/   
Glenn Fredly

Jakarta

(c) Crist Tarigan

Glenn Fredly Deviano Latuihamallo (30 September 1975-8 April 2020) adalah seorang penyanyi, penulis lagu, produser, dan aktivis. Ia menjadi anggota Koalisi Seni sejak 2018. Glenn melalui Yayasan Ruma Beta bekerja sama dengan Koalisi Seni menggagas Konferensi Musik Indonesia yang pertama pada 2018 di Ambon. Inisiatif bersama ini kemudian bertajuk Kami Musik Indonesia (KAMI), yang bertujuan mempertemukan para pemangku kepentingan demi memajukan ekosistem musik Indonesia.

 

Wafatnya Glenn meninggalkan duka mendalam bagi Koalisi Seni. Namun, karya dan karsanya akan terus jadi semangat bagi upaya meninggikan ekosistem musik di negeri ini.

 

Berikut ini kenangan tentang Glenn bagi dua orang di Sekretariat Koalisi Seni yang berinteraksi paling erat dengannya selama 2017-2020: Hafez Gumay dan Reisky Handika.


Nada Kasih Glenn Fredly untuk Musik Indonesia
Hafez Gumay, Koordinator Advokasi

 

Ini adalah cerita pengalaman pribadi saya bekerja bersama Glenn Fredly selama tiga tahun terakhir dalam mengadvokasi kebijakan musik Indonesia.

 

Bertemu di Kementerian Keuangan
Pertemuan pertama saya dengan Glenn Fredly terjadi September 2017. Saat itu saya dan Linda Hoemar Abidin (Pengurus Koalisi Seni) ikut menghadiri dialog perpajakan di Kementerian Keuangan bagi penulis dan pekerja seni yang sedang hangat karena protes Tere Liye pada pemerintah. Di sela acara, saya melihat Kak Glenn duduk di meja sebelah. Saya mendorong Mbak Linda berkenalan dengannya. Dalam kepala saya saat itu hanya terpikir satu hal, Glenn Fredly merupakan orang paling tepat untuk diajak bermitra apabila Koalisi Seni ingin terjun lebih dalam di ranah advokasi kebijakan sektor musik.

 

Awalnya Mbak Linda ragu untuk berkenalan dengan Kak Glenn, karena merasa Koalisi Seni terlalu asing untuknya. Namun, saya bersikukuh sehingga akhirnya Mbak Linda menyanggupi. Saat kami menyapa Kak Glenn, kesan pertama adalah ia orang yang sangat ramah dan terbuka. Kekhawatiran awal mengenai sosok Kak Glenn yang berjarak pun terbantahkan. Ia menyimak penjelasan Mbak Linda mengenai Koalisi Seni dengan sangat serius. Di akhir pembicaraan, Kak Glenn menyatakan sangat tertarik untuk bekerja sama dengan Koalisi Seni. Baik saya maupun Mbak Linda saat itu tidak menyadari, malam tersebut adalah awal dari kehadiran Kak Glenn mewarnai jejak langkah Koalisi Seni.

 

Konferensi Musik Indonesia Pertama di Ambon
Tidak lama berselang sejak pertemuan di Kementerian Keuangan, Kak Glenn menghubungi Koalisi Seni. Ia menyatakan keinginannya mengajak Koalisi Seni ikut membantu penyelenggaraan Konferensi Musik Indonesia yang pertama di Ambon. Tentu saja Koalisi Seni menyambut baik usulan tersebut. Selama tiga bulan, Koalisi Seni dan Kak Glenn beserta timnya mengutak-atik konsep konferensi musik berskala nasional pertama di Indonesia itu. Konferensi di Ambon berjalan lancar tanpa halangan berarti, dan menghasilkan 12 Rencana Aksi yang kemudian diserahkan langsung kepada Presiden Joko Widodo di Istana Negara.

 

Dari seluruh pencapaian itu, yang paling berkesan bagi saya justru ketika menemani Kak Glenn berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan di Ambon. Selama tiga hari, saya, Kak Glenn, dan Kak Heri (asisten Kak Glenn yang menyenangkan) berkeliling Ambon. Kami bertemu Wali Kota, Bapa Raja, hingga para musisi senior. Pada waktu itu saya melihat sisi lain dari seorang Glenn Fredly. Ia rendah hati dan mau berbagi cerita dengan siapa saja dengan tulus. Saya tidak menyangka Kak Glenn akan bercerita banyak mengenai pengalaman pribadinya kepada saya, orang yang baru dikenalnya hanya dalam hitungan bulan. Selain mengenai perjalanan karirnya, di satu kesempatan Kak Glenn bercerita mengenai alasan ia begitu peduli dengan Ambon. Ia lahir dan besar di Jakarta. Namun, karena merasakan sendiri kengerian dampak dari konflik horizontal yang melanda Ambon di awal 2000-an, ia membulatkan tekad menumbuhkan kebaikan di kota itu dengan apa yang ia punya: musik.

 

Gonjang-Ganjing RUU Permusikan
Pada akhir 2018, Kak Glenn mengirimkan naskah RUU Permusikan kepada Koalisi Seni. Ia meminta tolong agar naskah tersebut dipelajari. Tujuannya, agar ia bisa segera melakukan advokasi kepada para pemangku kepentingan. Januari 2019, hasil kajian Koalisi Seni atas RUU Permusikan dibahas dalam diskusi di Toko Musik Bagus Cilandak Town Square. Kajian itu kemudian dibawa ke pertemuan antara perwakilan musisi dan Ketua DPR RI. Tidak lama berselang, kabar mengenai adanya naskah RUU Permusikan yang isinya justru mengancam kemaslahatan para musisi itu pun menjadi perdebatan nasional. Musisi pun terbelah menjadi beberapa kubu. Ada yang menolak keras seperti Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan (KNTL RUUP). Sebagian musisi mendukung RUU Permusikan disahkan, sementara ada pula yang gamang dan terombang-ambing di antara keduanya. Dinamika politik membuat RUU Permusikan resmi dibatalkan pada Juni 2019.

 

Selama itu pula Kak Glenn menjadi salah satu musisi yang suaranya cukup diperhitungkan dalam kisruh RUU Permusikan. Sebagai orang yang tidak ingin berkonflik dengan sesama musisi, Kak Glenn sering kali menyampaikan pernyataan yang membuat dirinya seakan-akan menolak tapi juga mendukung RUU Permusikan. Akibatnya, tak jarang ia dituduh sebagai orang yang bertanggung jawab atas kebobrokan naskah RUU Permusikan oleh kubu yang menolak, sekaligus dianggap tidak menginginkan adanya perbaikan keadaan secara konkret oleh kubu yang mendukung.

 

Ini membuat saya frustasi. Sebagai orang yang mengetahui Kak Glenn menggulirkan wacana RUU Permusikan dengan niat memperbaiki tata kelola industri musik, saya tidak rela Kak Glenn mendapatkan tuduhan yang tidak benar. Namun, di sisi lain, saya juga gemas dengan sikapnya yang tidak tegas terhadap pihak yang mendukung ketentuan salah kaprah dalam RUU Permusikan. Saat itu terlintas pikiran untuk tidak lagi memperhitungkan Kak Glenn dalam advokasi RUU Permusikan.

 

Hanya saja, Almarhum Abduh Aziz, Ketua Pengurus Koalisi saat itu, berpesan agar saya tetap menemani Kak Glenn. Mas Abduh berkata, “Selama puluhan tahun menjadi produser film dan bertemu ratusan seniman sukses, aku belum pernah melihat seniman seperti Glenn. Seseorang yang terkenal dan berpengaruh namun tetap memiliki kerendahan hati untuk tidak egois dan berjuang tanpa harus diketahui banyak orang. Orang seperti Glenn itu langka. Justru kamu harus temani dia. Jangan dibiarkan sendirian.”

 

Sejak saat itu saya menyadari Kak Glenn adalah seorang pejuang yang tidak perlu pengakuan dan rela tercebur lumpur agar musik yang ia cintai menuju arah lebih baik. Sebuah kesalahan besar bagi saya apabila tidak berjalan di samping orang seperti Kak Glenn.

 

Ambon Resmi jadi Kota Musik Dunia
Cita-cita Kak Glenn menjadikan Ambon sebagai Kota Musik Dunia sudah digaungkan sejak masih mempersiapkan Konferensi Musik Indonesia pertama. Ia bersikukuh konferensi musik nasional perdana harus terjadi di kota itu karena akan memuluskan jalan Ambon menggaet predikat Kota Musik Dunia. Dampaknya, beban logistik membengkak dibanding jika konferensi diadakan di Pulau Jawa. Namun, nampaknya Kak Glenn tidak peduli dan terus berusaha mewujudkan perhelatan di Ambon walaupun harus tambal sulam di sana-sini.

 

Pada Oktober 2019, jerih payah itu terbayar sudah. Ambon resmi ditetapkan oleh UNESCO sebagai Kota Musik Dunia. Sebuah pencapaian yang tidak dirayakan seluruh negeri, tapi saya yakin dirayakan dengan gegap gempita oleh Kak Glenn dalam hati. Ia tidak pernah menyatakan dirinya sebagai orang yang berjasa atas keberhasilan Ambon jadi Kota Musik Dunia. Dalam berbagai wawancara dan diskusi ia selalu berterima kasih pada Pemerintah Kota Ambon, Ambon Music Office, dan Badan Ekonomi Kreatif atas prestasi tersebut. Tidak pernah saya mendengar ia menyebut namanya sendiri. Kak Glenn selalu mengatakan, “Ambon menjadi Kota Musik Dunia ini adalah hasil kerja kolektif.” Walau saya yakin tidak sedikit pengorbanan yang ia berikan demi mewujudkan mimpi besar itu. Rangkaian proses tersebut mengajarkan kepada saya bahwa kemenangan itu adalah untuk dibagi, bukan untuk dikuasai.

 

Konferensi Musik Indonesia 2019
Menyadari memperbaiki tata kelola industri musik Indonesia bukanlah kegiatan sekali selesai, Kak Glenn sejak awal menyatakan komitmennya untuk menyelenggarakan konferensi setiap tahun. Konferensi 2019 semula direncanakan akan terlaksana pada Hari Musik Nasional, tanggal 9 Maret, sebagaimana perhelatan pertama di Ambon. Pemilihan presiden membuat acara diundur hingga akhir tahun. Cukup banyak kendala dalam persiapan konferensi ini. Mulai dari persiapan yang tertunda karena polemik RUU Permusikan, masalah pendanaan, banyaknya pembicara yang berhalangan hadir, hingga lokasi kegiatan yang harus dipindahkan dari Jakarta ke Bandung. Namun, akhirnya semua tantangan tersebut dapat dilampaui dan perhelatan terlaksana baik.

 

Konferensi 2019 terasa berbeda dari kali pertama di Ambon, sebab kali ini Koalisi Seni terlibat penuh dalam persiapan dari nol. Hal tersebut membuat saya lebih sering berinteraksi dengan Kak Glenn. Dari sana saya melihat bahwa 2019 adalah tahun yang sangat sibuk bagi Kak Glenn. Ia harus membagi waktu antara berjibaku dalam kisruh RUU Permusikan, pengembangan M Bloc Space, peluncuran album baru, hingga persiapan pernikahannya. Namun, Kak Glenn hampir tidak pernah absen dalam setiap pertemuan mempersiapkan konferensi. Ia juga rela bolak-balik Jakarta-Bandung untuk bertemu para pemangku kepentingan. Melihat itu semua secara langsung, bagi saya Kak Glenn memiliki komitmen luar biasa dan semangat yang tak pernah habis untuk cita-citanya memperbaiki industri musik Indonesia. Kak Glenn menyadarkan saya yang sempat pesimis konferensi dapat terlaksana, bahwa keteguhan hati akan selalu dapat melampui semua keraguan.

 

Hari Musik Nasional 2020
Perayaan Hari Musik Nasional 2020 merupakan acara besar pertama Koalisi Seni dan Kak Glenn di tahun 2020. Seperti biasanya, Kak Glenn selalu menyempatkan diri untuk hadir dalam setiap rapat persiapan. Menjelang Februari, mulai terlihat ada yang berbeda dari Kak Glenn. Ia sering menggunakan masker, wajahnya terlihat pucat, dan suaranya tidak lagi lantang. Beberapa kali, pertemuan harus diundur karena kondisi kesehatan Kak Glenn yang tidak memungkinkan.

 

Rangkaian acara Hari Musik Nasional 2020 dapat terlaksana dengan lancar tanpa kendala. Hanya saja ada yang kurang. Kak Glenn tidak bisa hadir. Kabarnya ia tidak enak badan dan tengah sibuk mengurusi kelahiran anak pertamanya. Tidak ada kecurigaan bahwa Kak Glenn sedang mengidap penyakit yang serius. Ia selalu menyatakan dirinya hanya mengalami flu dan kelelahan. Ternyata, rapat persiapan Hari Musik Nasional akan jadi pertemuan saya yang terakhir dengan Kak Glenn.

 

Rangkuman perjalanan saya dengan Glenn Fredly adalah kisah yang singkat, tapi tidak mungkin terlupakan. Saya yakin apabila pertemuan malam itu di Kementerian Keuangan tidak pernah terjadi, saya akan kehilangan begitu banyak pelajaran hidup yang sangat berarti. Kak Glenn membuktikan niat yang tulus dan usaha tanpa henti akan melahirkan banyak kebaikan.

 

Terima kasih Kak Glenn atas seluruh perjuanganmu demi musik Indonesia. Selamat jalan, dan tetaplah bernyanyi sampai kita bertemu lagi suatu saat nanti.

 


Rebahlah dalam Tenteram, Kakabung
Reisky Handika, Koordinator Program Ekosistem Musik

 

Nama Glenn Fredly pertama kali sampai ke telinga saya pada saat kelas V, saat single perdananya, Cukup Sudah, populer tahun 1998. Sepanjang 20 tahun berikutnya, saya hanya mengenal wajah dan suaranya lewat serangkaian lagu-lagu yang dia bawakan. Sampai pada Oktober 2018, saat saya wawancara kerja dengan Koalisi Seni. Ia turut menjadi pewawancara. Itulah kali pertama saya mengenal langsung sosok Glenn Fredly.

 

Berbincang dengannya selama hampir tiga jam meyakinkan saya bahwa Glenn Fredly — yang kemudian akrab disapa oleh kami di Koalisi Seni dengan sebutan Kakabung, sebuah portmanteau kami yang bingung harus menyapa dia Kakak atau Bung — adalah seorang visioner dengan harapan-harapan besar bagi musik Indonesia. Sorot mata, ucapan, dan tindakannya menjadi bukti melimpahnya mimpi yang ingin dia wujudkan. Salah satu mimpi yang sempat terwujud adalah Konferensi Musik Indonesia.

 

Konferensi Musik Indonesia, yang seri pertamanya diadakan Maret 2018 di kota Ambon, merupakan platform temu dan diskusi berbagai tantangan dan kesempatan dalam usaha perkembangan industri musik Indonesia. Konferensi ini lahir sebagai buah pikir Kakabung yang kerap gemas dan gelisah melihat kondisi industri tempatnya berkarya selama lebih dari dua dekade. Konferensi jilid satu, dihadiri ratusan pegiat musik, merumuskan 12 Rencana Aksi yang hingga kini terus digulirkan. Konferensi jilid dua di Soreang, Bandung pada November 2019 menjadi bukti komitmen Kakabung menyinambungkan platform ini.

 

Kakabung bukan orang yang berdiam di menara gading. Dengan segenap kekuatannya, dia kerap mencari cara mengemukakan perihal dan memicu perubahan. Kakabung juga tak enggan terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dia inisiasi, mengadvokasikan tata kelola ekosistem musik yang lebih baik secara berkelanjutan. Dia tak sungkan memoderatori sesi diskusi atau menjadi narasumber di berbagai kesempatan. Pandangannya terhadap perbaikan musik Indonesia pun tak terkotak-kotak: dari industri musik gereja hingga pentas seni (pensi) sekolah menengah, dari musik religi hingga musik etnis, semua tak luput dari perhatiannya.

 

Antusiasme Kakabung terhadap regenerasi musik tercermin lewat kepercayaannya terhadap musisi-musisi muda untuk tampil. Masih saya ingat Kakabung yang mengundang musisi Faye Risakotta, bersama dengan belasan musisi lainnya, untuk bertemu Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo membahas RUU Permusikan yang sempat heboh diperbincangkan awal tahun lalu. Kakabung juga meminta musisi muda Kafin Sulthan Reviera membuka perhelatan Konferensi Musik Indonesia kedua di Soreang. Bersama lima orang lainnya, ia merintis ruang kreatif bernama M-Bloc yang memberikan kesempatan tampil tak terkecuali bagi musisi-musisi baru.

 

Kakabung adalah individu yang peka. Tidak sekali dua kali saya dengar dia berujar “Gila nih, pembagian royalti masih aja jadi masalah yang enggak kelar-kelar,” atau “Sedih gue ngelihat nasib musisi-musisi berumur yang udah enggak produktif tapi hidup susah di usia senja,” atau “Musik enggak boleh cuma asyik sendiri, karena musik punya potensi ngebangun jembatan dengan seni-seni lainnya untuk bikin perubahan.” Saya percaya semua ujaran tersebut timbul dari suatu tempat di dalam dirinya yang resah dan terusik oleh fakta-fakta yang dia alami. Yang membedakannya adalah langkah nyata yang dia ambil, atau setidaknya dia rencanakan, untuk bisa menjawab keresahan-keresahan itu.

 

Satu tahun bekerja bersama Kakabung meyakinkan saya bahwa tak ada sekat yang melingkupi Kakabung dan membatasinya dari orang lain. Hal-hal kecil berikut membuktikannya. Dia adalah orang yang mudah dihubungi dan tak sungkan menghubungi balik. Dia juga memegang janji yang sudah dia utarakan. Pernah suatu siang saya minta tolong Kakabung mengisi dokumen rencana kegiatan, dan dia baru membalas pesan saya petang hari: “Maaf Ki, aku baru selesai acara. Oke, aku akan kerjakan malam ini sesampainya di rumah ya.” Malamnya, meski sudah larut dan pastinya lelah, dia menyelesaikan bagiannya dan mengirimkannya kembali pada saya. Sebuah tugas kecil yang sebenarnya bisa ditunda sampai esok pagi.

 

Dia bukan seorang pengeluh. Dia seorang yang positif, yang optimis, yang kerap mengabarkan berita baik. Tak pernah rasanya saya dengar dia berkesah tentang apapun, termasuk kesehatannya.

 

Saya sudah kangen ngobrol panjang dengan Kakabung, mendengarkan ide-ide liarnya untuk musik Indonesia. Saya tak akan bisa lupa binar matanya saat memberitahu dirinya akan menikah, atau luapan kebahagiaannya saat mengabarkan kelahiran anaknya di akhir Februari silam melalui pesan singkat.

 

Kakabung, saya mau mengaku dosa. Saya sering berkelakar, “Duh, kalau rapat sama Kak Glenn pasti banyak ide baru yang nongol, liar banget,” dan memang kenyataannya hampir selalu seperti itu. Kehadiran Kakabung di rapat berarti ada gagasan baru yang harus kami garap.

 

Namun sekarang saya tersadar, mungkin itu cara Kakabung memberitahu kami semua bahwa waktu tak panjang, dan bahwa segala apa yang kita lakukan hari ini punya tenggat. Maka itu, Kakabung tak pernah mau melambat. Dan sekarang saya lega Kakabung tak pernah berkompromi untuk tidak mengeluarkan isi kepalanya. Karenanyalah ide-ide pemajuan musik Indonesia bermunculan. Karenanyalah Konferensi Musik Indonesia lahir. Karenanyalah kita siap meneruskan mimpi-mimpi yang masih terutang dari 44 tahun hidupnya.

 

Terima kasih untuk semua karya dan memori yang terpatri, Kakabung. Terlalu singkat perjumpaan ini. Rebahlah dalam tenteram.

 


Kredit foto: Crist Tarigan via Instagram @glennfredly309

Tulisan Terbaru
Dukungan Untuk Koalisi Seni

Dukungan publik adalah salah satu faktor penting untuk meningkatkan upaya Koalisi Seni mendorong terwujudnya ekosistem seni yang lebih sehat. Bagaimana Anda bisa membantu agar Koalisi Seni secara berkelanjutan dapat melakukan advokasi kebijakan? Klik tautan berikut untuk mendukung Koalisi Seni:

Silakan ketik dan tekan enter untuk mencari

X