Maret 25, 2019

Rumata’ Artspace: Menggugah Sastra di Indonesia Timur

Pada suatu malam, jantung Faisal Oddang berdegup kencang. Saat itu tahun 2012, ia masih berstatus siswa SMA di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

 

Perjalanannya telah jauh kini. Ketika buku ini ditulis, ia tengah mengikuti program residensi penulisan kreatif di Iowa, Amerika Serikat. Namun, pada 2012 itu Faisal baru mulai suka menulis. Ia mengikuti seleksi program “Sahabat dari Jauh”, bagian dari Makassar International Writers Festival (MIWF), setelah membaca pengumumannya melalui Twitter. Bersama empat siswa SMA lainnya, ia lolos seleksi sehingga dibiayai MIWF untuk datang dan ikut serta.

Pada malam terakhir festival, mereka didapuk naik panggung untuk membaca puisi. “Saya senang sekali tapi was-was, baru anak SMA tapi disuruh ikut tampil di depan banyak orang,” kata Faisal mengenang malam itu. Ketika Faisal kemudian menjadi mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin, Makassar, ia pun tiap tahun berpartisipasi dalam MIWF baik sebagai peserta, panitia, pembicara, maupun moderator.

Dalam program “Meet the Publisher” MIWF 2014, Faisal berjejaring dengan perwakilan penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dari Jakarta, dan bercerita tentang novelnya Puya ke Puya. Gayung bersambut, KPG tertarik pada naskah novel tersebut. Setelah melalui proses penyuntingan, novel pertama Faisal itu terbit pada 2015. Sejak itu pintu-pintu lain seolah terbuka.

“MIWF sangat berguna bagi penulis muda karena membuka akses dan jaringan. Kita bisa bertemu para penulis, pembaca, penyunting, dan penerbit,” kata Faisal. Ia hanyalah satu dari sejumlah penulis dari Indonesia Timur yang dihadirkan MIWF tiap tahunnya. Mereka diundang untuk berbagi pengalaman sekaligus punya kesempatan bertemu dengan editor dan penerbit, serta para penulis ternama dari Indonesia dan mancanegara.

“Melahirkan penulis butuh proses panjang dan kembali lagi pada individunya, sampai mana keseriusan mereka. Kami ingin MIWF menjadi inkubator dan platform bagi siapapun di dunia kepenulisan,” ujar Lily Yulianti Farid, penulis sekaligus salah satu pendiri Rumata’ Artspace, penyelenggara MIWF.

Kegelisahan di Timur

Bersama sineas Riri Riza, Lily memutuskan untuk mendirikan Rumata’ Artspace. “Kami berdua sama-sama anak Makassar yang punya kegelisahan, ingin Makassar terlibat dalam percakapan intelektual yang lebih luas,” ucap Lily. Berbekal rumah masa kecil Riri dan pendanaan bersama yang digalang Lily, Rumata’ Artspace didirikan pada 2010. Dalam bahasa Makassar, rumata’ berarti ‘rumah kita’. Organisasi ini ditujukan untuk menjadi rumah bagi beragam inisiatif seni di Makassar.

Dua bidang yang menjadi fokus Rumata’ adalah film dan sastra. Memanfaatkan jaringan yang mereka miliki, Lily dan Riri berupaya mewujudkan visi dengan membuat forum berskala internasional dalam kedua bidang itu. Didukung para mitranya, Rumata’ menyelenggarakan MIWF sejak 2011 dan Makassar South East Asian Screen (SEAscreen) Academy sejak 2012.

Beragam isu sosial dan lintas sektor diangkat MIWF tiap tahunnya, menyediakan ruang percakapan bagi para peserta dan penulis. Topiknya antara lain, keberagaman, mencari ketulusan di tahun politik, dan pentingnya bersuara. Festival ini juga pernah menyoroti persilangan antara sastra, kota, dan arsitektur.

Sejumlah tokoh penting dari Sulawesi Selatan pun dibahas khusus oleh MIWF. Misalnya, pada 2011, ada sesi yang mengangkat hidup Muhammad Salim, penerjemah epos I La Galigo. Tahun berikutnya, Profesor Mattulada yang antropolog ahli masyarakat Bugis menjadi sorotan. Adapun pada 2014 MIWF mendedikasikan program untuk Baharuddin Lopa, mantan Jaksa Agung dan Menteri Hukum yang menjadi salah satu ikon antikorupsi Indonesia.

Menggeser Pandangan dari Pusat

Menurut Lily, kesempatan untuk bertemu dengan penulis adalah hal yang langka bagi masyarakat Indonesia Timur, termasuk Makassar. Maka, MIWF berupaya menghadirkan para penulis ternama agar publik di kawasan timur Indonesia bisa merasakan hal yang sudah sering dialami masyarakat di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tiap tahun dalam waktu beberapa hari, puluhan sesi diadakan MIWF dengan melibatkan maksimal 100 orang tamu undangan.

Beberapa penulis yang pernah ambil bagian dalam MIWF adalah Sapardi D. Damono, Joko Pinurbo, Ahmad Tohari, Leila S. Chudori, Eka Kurniawan, dan M. Aan Mansyur. Clara Ng, Adhitya Mulya, Ika Natassa, dan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie juga menjadi pembicara dalam perhelatan tersebut. “Kami merangkul berbagai genre sastra, termasuk pop, metropop, dan teenlit karena saya percaya setiap buku punya pembacanya sendiri,” tutur Lily.

Deretan pembicara dengan pengalaman dan genre beragam berhasil menarik animo masyarakat. Apalagi, acara sengaja digratiskan agar lebih banyak masyarakat bisa mengaksesnya. Tiap tahun, sekitar 20.000 orang mengikuti rangkaian acara MIWF. Selain dari Makassar, banyak juga pengunjung datang dari daerah lain di Sulawesi Selatan, bahkan dari provinsi lain seperti Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Tak semuanya merupakan penggemar sastra. Bahkan, kata Lily, banyak pengunjung malah belum bersentuhan dengan sastra. Mulai dari mahasiswa, keluarga muda, hingga orang-orang yang sesungguhnya mengalami fear of missing out (FOMO), alias hanya tak mau ketinggalan perhelatan akbar seperti MIWF, hadir dan rajin mengunggah fotonya ke media sosial. “Saya perhatikan mereka ini pengunjung setia MIWF, selalu datang tiap acara dan berfoto-foto di titik-titik tertentu,” ucap Lily.

Apapun motivasinya, pengunjung MIWF diharapkan akan lebih mengenal sastra secara lebih mendalam. Format festival memang sengaja dipilih untuk mendekatkan diri ke masyarakat. Minat membaca ingin ditingkatkan dengan pendekatan yang ramah, misalnya dengan menayangkan film dan mengadakan pertunjukan. Acara diskusi biasanya diawali dengan film dokumenter pendek, sebagai pembuka sebelum membahas topik-topik yang sering dianggap berat.

Festival ini setiap tahun diselenggarakan di Fort Rotterdam, benteng Belanda yang sering menjadi lokasi acara favorit di Makassar. Sebagai bagian dari festival, program “MIWF Goes to Campus” diadakan di sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Makassar, Universitas Bosowa, dan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dengan demikian, para mahasiswa bisa ikut berkenalan lebih jauh dengan sastra.

Digerakkan Sukarelawan dan Kepedulian

Para sukarelawan adalah penggerak penting perhelatan sastra ini. Tiap tahun, panitia membuka kesempatan bagi sukarelawan untuk membantu MIWF. Lazimnya mereka bekerja di bagian administrasi, penyambutan pengunjung, desain, dan publikasi. Jumlahnya terus meningkat tiap tahun, dan pada 2018 mencapai ratusan orang. Mereka berasal tak hanya dari Makassar. Ada juga yang berdomisili di Jakarta, Bandung, dan Kalimantan.

Faisal mengaku kagum terhadap kemampuan Rumata’ Artspace menyelenggarakan MIWF dan mengelola para sukarelawan. “Sejak 2011 mereka telah bekerja nyata. Itu adalah sesuatu yang susah dikerjakan secara konsisten bertahun-tahun. Mereka juga berhasil merawat orang-orang yang bisa bekerja sama dengan mereka tanpa pamrih dan selalu melibatkan komunitas,” tuturnya.

Menurut Faisal yang sejak 2013 rutin terlibat sebagai sukarelawan MIWF, antusiasme para sukarelawan terasa begitu tinggi meski tak ada imbalan materi untuk mereka. Walaupun lelah, mereka senang karena bisa mendapatkan pengalaman berharga, bertemu banyak penulis ternama, dan membangun jaringan baru.

MIWF juga festival yang tergolong sangat inklusif terhadap perempuan dan kelompok rentan lainnya. Dari segi gender, sangat banyak perempuan terlibat sebagai panitia, penulis, maupun pegiat sastra. Sejumlah program juga bertitik berat pada perempuan, misalnya, Monolog Cut Nyak Dhien yang dibawakan Ine Febriyanti, serta program “Ruang Bersama” tempat para perempuan membahas pernikahan beda agama.

Selain itu, MIWF memberi perhatian pada perempuan penting namun terpinggirkan, seperti Salawati Daud, perempuan pertama yang menjadi Walikota Makassar tetapi ditahan rezim Orde Baru karena aktif di Gerwani. Pada MIWF 2018, film dokumenter tentang Salawati Daud diputar, disertai dengan diskusi bersama sutradaranya.

MIWF juga mengakomodir para tunarungu, salah satu pengunjung setia festival tersebut. Sejak 2018, sejumlah program MIWF dilengkapi dengan penerjemah bahasa isyarat sehingga pengunjung tunarungu dapat lebih memahami diskusi yang sedang berlangsung.

Lily melihat banyak ibu muda ikut serta dalam MIWF, terutama dalam sesi bertema sastra anak. Agar para ibu tersebut bisa lebih optimal mengeksplorasi festival, MIWF berencana membuat area khusus anak dalam penyelenggaraan festival berikutnya.

Sadar akan efek samping sampah dalam festival yang dihadiri puluhan ribu orang, MIWF berupaya melakukan sejumlah inisiatif peduli lingkungan, misalnya, mengurangi sampah plastik dengan menyediakan galon air mineral, sehingga partisipan MIWF dapat mengisi wadah minumnya sendiri. “Sejak 2017 panggung pertunjukan dan properti pendukungnya juga dihias dengan material hasil daur ulang, yakni kayu bekas,” ujar Lily.

Pada 2018, MIWF juga menggelar aksi sosial dengan membersihkan Pantai Losari. Pembersihan sampah ini dilakukan MIWF bekerja sama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.

Inisiatif sosial lainnya pun bisa ikut merasakan manfaat dari MIWF. Salah satunya adalah Perahu Pustaka yang digagas penulis Muhamad Ridwan Alimuddin untuk meningkatkan minat baca anak-anak di pesisir Sulawesi dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Tiap tahun, Perahu Pustaka berlabuh di Pantai Losari, tepat di seberang lokasi MIWF, Fort Rotterdam, untuk mengumpulkan sumbangan buku dan donasi dari pengunjung festival. Hasilnya diedarkan untuk anak-anak penghuni pulau-pulau kecil di sekitar Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan.

Menggerakkan Roda Ekonomi

Pelaksanaan festival taraf internasional ini memberi dampak ekonomi positif, terutama bagi kota Makassar sebagai tuan rumahnya. Dari segi pariwisata, banyak hotel di Makassar penuh selama penyelenggaraan MIWF. Panitia juga sengaja melebihkan hari menginap para tamu undangan, agar mereka bisa mengeksplorasi kota lebih lama.

Agar MIWF berjalan lancar, sejumlah rekanan dikontrak untuk produksi panggung dan publikasi. Dibuka pula kesempatan bagi pengusaha lokal untuk berjualan. Selain buku, dijual beragam produk seperti kain tenun, kuliner khas Makassar, dan kopi kualitas unggul dari berbagai penjuru nusantara.

Tentu saja, ada manfaat ekonomi yang juga dirasakan para penulis dan penerbit. Melalui MIWF, penulis muda seperti Faisal Oddang, Aan Mansyur, dan Alfian Dippahatang berkesempatan berjejaring dengan penerbit, membuka jalan untuk publikasi puisi, cerita pendek, maupun novel.

Para penulis dan penerbit pun dapat menjual langsung bukunya selama festival. “Penerbit buku yang membuka booth (gerai) berkata, buku-buku mereka selalu habis terbeli,” kata Lily. Dengan 20.000 pengunjung, jika 20% saja berbelanja buku dan produk yang tersedia di MIWF, maka cukup banyak uang yang berputar selama festival itu berlangsung.

Kini, dalam penyelenggaraannya, MIWF berjalan bersama banyak mitra, antara lain, Japan Foundation, British Council, Yayasan Kalla, dan Bosowa Group. Pemilihan mitra ini tidak sembarangan. Agar sejalan dengan nilai yang dianut organisasi yaitu kesehatan anak dan perempuan, juga tata kelola lingkungan yang baik, MIWF bertekad tidak bekerja sama dengan perusahaan rokok, susu formula, dan tambang. MIWF juga hanya mau bermitra dengan lembaga pemerintahan jika ada transparansi dan akuntabilitas yang memadai.

Lily mengatakan perhelatan sastra yang ia nakhodai itu masih memerlukan dukungan banyak mitra. “Kami mencari mitra program dan sponsor yang percaya pada kegiatan kebudayaan, sastra, dan literasi dengan kemungkinan kerja sama jangka panjang,” tuturnya.

Satu dukungan yang juga dibutuhkan MIWF adalah gudang. Agar penyelenggaraan festival lebih ramah lingkungan, gudang adalah faktor penting supaya properti MIWF dapat dipakai berulang kali.

*Artikel Menggugah Sastra di Indonesia Timur merupakan bagian dari buku Dampak Seni di Masyarakat terbitan Koalisi Seni Indonesia. Buku bisa dibeli mengirimkan surel ke sekretariat@koalisiseni.or.id.

Related posts