Foto: Anatman Pictures
Jakarta, 14 Oktober 2026 – Kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, serta cuaca ekstrem kembali terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Ketika lingkungan rusak, yang terancam hilang bukan hanya hutan, tanah, atau sumber pangan. Seni, tradisi, dan pengetahuan yang tumbuh bersama alam juga bisa ikut terkikis. Dari kegelisahan itu, Koalisi Seni merespons melalui Bersemi Bersama Seni, kampanye yang mempertemukan pengetahuan komunitas adat dan lokal dengan seniman, dan praktik kreatif untuk membicarakan kembali hubungan manusia dengan alam.
Dua cerita menjadi pintu masuk kampanye ini. Di Kalimantan Barat, Paskalia Wandira (Lia) bercerita tentang tenun Dayak Iban dan tanaman pewarna alami yang semakin sulit ditemukan akibat perubahan bentang alam. Berkurangnya jumlah tumbuhan bukan hanya berarti kehilangan satu warna pada kain, melainkan juga pengetahuan untuk mengenali tanaman, mengolah warna, memahami maknanya, hingga mewariskannya kepada generasi berikutnya. Bagi Lia, kolaborasi ini menjadi kesempatan untuk membawa pengetahuan yang diwariskan melalui kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Iban kepada publik yang lebih luas, tanpa melepaskan konteks budaya dan nilai-nilai yang menyertainya. “Bagi saya, karya ini bukan hanya tentang merekam cerita, tetapi juga tentang menjaga agar pengetahuan tersebut terus hidup dan menemukan ruang untuk didengar,” ungkap Lia.
Foto: Kelas Pagi Indonesia

Dari Papua, Iam Murda dan Miki Wuka yang tergabung dalam Indonesia Art Movement membawa cerita bakar batu, tradisi yang menyimpan pengetahuan tentang pangan, kebersamaan, leluhur, dan hubungan manusia dengan alam. Perubahan ekosistem dan urbanisasi kini turut mengubah sumber pangan sekaligus ruang di mana pengetahuan tersebut diwariskan melalui pengalaman langsung. “Dari bakar batu, saya belajar bahwa pengetahuan bisa hadir lewat tangan yang bekerja, makanan yang dibagi, dan orang-orang yang saling menjaga,” tutur Iam. Berangkat dari penelitian bersama Indonesia Art Movement dan IKB PPM ELIMA, cerita ini kemudian dikembangkan melalui karya audiovisual dan zine. Bagi Miki, kolaborasi tersebut menjadi cara untuk memperkenalkan identitas budaya masyarakat Dani di Hubula, Wamena, kepada publik yang lebih luas. “Kami ingin memperkenalkan nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, dan identitas budaya Tanah Papua kepada generasi muda maupun masyarakat luas,” ungkap Miki.
Cerita Lia kemudian bertemu dengan Endah N Rhesa melalui lagu Plastic Tree dan diterjemahkan bersama Anatman Pictures menjadi video musik dokumenter Pulai (Pulang). Sementara cerita Iam dan Miki bertemu dengan Efek Rumah Kaca melalui Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapital dan Kelas Pagi Indonesia yang menerjemahkannya melalui video musik semi dokumenter Sebelum Bara Padam. Kedua lagu tersebut merupakan bagian dari album Sonic Panic, sebuah proyek musik yang diinisiasi IKLIM bersama Alarm Records untuk menyuarakan keresahan terhadap krisis iklim melalui musik. Pertemuan ini membawa persoalan lingkungan melalui hal-hal yang jarang muncul dalam pembicaraan tentang krisis iklim, yakni warna yang perlahan hilang dari tenun dan bara yang menjaga ruang kebersamaan.
Bagi Endah N Rhesa, pertemuan tersebut memperlihatkan bagaimana keresahan yang mereka tuangkan dalam lagu Plastic Tree berkelindan dengan pengalaman nyata masyarakat Dayak Iban. “Kegelisahan yang ada di lirik lagu ini nyata adanya,” ungkap duo musisi tersebut. Mereka juga mengapresiasi bagaimana Anatman Pictures menerjemahkan cerita Lia melalui gambar dan warna yang penuh makna, sehingga persoalan hilangnya tanaman pewarna alami tidak hanya hadir sebagai gambaran kerusakan lingkungan, tetapi juga sebagai kisah personal yang menyentuh hati.
Sementara itu, Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca, berharap kolaborasi dalam Sebelum Bara Padam dapat memperluas percakapan mengenai dampak eksploitasi alam terhadap kehidupan masyarakat. Pertemuan dengan Iam Murda menjadi pengalaman kolaborasi pertama bagi Efek Rumah Kaca, setelah sebelumnya beberapa kali bekerja bersama Koalisi Seni, Kelas Pagi Indonesia, dan IKLIM. “Semoga karya kolaborasi ini bisa memperkaya wacana dampak buruk eksplorasi alam yang ugal-ugalan,” ujar Cholil.
Bagi Lidwina Audrey, sutradara Pulai dari Anatman Pictures, proses kreatif dokumenter ini berangkat dari satu pertanyaan sederhana: “Kenapa sih Lia pulang?” Pertanyaan tersebut muncul setelah Wina mengetahui bahwa keputusan Lia kembali ke kampung halaman seusai merantau sempat dipertanyakan keluarga dan masyarakat sekitar. Dari sana, Wina merangkai dokumenter melalui perjalanan dan percakapan personal Lia dengan ibunya, tanpa mengandalkan wawancara langsung sebagai pendekatan utama. Kisah kepulangan ini sekaligus membuka percakapan tentang keresahan Lia terhadap perubahan lingkungan dan upayanya meneruskan pengetahuan tenun Dayak Iban.
Sementara itu, Joey Christian, sutradara Sebelum Bara Padam dari Kelas Pagi Indonesia, mengawali proses kreatifnya dengan menggali keresahan masyarakat terhadap perubahan praktik bakar batu. Riset dilakukan melalui diskusi daring bersama budayawan di Jayapura dan penelusuran dokumenter, sebelum dikembangkan menjadi alur cerita. Meski demikian, Joey memilih pendekatan yang terbuka terhadap temuan selama produksi. “Saya memang sengaja memberikan ruang kosong untuk bisa mengolah lagi ketika berada di lapangan (Jayapura),” tuturnya. Pendekatan ini memungkinkan cerita berkembang secara organik melalui pengalaman dan pertemuan langsung di Papua.
Kedua cerita juga dikembangkan melalui zine sebagai ruang untuk menjangkau lebih banyak ragam audiens, agar rantai pengetahuan ini terus bergulir. Hilang dan Pulang dan Kembang, karya Chairun Nisa (hai rembulan) bersama Lia, merangkai cerita tentang tumbuhan, warna, kehilangan, dan ingatan dalam tenun Dayak Iban. Hai Rembulan menggambarkan proses kreatifnya sebagai pengalaman “belajar, melepaskan dan mempelajari lagi dan lagi” tentang kehidupan Dayak Iban, perempuan, dan alam. Baginya, proses tersebut turut mendekatkan pengalaman dan pengetahuan yang secara geografis terasa jauh dari kehidupannya sendiri.
Berbeda dengan Hai Rembulan, Alia Ruray justru mengawali pembuatan zine Bara yang Menghubungkan bersama Indonesia Art Movement dengan kekhawatiran akan berbicara atas nama orang asli Papua. Namun, percakapannya dengan Iam, Miki, dan Julio membuka pemahaman baru tentang bakar batu sebagai teknologi adat sekaligus ruang sosial, spiritual, dan ekologis. Pengalaman tersebut menumbuhkan harapan agar pengetahuan ini terus diwariskan. “Aku benar-benar berharap bakar batu tetap terawat sampai masa-masa mendatang, khususnya oleh generasi muda di Papua,” kata Ruray.
Koalisi Seni menginisiasi Bersemi Bersama Seni sebagai bagian dari kerja panjangnya dalam mendorong ekosistem seni dan pemenuhan hak kebudayaan di Indonesia sejak 2012. Selama ini, Koalisi Seni bekerja melalui advokasi kebijakan, penelitian, pengembangan pengetahuan, dan penguatan jejaring seni. Kampanye ini memperluas percakapan tersebut dengan menempatkan persoalan lingkungan sebagai bagian dari keberlanjutan seni budaya. Sebab, hak untuk terus menjalankan dan mewariskan praktik budaya juga bergantung pada keberadaan tanah, tumbuhan, pangan, serta ruang hidup yang menopangnya. Melalui Bersemi Bersama Seni, Koalisi Seni mempertemukan pengetahuan komunitas adat dan lokal dengan seniman serta publik, agar krisis lingkungan juga dibicarakan sebagai persoalan kebudayaan.

