/   
Purnama Sari Pelupessy
DKI Jakarta

Jakarta

Purnama Sari Pelupessy adalah seorang peneliti, penulis, sutradara, dan produser film. Sejak Juli 2020, ia bergabung di Pusat Riset Pendidikan Masa Depan (PRPMD) Erudio Indonesia sebagai Ahli Ekosistem Pendidikan.

 

Karya penelitiannya tentang isu perempuan dan ketenagakerjaan tersebar di berbagai publikasi dan forum ilmiah di antaranya, Apresiasi Jurnalisme Warga dengan artikel “THR untuk PRT Derma atau Kewajiban Majikan? International Labour Organization (ILO) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) 2016, presentasi makalah terpilih dalam Konferensi Pengetahuan dan Perempuan III: Seksualitas, Viktimisasi, dan Penghapusan Kekerasan Seksual (Universitas Indonesia, 2017, dan Upah Pekerja Rumah Tangga Mewujudkan Kerja Layak, Belajar, Berserikat, dan Berjuang (Jurnal Perempuan, Edisi 94, 2017). 

 

Di blog pribadinya, perempuan yang juga dikenal dengan nama Qory Dellasera ini intens menulis tentang advokasi perempuan dan ketenagakerjaan. Dari pengalamannya turun meneliti dan mendampingi perempuan pekerja, Qory mengatakan, gerakan perempuan melawan kekerasan tak boleh mengawang-awang, harus turun ke tempat di mana kekerasan itu terjadi. Beberapa artikel riset Qory di antaranya, Upaya dan Pencegahan Kekerasan Seksual Melalui Teknologi Media: Studi Kasus Korban R (FK, UI, 2017), dan Kerja Layak Bagi Pekerja Rumah Tangga,

 

Semangatnya mengadvokasi isu perempuan tak hanya di ranah ilmiah, ia pun turut merambah panggung seni pertunjukan, film, dan sastra. Ia menjadi asisten sutradara II dalam pertunjukan drama musikal bertajuk Ode Tusuk Konde LBH APIK yang diproduksi bersama Suara Penyintas untuk Keadilan, dan puisi berjudul Aku Perempuan Merdeka dalam Voices Breaking Silence Antologi Puisi Melawan Kekerasan. Ia pun gemar memproduksi film pendek karya-karyanya antara lain, Eksekutif Produser (Barep Lanang, 2019),Produser (Halukinetic, 2019), Sutradara dan Penulis Naskah (Ketemu Mantan, 2020), Line Produser (Ketemu Mantan, 2020), dan (Shit Happens, 2020). 

 

Pada Desember 2018, ia menjadi satu dari 12 anggota Koalisi Seni yang berpartisipasi dalam Kelas Advokasi Kebijakan Seni Indonesia (AKSI) yang digelar Koalisi Seni dan Sekolah Tinggi Hukum Jentera. Dalam pemaparannya, ia menyarankan cara menganalisis situasi politik dan contoh keberhasilan advokasi di sektor seni. Ketika memimpin Sang Akar Institute,  pencinta kopi ini aktif mengembangkan literasi kritis untuk anak muda dengan pendekatan media kreatif seperti lokakarya penulisan skenario film, diskusi, belajar filsafat, hingga pemutaran film alternatif melalui mini bioskop Sinema Sang Akar di jalan Tebet Dalam, Jakarta Selatan.

Tulisan Terbaru

Imajinasi dan daya berpikir kritis adalah kunci perubahan. Karena itu, seni merupakan prasyarat utama terwujudnya demokrasi. Dukung kami untuk mewujudkan kebijakan yang sepenuhnya berpihak pada pelaku seni.