/   Advokasi, Kabar Anggota, Keadilan Gender dalam Seni

Siapa tak kenal dengan keindahan kain tenun Sumba? Kain tenun dari Sumba biasanya dibuat selama bertahun-tahun karena harus melewati 42 tahap. Mulai dari meramu bahan pewarna kain, mengikat benang, menenun, hingga menjemur hasilnya. Ketelitian dan kesabaran jadi kunci pembuatannya.

Di balik proses yang panjang itu, terdapat perempuan-perempuan yang bekerja untuk mendapatkan kesempurnaan kain yang indah. Nensi Dwi Ratna adalah seniman tenun yang memiliki perhatian mendalam terhadap para perempuan yang bekerja di balik proses tersebut. 

“Tenunan Sumba itu sedang naik daun, cuma kebanyakan orang tidak tahu soal perempuan-perempuan yang bekerja di baliknya. Mereka hanya tahu prosesnya lama, harganya, dan pebisnisnya saja,” ujar perempuan asal Kambera, Sumba, tersebut pada 28 September 2021.

Berangkat dari rasa ingin memperkenalkan mereka, Nensi merancang proyek “Lukamba dan Kawula Muda” yang terdiri dari pelatihan pembuatan pasta pewarna alam indigo dan pameran tenun pada November 2021. Pameran tersebut berisi karya tenun garapan perempuan muda Kambera serta menyoroti posisi mereka sebagai seniman tenun, bukan lagi pengrajin. Menurut Nensi, orang Kambera sudah terbuka dengan inovasi, modernisasi, dan permintaan pasar. Desain, motif, dan tata letak tenun dikembangkan sekreatif mungkin, sehingga hasil tenunnya tiap tahun bisa berbeda. Kekhasan itu membedakan tenun Kambera dengan tenun tradisional Sumba. Pameran ini bakal digelar secara daring di Sentra Tenun Kambera serta disiarkan lewat empat platform, yaitu radio, Zoom, Youtube, dan Facebook MAX FM. 

Untuk menjalankan hal tersebut, Nensi harus menghadapi sejumlah tantangan. Sebelumnya, Nensi sudah pernah terlibat dalam proyek kesenian temannya yang mendapatkan Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Namun, ia belum pernah merancang sendiri proyek untuk mengikuti proses seleksi FBK. 

Awalnya, Nensi sempat tidak percaya diri untuk merancang “Lukamba dan Kawula Muda”. Semesta mendukung, Pelatihan Penyusunan Proposal Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) yang diadakan pada 19-21 Maret 2021 sampai ke kuping Nensi. Pelatihan tersebut merupakan inisiatif Kelompok Kerja Gender Koalisi Seni. Acara itu bertujuan memberi asistensi bagi perempuan agar bisa mengakses fasilitasi dari pemerintah tersebut. 

Dengan telaten, Nensi mengikuti pelatihan tersebut agar tahu hal-hal penentu lolosnya proposal FBK. Ia mengaku terbantu karena menemukan teman diskusi dalam penyusunan proposal. Baginya, sangat jarang ada kesempatan mendengarkan pemenang dan pengelola hibah yang berbagi pengalaman maupun perspektifnya. Pendampingan mentor dalam pelatihan juga sangat bermanfaat agar peserta bisa membuat proposal dengan efisien. 

Selepas pelatihan, Nensi menyempurnakan proposal dan mengirimkannya kepada panitia seleksi FBK. Kabar gembira datang pada bulan Juli 2021. Nensi menerima pesan singkat di ponselnya yang mengabarkan proposalnya lolos seleksi dan bakal menerima FBK.

Ia berharap akan ada lagi pelatihan serupa pada masa mendatang. Pasalnya, sosialisasi pengetahuan pembuatan proposal atau langkah-langkah pembuatan acara seni jarang diadakan di daerahnya. 

Menurut Nensi, perbedaan pengetahuan antara yang sudah mengikuti pelatihan dengan yang belum terlihat nyata di lapangan. Rekan Nensi yang juga lolos FBK sempat ditegur tim verifikator karena rancangan anggarannya tidak terkonsep dan terperinci. Misal, detail seperti uang transportasi yang sebetulnya krusial justru tidak dianggarkan. Sementara itu, rancangan anggaran Nensi lolos verifikasi dengan mulus karena mendetail dan terkonsep. 

Di sisi lain, ia berpendapat pelatihan penulisan laporan juga diperlukan. Karena, ada beberapa pertanyaan terkait laporan keuangan yang belum terjawab dalam pelatihan Maret lalu. Misalnya, kepada siapa beban administrasi transfer bank dibebankan? Penggunaan materai yang benar seperti apa? Bagaimana bila harga barang naik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak sempat terlontar dikarenakan sempitnya waktu saat pelatihan penulisan proposal.

Pengalaman Nensi ini menunjukkan niat baik pemerintah memfasilitasi pemajuan kebudayaan lewat FBK tidaklah cukup. Pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya perlu pula meningkatkan kapasitas pegiat seni budaya agar bisa mengakses FBK dan fasilitas lainnya secara berkeadilan. Dengan begitu, ada lebih banyak Nensi dan karsa seni budaya lain yang bisa makin maju dan mendapat manfaatnya. (Amalia Ikhlasanti)

 

Tulisan Terbaru
Menampilkan 2 komentar
  • Nanda
    Balas

    Maju terus Nency dan Ka Amalia 💪

    • Koalisi Seni
      Balas

      Semoga kita semua bisa makin maju dan tak lupa memajukan ekosistem seni yang kita cintai 💝

Tinggalkan komentar

Ayo Percepat Perubahan

Bayangkan Indonesia jadi tempat semua orang bisa mendapat manfaat maksimal dari seni — kita jadi bangsa yang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Seni jadi bagian terpadu dalam pendidikan dan segala kegiatan bermanfaat. Anda bisa membantu Koalisi Seni mendorong perubahan itu agar lebih cepat terjadi. Klik tautan ini untuk tahu caranya:

Silakan ketik dan tekan enter untuk mencari

X