Foto: Koalisi Seni
Pada 16–18 Oktober 2026, Koalisi Seni menghadirkan program Bersemi Bersama Seni di Synchronize Fest 2026, Jakarta. Melalui pemutaran cuplikan video musik dokumenter, pertunjukan tari tradisional, pembagian merchandise ramah lingkungan, dan interaksi bersama pengunjung, kampanye ini mengajak publik mengenali hubungan antara kerusakan lingkungan dan keberlangsungan pengetahuan serta praktik kebudayaan.
Bersemi Bersama Seni mempertemukan cerita masyarakat adat dan komunitas lokal dengan karya musisi serta seniman urban. Mengusung semangat dua kisah, dua karya, satu percakapan tentang hilangnya sumber pengetahuan, kampanye ini mengajak publik, khususnya masyarakat urban, untuk lebih dekat dengan alam dan memahami bagaimana kerusakan lingkungan dapat mengancam pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Berbagai aktivasi di ruang festival musik menjadi cara untuk mempertemukan cerita-cerita tersebut dengan audiens dari beragam generasi dan latar belakang.
Mempertemukan Cerita Rural dan Urban lewat Video Musik Dokumenter

Foto: Koalisi Seni
Dua karya video musik dokumenter menjadi bagian dari kampanye ini. Pulai (Pulang) mengangkat cerita Paskalia Wandira, seorang perempuan Dayak Iban, tentang semakin sulitnya menemukan tanaman penghasil pewarna alami. Kisah Lia diangkat dalam video musik Plastic Tree dari Endah N Rhesa dan divisualisasikan oleh Anatman Pictures. Sementara itu, Sebelum Bara Padam mengangkat cerita tentang tradisi Bakar Batu di Papua yang menghadapi keterbatasan sumber daya untuk pelaksanaannya. Kisah ini dihadirkan dalam video musik Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapital karya Efek Rumah Kaca yang divisualisasikan oleh Kelas Pagi Indonesia.
Cuplikan kedua karya tersebut ditayangkan melalui tiga layar festival, yaitu Dynamic, District, dan XYZ. Melalui penayangan ini, Koalisi Seni berharap masyarakat urban dapat memahami bahwa kerusakan lingkungan di wilayah yang jauh dari keseharian mereka bukanlah persoalan yang terpisah dari kehidupan mereka sendiri. Hilangnya hutan dan rusaknya ekosistem turut mengancam praktik kebudayaan, sumber pangan, serta pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Dampaknya mungkin tidak langsung terasa saat ini, tetapi dapat menjadi kehilangan yang semakin nyata dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Karena itu, kampanye ini mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan sekaligus mendorong para pemangku kebijakan mengambil langkah nyata untuk melindungi alam, serta kehidupan dan kebudayaan yang bergantung padanya.
Merawat Hubungan Manusia, Alam, dan Kebudayaan Lewat Tari

Foto: Koalisi Seni
Bersama Synchronize Fest 2026, Koalisi Seni juga menghadirkan tari tradisional Kalimantan, Mamapas Lewu. Tarian yang berakar pada tradisi masyarakat Dayak ini mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Kehadirannya memperkuat cerita tentang Kalimantan yang diangkat dalam kampanye ini, terutama mengenai hubungan masyarakat dengan alam sebagai ruang hidup sekaligus bagian tak terpisahkan dari identitas dan kebudayaan mereka.
Momen ini juga menjadi ruang untuk berdoa bersama demi keselamatan alam Kalimantan, di tengah perusakan lingkungan yang terus berlangsung. Melalui tari tradisi ini, pengunjung diajak merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam serta pentingnya menjaga kehidupan dan kebudayaan yang tumbuh bersamanya.
Melalui perjumpaan musik, karya audiovisual, dan tari tradisional, Bersemi Bersama Seni menghadirkan beragam cara untuk menyampaikan pesan lingkungan. Seni menjadi ruang untuk mengenali kembali nilai dan pengetahuan yang tumbuh dari hubungan masyarakat dengan alam.
Membawa Pesan tentang Lingkungan pada Keseharian Pengunjung

Foto: Koalisi Seni
Synchronize Fest menjadi ruang bagi ribuan penikmat musik untuk berkumpul dan merayakan musik bersama. Namun, cuaca panas yang terasa selama festival juga mengingatkan pengunjung pada kondisi lingkungan yang semakin rentan. Di tengah suasana tersebut, Koalisi Seni bersama Stuffo Lab mengolah limbah spanduk bekas kegiatan seni menjadi kipas dan tas totebag yang dapat digunakan kembali.
Pesan kampanye turut hadir dalam desain merchandise melalui plesetan dan bunyi-bunyian khas anak muda tentang perusakan lingkungan. Dengan mengolah material bekas menjadi benda yang fungsional, aktivasi ini berupaya menghadirkan pesan lingkungan dalam keseharian pengunjung tanpa menambah sampah dari penggunaan material baru. Setiap merchandise juga dilengkapi kode batang yang dapat dipindai untuk mengakses rangkaian karya Bersemi Bersama Seni, mulai dari video musik dokumenter dan zine hingga bacaan berfaedah lainnya.
Selain membagikan kipas kepada pengunjung, Koalisi Seni mengajak mereka menyampaikan pesan kepada alam melalui rekaman suara atau video. Aktivitas ini menjadi kesempatan bagi pengunjung untuk menuangkan harapan, kepedulian, dan pesan mereka terhadap alam dalam bentuk suara maupun visual.
Melalui rangkaian aktivasi di Synchronize Fest 2026, Koalisi Seni membawa percakapan tentang krisis lingkungan dan keberlangsungan kebudayaan ke ruang yang dekat dengan keseharian masyarakat. Bersemi Bersama Seni mengajak publik melihat bahwa menjaga alam bukan hanya tentang melindungi lingkungan hari ini, tetapi juga memastikan pengetahuan, tradisi, dan kebudayaan yang tumbuh bersamanya dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.


