Oktober 22, 2018

Majunya Kebudayaan, Majunya Pembangunan

Sebagai upaya untuk mendorong pentingnya memperhatikan perspektif seni dan budaya dalam perencanaan pembangunan oleh pihak-pihak strategis, seperti Bappenas dan Kementerian terkait, Koalisi Seni Indonesia ikut mendampingi Inspirit sebagai event designer Indonesia Development Forum (IDF) 2018 yang diselenggarakan pada 10-11 Juli 2018 di Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta. Forum yang sudah dua kali diselenggarakan oleh Bappenas ini, dimaksudkan untuk mencari terobosan baru bagi perbaikan pembangunan nasional. Selain itu, forum ini juga diarahkan untuk memberikan rekomendasi kebijakan berbasis bukti, pengetahuan, dan riset berkualitas, serta memperkuat kolaborasi multipihak dalam mempromosikan tata kelola dan praktik berkelanjutan dalam pembangunan. Hasilnya akan digunakan untuk bahan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2020-2024.
 
IDF merupakan inisiatif Bappenas yang didukung oleh Pemerintah Australia melalui Knowledge Sector Initiative. Forum yang tahun ini bertema besar “Terobosan untuk Mengatasi Kesenjangan Antarwilayah di Seluruh Nusantara” ini telah berhasil mempertemukan 250 pembicara bertaraf nasional dan internasional, memperbincangkan 95 makalah dan presentasi terkait isu dan tantangan pembangunan di Indonesia, serta menghelat 28 sesi paralel yang ditujukan untuk menyusun rekomendasi solusi pembangunan di Indonesia. Diantara itu semua, seni budaya masuk lewat presentasi beberapa anggota Koalisi Seni Indonesia.
 
Gustaff Hariman Iskandar (Commonroom)

Gustaff Hariman Iskandar (pendiri Commonroom), anggota Koalisi Seni Indonesia asal Bandung, hadir dalam sesi “Memanfaatkan Potensi Digital Ekonomi untuk Pembangunan Wilayah” di hari pertama. Ia menceritakan tentang proses adopsi teknologi digital oleh masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi untuk memetakan wilayah hutan adat. Anggota Koalisi Seni yang lain, Tita Djumaryo (pendiri Ganara Art), hadir di hari kedua dalam sesi berjudul “Mengurangi Ketimpangan dengan Memaksimalkan Peran Budaya di Indonesia Timur”. Tita bercerita tentang program Mari Berbagi Seni yang dirancang untuk membantu anak muda peserta program berpikir lebih kritis dan menerima keberagaman lewat kegiatan seni. Selain itu, anggota Koalisi Seni yang lain, yaitu Glenn Fredly menceritakan tentang kekuatan musik dan Konferensi Musik Indonesia di Ambon yang bertujuan untuk mendorong keberpihakan kebijakan pemerintah daerah pada pemajuan seni dan budaya, khususnya musik. 

 
Arief Budiman (Rumah Sanur)

Arief Budiman (Rumah Sanur), anggota Koalisi Seni Indonesia dari Bali, hadir pada Ideas Marketplace di hari kedua untuk mempresentasikan Rumah Sanur sebagai pusat pertumbuhan komunitas dengan menerapkan prinsip 3C: space for people to connect, collaborate, and celebrate. Lebih jauh, ia menceritakan bagaimana Rumah Sanur dirancang sebagai ruang untuk menghubungkan masyarakat setempat dengan kegiatan-kegiatan kreatif di Bali Selatan, agar terciptanya kolaborasi diantara mereka. Selain itu juga, menempatkan Rumah Sanur sebagai ruang perayaan atas hasil-hasil kreativitas yang tercipta. Dalam hal ini, seni budaya masyarakat lokal berkembang seirama dengan pertumbuhan ekonominya. Terakhir ada Luna Vidya Matulessy, anggota Koalisi Seni yang juga aktif di Lembaga Pengembangan Kebudayaan Sulawesi Selatan, yang hadir lewat Digital Presentation tentang “Teater Pemberdayaan sebagai Mekanisme Partisipasi Masyarakat”. 

 
Tidak hanya lewat presentasi beberapa anggota, Koalisi Seni juga menjadi host bincang-bincang mengenai kebudayaan dalam pembangunan yang menghadirkan empat pejabat eselon 1 dari kementerian terkait. Mereka adalah Subandi, Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Bappenas; Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI; Diah Indrajati, Plt. Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri; dan Ricky J. Persik, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif. 
 
Tita Djumaryo (Ganara Art)

Diskusi ini mengelaborasi lebih jauh tentang pembangunan berbasis kebudayaan, dimulai dari penyusunan PPKD (Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah) untuk menjadi Strategi Kebudayaan Nasional dan diserap menjadi RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional). Dengan begitu, urusan kebudayaan bukan hanya terletak di Ditjen Kebudayaan tetapi lintas K/L. Sehingga, pekerjaan penting lainnya adalah menjalin koordinasi dan kerjasama lintas K/L dalam memajukan kebudayaan. Dalam diskusi ini juga dibahas peluang ekonomi kebudayaan lewat ekonomi kreatif. Ricky J. Persik mengatakan ada tiga target pembangunan kebudayaan lewat ekonomi kreatif, yaitu sumbangan pada Product Domestic Bruto, peningkatan tenaga kerja, komoditas ekspor hasil ekonomi kreatif. 

 
Booth Koalisi Seni di IDF 2018

Dalam kesempatan yang sama, Koalisi Seni juga membuka booth untuk mempromosikan kerja-kerja organisasi dan berbagi informasi seputar kebijakan seni dan budaya di Indonesia. Booth ini kemudian menjadi ruang pertukaran gagasan dan inisiatif antar pengambil keputusan. Bupati Pesawaran yang berkunjung ke booth dan mendapat informasi tentang penyusunan PPKD, langsung membentuk tim penyusun keesokan harinya. I Nengah Suarya dari Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban, Karangasem, Bali, dipertemukan dengan Hilmar Farid, yang kemudian berkunjung ke museum tersebut dan bersedia menjadi kurator dalam perjalanan menghadiri upacara adat besar di Karangasem keesokan harinya. Sementara, Gustaff menjalin kerjasama dengan Deputi Infrastruktur Pengairan Bappenas terkait cara-cara memahami dan mengikutsertakan unsur kebudayaan dalam proyek pembangunan. 

 
Melengkapi peran penting seni budaya dalam pembangunan, hasil IDF 2018 kali ini dituangkan dalam bentuk grafis mural di lokasi pembukaan dan penutupan. Dani Wahyu Munggoro, Direktur Inspirit Inovation Circle, yang mempunyai ide pembuatan grafis mural, mengatakan mural ini untuk merangsang orang menggunakan otak kanan sehingga orang lebih mampu membayangkan Indonesia di masa depan. Mural dibuat dengan media spidol dan krayon warna. Papan dibagi menjadi lima yang menggambarkan tema besar IDF dan empat topik, yaitu inspire, imagine, innovate, dan initiate. Menurut Deni Rodendo, koordinator seniman mural grafis, dia mengerahkan tim sebanyak 14 orang dengan komposisi 7 seniman inti yang bertugas menggambar dan 7 asisten seniman yang bertugas mewarnai dan menambah detil.  
 
Apa yang terjadi dalam IDF 2018 hanyalah satu upaya dalam mendorong pentingnya melibatkan perspektif seni budaya dalam pembangunan. Setelah ini, perlu adanya kerja-kerja kolaboratif dan strategis di antara pegiat seni budaya dan lembaga negara dalam mendorong pembangunan berbasis kebudayaan karena seperti yang diungkapkan oleh Hilmar Farid, budaya memang seharusnya dipandang sebagai kekuatan untuk pembangunan daerah, bukan beban.**
 
Sumber foto: dokumentasi Indonesia Development Forum (IDF) 2018

Related posts