Kredit Foto: Koalisi Seni
Jakarta, 5 Januari 2025 – Industri festival musik di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir, dan telah menjadi salah satu penggerak penting bagi ekspresi kreatif, budaya anak muda, serta perekonomian lokal. Namun, seiring dengan pertumbuhan tersebut, banyak festival masih bergantung pada praktik-praktik yang berkontribusi terhadap emisi karbon, timbunan sampah, dan penggunaan sumber daya yang intensif. Upaya keberlanjutan di sektor ini pun kerap berjalan secara terfragmentasi, dengan keterbatasan akses terhadap panduan praktis yang relevan dengan konteks lokal.
Menanggapi tantangan tersebut, Koalisi Seni, berkolaborasi dengan Kopernik dan didukung oleh British Council, mengembangkan “Asik Berpesta, Hijau Bersama: Panduan Festival Musik Ramah Lingkungan”, sebuah buku panduan yang dirancang untuk mendukung penyelenggara festival musik dalam menerapkan praktik yang lebih ramah lingkungan. Panduan ini menawarkan langkah-langkah yang aplikatif dan hemat biaya, disesuaikan dengan konteks Indonesia, dengan tujuan mengurangi dampak lingkungan sekaligus menjaga ekosistem musik yang tetap hidup dan inklusif.
Asik Berpesta, Hijau Bersama memberikan panduan praktis dengan prinsip umum untuk mengurangi emisi, mengurangi sampah, inklusif, berkelanjutan secara ekonomi, dan berdampak jangka panjang. Buku panduan ini ditujukan bagi penyelenggara festival dari berbagai skala, mulai dari acara berbasis komunitas hingga festival komersial berskala besar, serta dirancang sebagai referensi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
Panduan ini dilengkapi dengan perangkat aksi (actionable toolkit) yang mencakup langkah-langkah dalam pengiriman karya dan logistik, penggunaan energi, perjalanan dan transportasi, pengelolaan sampah, material produksi dan publikasi, makanan dan minuman, strategi komunikasi dan keterlibatan audiens, hingga operasional kantor yang mendukung penyelenggaraan festival. Selain itu, buku ini juga memuat contoh praktik baik yang telah diterapkan oleh festival dan acara budaya di Indonesia, serta contoh global, yang memberikan gambaran konkret tentang bagaimana langkah-langkah keberlanjutan dapat diterapkan dalam berbagai konteks.
Dengan menekankan tindakan-tindakan realistis yang dapat diintegrasikan ke dalam alur kerja yang sudah ada, panduan ini memosisikan keberlanjutan bukan sebagai beban tambahan, melainkan sebagai bagian yang dapat dicapai dalam manajemen festival, sekaligus berpotensi mempengaruhi vendor, sponsor, seniman, dan audiens.
Untuk memastikan akses yang luas dan mendorong keterlibatan sektor, buku panduan ini diluncurkan melalui rangkaian diskusi publik yang diselenggarakan di Jakarta dan Makassar, dengan melibatkan penyelenggara festival musik, praktisi budaya, dan pegiat lingkungan.

Kredit Foto: Koalisi Seni
Diskusi pertama diselenggarakan pada 20 September 2025 di Gudskul Hall, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dengan menghadirkan Dita Kurnia (Festival Lestari), Ferry Dermawan (Joyland Festival), MG Pringgotono (Stuffo Gudrnd), dan Ratri Ninditya (Koalisi Seni). Diskusi ini berfokus pada pendekatan-pendekatan praktis dan berbiaya rendah yang dapat diterapkan dalam tahap persiapan hingga produksi festival.
Ferry Dermawan dari Joyland Festival menyoroti bahwa praktik ramah lingkungan kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal, padahal banyak solusi yang sederhana dan terjangkau jika direncanakan sejak awal. “Masih ada anggapan bahwa praktik ramah lingkungan selalu membutuhkan biaya besar. Padahal, banyak langkah kecil seperti mengurangi kemasan makanan untuk kru atau mengatur ulang sistem katering di belakang panggung yang mudah, murah, dan bisa langsung diterapkan,” ujarnya. Ia mencontohkan praktik sehari-hari seperti pengurangan kemasan sekali pakai untuk kru dan pekerja, pengaturan katering yang meminimalkan material sekali pakai, serta penerapan pemilahan sampah di area belakang panggung.
Diskusi ini juga menyoroti tantangan berkelanjutan terkait pengelolaan sampah, termasuk persoalan vendor dan persepsi biaya. Para penyelenggara festival berbagi pengalaman mengenai tingginya biaya layanan dan keterbatasan kontrol setelah sampah meninggalkan lokasi acara, yang menegaskan pentingnya mekanisme pemantauan yang lebih jelas serta inisiatif yang lebih kuat dari pihak penyelenggara sendiri.

Kredit Foto: Koalisi Seni
Diskusi publik kedua diselenggarakan pada 31 Oktober 2025 di Grandkemang Hotel, Jakarta Selatan, bekerja sama dengan Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD). Para pembicara meliputi Mahatma Putri (Anatman Pictures), Itjuk Rahayu (ICAD), Alienpang (seniman visual), dan Ratri Ninditya (Koalisi Seni). Diskusi ini memperluas pembahasan melampaui festival musik, dengan menyoroti bagaimana praktik ramah lingkungan dapat diterapkan secara efektif di lingkungan kerja kreatif.
Para pembicara menekankan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga relasi sosial, etika produksi, serta keseimbangan antara keuntungan dan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui pengalaman masing-masing, mereka menunjukkan bahwa praktik berkelanjutan dapat dimulai dari keputusan-keputusan kecil di tempat kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Merefleksikan pentingnya produksi dan konsumsi yang sadar, Mahatma Putri dari Anatman Pictures menekankan kesadaran dan tanggung jawab di setiap tahap produksi budaya. “Di mana pun kita berada, kita selalu mengonsumsi. Ketika kita memproduksi sebuah acara atau karya, kita perlu memperhatikan detail-detail kecil dan menjalankannya secara sadar, dengan memahami dampak dari setiap keputusan yang kita ambil. Ini juga berarti meninjau ulang cara kita bertindak serta memastikan kesetaraan dan keberagaman dalam kolektif kita. Prinsip kami adalah menyelamatkan dunia satu video dalam satu waktu,” ujarnya.

Kredit Foto: Koalisi Seni
Diskusi ketiga berlangsung pada 1 November 2025 di Fort Rotterdam, Makassar, sebagai bagian dari program Rock in Celebes. Diskusi ini menghadirkan Amalia Ikhlasanti (Koalisi Seni), Ardy Siji (Rock in Celebes), David Karto (Synchronize Festival), dan Rachmat Mustamin (Makassar International Writers Festival), dengan moderator Zamzam Firzandy (Greenpeace Indonesia). Diskusi ini menegaskan pentingnya aksi kolektif dalam mendorong keberlanjutan di acara-acara budaya.
Menyoroti pentingnya kolaborasi, David Karto menyampaikan bahwa kemajuan menuju festival yang lebih berkelanjutan membutuhkan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan. “Kita harus terus menjaga semangat untuk berbenah. Ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri; harus kolektif. Semua pihak perlu bergerak bersama,” ujarnya.
Selain melalui rangkaian diskusi tersebut, buku panduan ini juga diperkenalkan di berbagai platform besar, seperti Synchronize Festival, UNDP Youth Empowerment Fest, dan Indonesia Music Summit, sehingga membuka ruang dialog dengan pemangku kepentingan yang lebih luas, baik di dalam maupun di luar sektor musik.
Pasca peluncuran Asik Berpesta, Hijau Bersama, Koalisi Seni berencana untuk terus mendorong praktik ramah lingkungan di sektor seni dan budaya. Upaya ke depan dapat mencakup perluasan keterlibatan dengan penyelenggara festival, penguatan jejaring dengan vendor yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, serta eksplorasi peluang untuk mengadaptasi pendekatan dalam buku panduan ini ke disiplin budaya lainnya. Melalui penyediaan panduan praktis dan fasilitasi dialog lintas komunitas, Asik Berpesta, Hijau Bersama berkontribusi pada upaya berkelanjutan untuk mengurangi dampak lingkungan dari acara budaya di Indonesia serta mendukung masa depan seni yang lebih berkelanjutan.
Ditulis oleh: Margaret Megan

