Jakarta, 24 Oktober 2026 – Apa yang hilang ketika tanaman pewarna alami semakin sulit ditemukan? Bagi masyarakat Dayak Iban di Kalimantan Barat, kehilangan itu bukan hanya soal warna tenun, tetapi juga pengetahuan, tradisi, dan hubungan dengan alam yang diwariskan lintas generasi.
Persoalan tersebut menjadi salah satu sorotan diskusi publik “Bersemi Bersama Seni: Diseminasi Karya Kolaboratif Pulai (Pulang) oleh Paskalia Wandira, Endah N Rhesa, dan Anatman Pictures” dalam rangkaian Indonesia Contemporary Art and Design (ICAD) 2026 di grandkemang Hotel, Jakarta. Diskusi ini membahas proses kreatif di balik karya audiovisual “Pulai (Pulang)”, yang mempertemukan kisah masyarakat Dayak Iban dengan lagu “Plastic Tree” karya Endah N Rhesa.
Diskusi menghadirkan Lidwina Audrey, sutradara “Pulai (Pulang)” dari Anatman Pictures, dan Endah Widiastuti, penyanyi sekaligus pencipta lagu “Plastic Tree”. Percakapan dipandu oleh Melaniarni Fitri.
“Pulai (Pulang)” mengikuti kisah Paskalia Wandira, atau Lia, perempuan muda Dayak Iban dari Lauk Rugun, Kalimantan Barat. Sebagai penenun, penari, sekaligus penggerak pendidikan gratis bagi anak-anak di kampungnya, Lia memperlihatkan bagaimana kehidupan masyarakat terhubung erat dengan hutan dan sungai.
Melalui kisah Lia, film ini menyoroti tanaman sumber pewarna alami yang semakin langka akibat pencemaran air dan tanah serta perubahan bentang alam akibat pertambangan dan perkebunan monokultur kelapa sawit. Ketika tanaman pewarna sulit ditemukan, praktik menenun dan pengetahuan yang menyertainya ikut terancam.
Mendengarkan Cerita, Menemukan Makna Pulang
Bagi Lidwina atau Wina, persoalan lingkungan yang hendak ia ceritakan sudah terasa bahkan sebelum tiba di lokasi. Penerbangannya ke Kalimantan Barat dibatalkan dua kali akibat kabut asap. Setibanya di sana, ia mendengar cerita dari sopir yang mengantar tim bahwa anaknya yang berusia satu tahun sudah sebulan tidak keluar rumah akibat asap.
“Kami baru mendarat dan langsung terpapar faktanya. Itu benar-benar menyentuh hati,” kata Wina.
Pengalaman di lapangan memperkuat kesadarannya bahwa cerita Lia harus disampaikan tanpa melepaskannya dari konteks kehidupan sehari-hari. Sebagai perempuan yang tumbuh besar di Jakarta, Wina menyadari bahwa pengalaman hidupnya berbeda dari Lia. Oleh karena itu, ia melakukan beberapa kali konfirmasi sebelum menyusun cerita, pengambilan gambar, hingga setelah karya selesai disunting.
Sebuah pernyataan penting disampaikan ulang oleh Wina, yang ia dapatkan dari masyarakat Dayak Iban,”Kalau mau bantu kami, pahami dulu pemikiran kami.” Ini bukan pernyataan biasa, melainkan juga tamparan bagi pihak-pihak yang selama ini merasa memiliki kekuatan untuk mengubah dengan standar kesejahteraan yang tidak sesuai konteks.
Wina juga berusaha menghindari romantisasi visual, yakni kecenderungan menampilkan kehidupan masyarakat adat semata-mata sebagai sesuatu yang eksotis atau indah. Salah satu contohnya adalah dinding kayu yang dipenuhi cap tangan anak-anak. Elemen tersebut mungkin bisa disingkirkan demi menghasilkan gambar yang lebih rapi, tetapi bagi Wina, cap tangan itu merupakan bagian dari keutuhan kehidupan di sana. Video musik dokumenter ini juga menghadirkan beberapa foto hasil karya Lia untuk menunjukkan sudut pandang pandangnya..
“Jangan sampai aku mengeksotisasi lingkungan yang sebenarnya adalah kehidupan sehari-hari seseorang,” ujar Wina.
Pendekatan ini sejalan dengan filosofi Anatman, yang berarti “tanpa diri”. Bagi Wina, sutradara bukan pemilik cerita, melainkan perantara yang mengantarkan cerita kepada penonton melalui audio dan visual.
“Aku hanya penerjemah dengan audio dan visual, tanpa harus mengambil narasinya,” katanya.
Judul “Pulang” sendiri berangkat dari pengalaman Lia. Setelah kuliah di Pontianak, ia memilih kembali ke kampung halaman, meskipun keputusan itu dipertanyakan sejumlah orang, termasuk ibunya. Pulang kerap dianggap sebagai tanda kegagalan, seolah-olah kesuksesan hanya bisa ditemukan di kota. Padahal, bagi Lia, sungai dan hutan menyediakan kebutuhan sehari-hari, sementara kehidupan di kota tidak selalu terasa lebih menghidupi.
Kisah Lia juga memberi makna baru bagi Endah Widiastuti. Lagu “Plastic Tree” telah diciptakan sebelum produksi kolaborasi ini dimulai. Berangkat dari rasa frustasi dan kesedihannya terhadap kerusakan lingkungan. Namun, ia merasa lagu tersebut belum menemukan konklusinya hingga melihat visualisasi yang dibuat Anatman Pictures.
“Begitu nonton videonya, ada konklusinya. Ternyata aku marah karena ini, aku sedih karena ini, ini yang aku takutkan,” ujar Endah.
Endah tumbuh di Pamulang, tanpa hutan di sekitarnya. Melalui film, ia kembali memahami lagu yang ditulisnya sendiri sekaligus melihat lebih dekat hubungan masyarakat adat dengan alam. Ia pun memahami bahwa memperjuangkan tanah bukan semata-mata bentuk penolakan terhadap modernisasi, melainkan upaya mempertahankan sumber kehidupan.
“Mereka bukan menolak modernisasi. Mereka memang hidup dari situ. Menyebut hutan sebagai ibu dan sungai sebagai ayah bukan sekadar kata-kata dekoratif,” katanya.
Pengalaman tersebut juga mengingatkan Endah agar tidak terburu-buru menawarkan solusi berdasarkan sudut pandang orang kota. Mengganti pewarna alami dengan bahan yang lebih mudah diperoleh, misalnya, mungkin terlihat praktis bagi orang luar. Namun, belum tentu itu yang dibutuhkan masyarakat yang menjalani tradisi tersebut.
Bagi Endah, seni memiliki kekuatan untuk menyampaikan pengetahuan tanpa harus selalu hadir sebagai pelajaran formal. Melalui cerita, musik, dan gambar, penonton dapat mengenal bahasa, keseharian, serta cara pandang masyarakat yang mungkin sebelumnya terasa jauh dari kehidupan mereka.
Ketika Kerusakan Lingkungan Mengancam Pengetahuan Budaya
Amalia Ikhlasanti dari Koalisi Seni menjelaskan bahwa kampanye Bersemi Bersama Seni berangkat dari keresahan Koalisi Seni terhadap posisi kesenian dalam kampanye publik. Seni kerap ditempatkan sebagai alat untuk menyampaikan pesan, padahal kesenian juga terdampak langsung oleh kerusakan lingkungan.
Dalam diskusi, Wina mengingatkan bahwa kehilangan pengetahuan tentang tenun berlangsung secara berlapis. Tidak semua teknik dan motif dapat diwariskan, sementara sebagian generasi muda merantau ke kota karena anggapan bahwa kehidupan perkotaan lebih menjanjikan. Akses terhadap hutan untuk mencari bahan pewarna juga semakin sulit, antara lain karena bahan bakar untuk perjalanan dengan perahu langka dan mahal.
Pengetahuan menenun sendiri tidak hanya tersimpan dalam catatan atau motif yang terlihat pada kain. Pengetahuan tersebut hidup dalam ingatan dan praktik para perempuan yang menguasai teknik, warna, serta cara menenun. Ruang tengah rumah betang menjadi salah satu tempat penting bagi proses pewarisan itu, ketika para perempuan berkumpul dan menenun bersama.
“Kehilangannya sangat berlapis. Yang bisa kita lakukan di sini adalah ikut mengingat bersama-sama, ikut merasakan apa yang hilang,” kata Wina.
Melalui Bersemi Bersama Seni, Koalisi Seni ingin memperlihatkan hubungan antara kelestarian lingkungan dan keberlangsungan kebudayaan, sekaligus membuka ruang bagi seniman untuk menyampaikan keresahan melalui karya. Pendekatan yang digunakan tidak selalu harus keras atau penuh kemarahan. Seni dapat mengajak orang mendekati persoalan melalui perasaan, pengalaman, dan cerita manusia.
Bersemi Bersama Melalui Seni
Menanggapi pertanyaan peserta mengenai kelanjutan kampanye, Amalia menyampaikan bahwa Bersemi Bersama Seni akan terus dibawa ke berbagai festival seni. Koalisi Seni juga membuka kesempatan bagi komunitas yang ingin menyelenggarakan diskusi atau kegiatan serupa, dengan melibatkan masyarakat yang memiliki dan menjalani cerita tersebut.
Upaya ini diharapkan dapat mempertemukan lebih banyak orang dengan pengetahuan yang selama ini mungkin terasa jauh dari kehidupan mereka,bukan hanya dengan menonton karya audiovisual, tetapi juga melalui percakapan dan pertukaran pengalaman yang membuka ruang untuk memahami persoalan lingkungan dari sudut pandang masyarakat yang mengalaminya secara langsung.
Menutup diskusi, Endah mengingatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya tanggung jawab seniman. Menjadi seniman hanyalah salah satu bagian dari peran manusia dalam menjaga kehidupan bersama.
“Sebagai manusia, kita punya panggilan untuk saling menjaga dan saling mengingatkan. Kebetulan saluran kami sebagai seniman adalah karya. Tapi kita bisa bersemi bersama siapa saja: bersama mahasiswa, guru, profesi apa pun,” ujarnya. “Mudah-mudahan kebaikan itu bisa menyebar dan selalu bersemi.”
Melalui Bersemi Bersama Seni, Koalisi Seni mengajak publik melihat bahwa merawat lingkungan juga berarti merawat pengetahuan dan kebudayaan yang tumbuh bersamanya. Sebab, ketika alam berubah dan sumber kehidupan semakin sulit dijangkau, yang terancam hilang bukan hanya bahan untuk berkarya, tetapi juga cerita, keterampilan, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Karya “Pulai (Pulang)”, video tentang tradisi Bakar Batu bersama Efek Rumah Kaca, serta zine kampanye Bersemi Bersama Seni dapat diakses melalui koalisiseni.org/seni-dan-lingkungan.

