/   Kabar Seni

Sumber: Majalah Tempo, 6 April 2020

IMING-IMING dalam lembar iklan digital itu menggiurkan. Kita bisa memesan tema pertunjukan kelompok teater boneka Papermoon Puppet hanya dengan membayar tiket Rp 100 ribu. Kondisi pandemi tak menyurutkan kreativitas kelompok ini. Nantinya, tim yang bermarkas di Yogyakarta itu menjahit ide yang dipesan. Dan, kemudian, alam pentas dua-tiga menit ditayangkan online di gawai. “Kami akan mengirimkan videonya lewat WhatsApp ke penonton,” kata satu dari empat kru Papermoon, Beni Sanjaya, pertengahan Maret lalu.

Tempo mencoba memesan tema pandemi. Delapan hari setelah pesanan masuk, Beni mengirimkan video pertunjukan berdurasi 2 menit 47 detik kepada Tempo. Pengiriman tertunda karena sebelumnya Beni menyebutkan kuota Papermoon untuk pentas personal ini terisi penuh. Dalam video ini terlihat tiga penampil, yakni Beni, Anton Fajri, dan Pambo Priyojati. Beni duduk membelakangi latar hitam polos. Dia menghadap meja dengan sebuah buku dan gelas seng di atas tungku kayu. Saat ia sedang membaca buku, muncul Anton dari kolong meja. Anton nongol sembari memainkan selembar kain merah yang merepresentasikan virus di sekitar gelas Beni. Setelah meminum air dari gelas itu, Beni mulai batuk-batuk. Kemudian Pambo muncul, sebagai dewa penyembuh, yang menyimbolkan harapan. Beni kembali sehat, dan pertunjukan pun rampung.

Dalam pertunjukan ini, tak sedetik pun boneka khas mereka tampil di layar. Berbeda dengan kebanyakan aksi dongeng mereka sebelumnya. Menurut Beni, Papermoon tak mau berkutat dengan boneka saja dalam bercerita. “Puppetry bagi kami tak melulu boneka, jadi lebih ke seni menghidupkan benda mati. Semua benda yang ada di sekeliling kita pun bisa menjadi boneka untuk alat bercerita,” ujarnya.

Ria dan kawan-kawan di Papermoon Puppet biasa berpentas tanpa kata-kata. Mereka memilih keluar dari pakem dan berpegang pada kekuatan visual, yakni boneka dan seni instalasi. Pada suatu waktu, mereka bereksperimen dengan perahu kertas yang digantung. Perahu itu menjadi metafora orang meninggal yang melanjutkan perjalanannya. Pada kesempatan lain, kru Papermoon menjadi dalang yang menggerakkan boneka. Terobosan juga pernah dibuat Papermoon dengan menciptakan boneka raksasa. Kelompok yang sudah tampil di sejumlah negara ini mengajak boneka tersebut di panggung konser solo penyanyi Tulus tahun lalu.

Beni menyebutkan ada seratus orang yang memesan pentas dengan beragam tema kepada mereka. “Karena waktu produksi kami batasi, jadi sesi kemarin hanya bisa menampung seratus (tema) dulu,” tuturnya. Seratus tema itu lalu dijahit menjadi 30 pertunjukan. Mereka menyatukan ide yang berdekatan, baru kemudian menentukan medium bercerita. “Tapi kadang kami berangkat dari medianya dulu, baru menjahit temanya.”

Pentas online Papermoon adalah satu dari sedikit pertunjukan seni yang masih berlangsung di tengah wabah Covid-19. Sejumlah pertunjukan teater terpaksa dibatalkan, ada juga yang ditunda karena aturan jaga jarak fisik dan sosial. Salah satunya Sampek Engtay oleh Teater Koma. Pentas yang hendak ditayangkan pada 28 dan 29 Maret lalu di Ciputra Artpreneur, Jakarta, itu diundurkan menjadi 15 dan 16 Agustus mendatang. Peminat yang sudah telanjur membeli tiket mesti menunggu hingga pertunjukan jadi digelar. Sutradara dan aktor Teater Koma, Rangga Riantiarno, mengatakan latihan langsung mereka stop dulu selama pandemi demi kenyamanan bersama. Namun ia tak memungkiri rasa sedihnya lantaran penundaan ini berdampak pada kondisi finansial sejumlah pekerjanya

“Ada beberapa anggota baru ataupun senior yang berharap pada honor dari pentas Maret kami untuk persiapan Ramadan dan Lebaran, juga uang masuk SMP dan SMA. Jadi mereka pastinya pusing sampai Agustus mendatang,” ucapnya. Yang membuat dia bertambah waswas adalah tak ada jaminan pada Agustus mendatang wabah sudah berakhir. Pandemi Covid-19 juga membuat pementasan monolog Inggit oleh Happy Salma ditunda hingga 22 Agustus mendatang.

Koordinator Advokasi Kebijakan Koalisi Seni, Hafez Gumay, mengatakan guncangan virus corona pada ranah seni mesti diperhatikan pemerintah. Intervensi bisa dilakukan dengan menilik langkah pemerintah dan pihak swasta negara lain, seperti di Seattle, Amerika Serikat. Di sana, seretnya pemasukan pekerja seni ditangani dengan dana bantuan US$ 100 ribu bagi pekerja seni dan US$ 1 juta untuk organisasi seni selama krisis. Adapun pemerintah Queensland, Australia, menganggarkan Aus$ 8 juta untuk membantu seniman dan organisasi seni berskala kecil hingga menengah. Mereka juga meniadakan tagihan untuk para penyewa fasilitas seni milik pemerintah hingga Desember 2020.

Menurut Hafez, idealnya pemerintah Indonesia mengambil tindakan serupa. Namun, bila hal itu sulit dilakukan, alternatifnya adalah memfasilitasi seniman dalam berkarya. Selain memastikan infrastruktur digital dalam kondisi prima, pemerintah mesti memudahkan pemakaian ruang pertunjukan milik pemerintah ataupun swasta untuk kebutuhan produksi yang akan dipentaskan secara online. Cara lain adalah menangguhkan atau mengurangi pajak hiburan dan pajak pertambahan nilai dalam transaksi karya seni. “Jadi daya beli masyarakat tetap terjaga,” katanya.

Hafez juga mengusulkan baik pemerintah maupun swasta mengurangi biaya sewa bagi kegiatan seni yang ditunda sementara karena virus corona. Bantuan tersebut penting lantaran, dalam situasi saat ini, sebagian besar masyarakat menempatkan seni sebagai kebutuhan sekunder, bahkan tersier. Karena itu, kepedulian terhadap keberlangsungan seni cenderung kecil dalam krisis. “Padahal seni berperan memelihara kepentingan masyarakat dalam menghadapi krisis,” ujarnya.

ISMA SAVITRI, SHINTA MAHARANI

Tulisan Terkait

Tinggalkan komentar

Imajinasi dan daya berpikir kritis adalah kunci perubahan. Karena itu, seni merupakan prasyarat utama terwujudnya demokrasi. Dukung kami untuk mewujudkan kebijakan yang sepenuhnya berpihak pada pelaku seni.