/   Advokasi, Insentif Pajak, Ruang Media, Siaran Pers

Jakarta – Kebijakan insentif pengurangan pajak yang kerap disebut super deduction tax berpotensi memajukan banyak sektor di Indonesia, termasuk seni. Namun, peraturan terkait super deduction tax yang memberi insentif pengurangan pajak hingga 300% tersebut baru mencakup sebagian kecil seni, antara lain seni lukis dan patung, animasi, batik, keramik, dan tata busana. Padahal, seni memberi manfaat banyak bagi semua orang, tak hanya seniman.

“Kalau saya pengusaha dan mengalokasikan dana misalnya Rp10 miliar untuk kesenian, lalu dapat potongan pajak dua kali lipatnya, Rp20 miliar, tentu saya akan tertarik bantu kesenian. Dari situ bibit kesenian bisa dibantu, selain tetap didukung oleh negara yang APBN-nya terbatas,” ujar Chatib Basri, ekonom dan Menteri Keuangan RI tahun 2013-2014, pada Senin, 21 September 2020.

Menurutnya dalam webinar Philanthropy Learning Forum: ‘Seni, Si Pembuka Jalan’ tersebut, para seniman dan filantropi perlu bertemu dengan pemerintah untuk mendiskusikannya lebih lanjut. “Peraturan sudah ada, tinggal diperluas agar mencakup seni secara lebih luas. Apalagi dengan pandemi ini, banyak inisiatif seni seperti konser jarak jauh dan lain-lain yang perlu didorong. Ini kesempatan untuk bicara hal-hal seperti ini,” ucap pria yang saat muda aktif dalam kegiatan teater tersebut.

Sependapat dengan Chatib Basri, Co-chair Badan Pengarah Filantropi Indonesia Erna Witoelar menganggap ini momentum yang tepat. “Pandemi menumbuhkan kreativitas teman-teman seni untuk menghibur masyarakat yang terkurung. Itu sangat mulia, apalagi dengan dana terbatas. Teman-teman filantropi dan pengusaha Indonesia yang belum mendukung seni, sekaranglah waktunya. Menumbuhkan seni adalah memajukan masyarakat,” kata Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah RI tahun 1999-2001 itu.

Dalam webinar ini, Direktur Observatorium Bosscha, Premana W. Premadi, berbagi soal peran penting musik yang ditekuninya sejak kecil bagi kehidupannya. Ia menjadi lebih sensitif pada nada, ritme, logika, dan keseimbangan. Ia percaya pendidikan seharusnya tidak mengkotak-kotakkan rasio, kejiwaan, dan estetika sebagai hal yang terpisah. Maka, ia aktif dalam beragam inisiatif yang memadukan sains dan seni. Bersama Bosscha dan mitra lain, Premana mengadakan serangkaian acara saat gerhana matahari yang jadi platform edukasi sains dan seni bagi anak sekolah di Poso dan Tanjungpinang. “Semakin dini kita terekspos pada kualitas estetis dan rasio serta mengintegrasikannya, itu semakin baik. Penghalusan dan pemberdayaan akal dan budi seharusnya tidak berjalan terpisah, tapi bersamaan,” tutur perempuan Indonesia satu-satunya yang namanya diabadikan di asteroid itu.

Sementara itu, Managing Director Indika Foundation, Ayu Kartika Dewi, menyoroti pentingnya seni dalam menumbuhkan nalar kritis dan empati. Beragam penelitian menemukan seni membuat orang dapat berpikir dengan lebih fleksibel. Maka, Indika Foundation kerap membuat kegiatan yang kental dengan nuansa seni. “Seni tidak pernah menghakimi, jadi bisa membuka perspektif kita bahwa hidup ini tidak hanya hitam-putih dan benar-salah,” katanya.

Setelah webinar ini, Koalisi Seni dan Filantropi Indonesia berkomitmen melanjutkan advokasi kebijakan agar filantropi seni dapat lebih mendukung ekosistem seni di nusantara. Dengan begitu, akan ada lebih banyak saudara kita yang dapat merasakan manfaatnya.

Unduh siaran pers ini di sini.

Tulisan Terkait

Leave a Comment

Dukungan Untuk Koalisi Seni

Dukungan publik adalah salah satu faktor penting untuk meningkatkan upaya Koalisi Seni mendorong terwujudnya ekosistem seni yang lebih sehat. Bagaimana Anda bisa membantu agar Koalisi Seni secara berkelanjutan dapat melakukan advokasi kebijakan? Klik tautan berikut untuk mendukung Koalisi Seni:

Silakan ketik dan tekan enter untuk mencari

X