, antara lain pameran Iklan Layanan Masyarakat pertama, di Museum Nasional 1992, Jakarta. Salah satu pendiri SatuDunia (One World), Jakarta (2006). Penggagas komunitas Miyara Sumatera, dan kordinator untuk program diskusi pelestarian – Living Heritage: “Sungai Musi, Jangan Sampai Kita Terlambat Lagi”, Palembang (2011). 

 

Seiring waktu, Ia menekuni profesi sebagai konsultan komunikasi kreatif dengan basis budaya; untuk berbagai lembaga non-profit lokal dan Internasional. Menjalankan program sosial masyarakat berbasis budaya di berbagai provinsi. Termasuk di Papua, Ia bekerja sekitar 10 tahun di sana. Mitu menangani riset, pengembangan strategi, dan program komunikasi sosial budaya bersama dengan  komunitas lokal di berbagai provinsi tersebut. Di samping itu, aktivitasnya beraneka ragam, mulai dari menjadi narasumber di berbagai diskusi,  mengadakan pameran, menulis, meneliti, menjadi pengarah kreatif, sampai mengisi materi di berbagai forum. 

 

Ia menjadi narasumber di diskusi webinar Omah Library Pemapar: Harmoni Arsitektur dan Arkeologi (2020); Koordinator dan supervisi program: Kembali ke Tano, restorasi bangunan adat Sopo Bonggar, Batak – Tarutung (2019 – 2020); Penggagas dan narasumber dalam program Distraksi Budaya: Akar Suku Asal Nusantara, Indonesia Institute of Advance International Studies (INADIS), Jakarta (2018 & 2019); Tim ahli dan konsultan Revitalisasi Saribu Rumah Gadang, Solok Selatan, PUPR (2018 & 2019); narasumber dan paparan: Tenun dan Akar Peradaban, di Simposium Tenun Nusantara, Tarutung; program Indonesiana – Kemendikbud RI, (2018), dan; narasumber serta konsultan program Asmat Melihat Dunia, Exhibition & Talk Show; Han Awal & Rumah Asuh, Jakarta (2018).  

 

Dalam publikasi dan penelitian, Mithu menulis esai, “Fak-fak Kota Satu Tungku Tiga Batu”, dalam Antologi Kota (Universitas Warmadewa, 2018); esai “Mawine Tangguh di Tanah Megalitik Sumba” dalam buku Berburu dan Berguru di Tanah Marapu (2017, Rumah Asuh: Jakarta); karya buku esai dan dokumentasi foto Pancaran Limasan (2016, Red & White Publishing – Tembi Rumah Budaya, Jakarta); editor, dokumentasi foto, dan penulis “Menantang Tekstil Nusantara” dalam buku Perjalanan Tenun (2014: Jakarta); penulis “Komunikasi Visual Arca-arca Wilwatikta” dalam buku Arca (2014, Sangkring Art – BolBrutu: Jogjakarta), dan menerbitkan buku berisi esai dan dokumentasi foto Ini Tong Pu Hidup (KPG: Jakarta, 2012). Di samping menulis, Ia juga meneliti soal isu-isu Perempuan Tradisi di Sumba, Rumah Asuh – Han Awal & partners (2012 & 2013). Riset Tenun dan Budaya Batak, 14 Kabupaten Tano Batak, (2013). Dan, melakukan observasi pada peninggalan rumah adat Toraja, Toraja 2006. 

 

Mithu juga mengadakan pameran, yaitu pameran foto bersama dengan karya foto “Perempuan Sumba” dalam rangka 60 tahun Konferensi Asia Afrika, Bandung (2015), pameran dengan karya foto “Sri Tanjung” dalam Vision International Image Festival Angasraya: Ocean Streams of Freedom, Indonesia Horizon, Bali (2013), ikut serta dalam International Woman’s Photography (2012 & 2014), dan turut ambil bagian dalam pameran bersama Mendamba Tubuh dengan karya foto “Lanskap Sore”, Goethe Institute, Jakarta (2010). 

 

Selain itu, Mithu kerap menjadi konsultan, pengarah kreatif, dan pemateri, seperti ketika  pergelaran seni dan tari “Pulung Gelung Drupadi” di Teater Jakarta TIM, (Suksma Budaya, 2014), menjadi konsultan budaya dan pemapar materi dalam Terracotta Biennale, Jogjakarta (2015), “Bambu Riwayatmu Dulu” dalam Bamboo Biennale, Solo (2014), “Lestari Terakota” dalam Terracotta Biennale, Jogjakarta (2015). Pemapar dalam diskusi Visual Mengikat Sejarah, Ruang Rupa, Jakarta, (2013), Pandangan Arkeologi dalam Arsitektur Tradisi, Obrolan para arsitek muda, Aksara Kemang, Jakarta, (2007), dan arkeologi dan arsitektur tradisi, program IAI Pusat JDC (1994 & 1995). Ia juga pernah menjadi kordinator dan moderator dalam program Diskusi Budaya (road show): Medan, Bandung, dan Bali, Majalah Warisan (2011-2012) dan ikut berpartisipasi dalam pertemuan Arsitek Muda Indonesia, di tahun 90-an. 

 

Mithu juga pernah menjadi pengajar tamu Sejarah Seni Rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) di Jogjakarta untuk beberapa waktu; di Universitas Atma Jaya; Imago Modern School of Advertising; Binus University, Jakarta, dan; Pengajar tamu topik Rumah Majapahit, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik UI, 1985.

 

Tulisan Terbaru

Imajinasi dan daya berpikir kritis adalah kunci perubahan. Karena itu, seni merupakan prasyarat utama terwujudnya demokrasi. Dukung kami untuk mewujudkan kebijakan yang sepenuhnya berpihak pada pelaku seni.