/   Advokasi, Artikel, Kabar Anggota, Seni Semasa Krisis

Tiga tahun sudah kita hidup di tengah pandemi. Sudah pasti tak ada yang menyangka pagebluk akan berlangsung selama ini, tapi kita belajar dan menemukan cara-cara baru untuk bertahan di tengah situasi serba tak pasti. Termasuk para seniman.

Tak begitu lama setelah virus menyerang, para seniman telah merancang beragam siasat agar proses berkarya tak putus. Kolaborasi menjadi salah satu pilihan utama untuk menjaga kesenian tetap menyala. 

Seperti kelompok teater boneka asal Yogyakarta, Papermoon Puppet Theatre, yang memulai langkah adaptasi dengan pandemi lewat In This Time: Series of Talk with Puppetry Artists pada April 2020. Ini merupakan serial perbincangan Papermoon dengan 18 seniman teater boneka dari banyak negara.

Maria Tri Sulistyani, salah satu pendiri Papermoon, mengatakan hal pertama yang mereka risaukan pada awal pandemi adalah bagaimana keadaan sahabat-sahabat mereka di berbagai penjuru dunia. Seri bincang virtual itu pun dibuat untuk sarana berbagi kabar para seniman teater boneka. 

Mereka sekaligus mendiskusikan bagaimana proses berkarya selama wabah dan apa yang dapat dilakukan dalam kondisi ini. “Yang kami pikirkan adalah mewujudkan boosting positive energy. Kekuatan fisik dan stamina kita akan baik ketika energi kita positif,” kata Maria. “Di situlah fungsi seniman yang kami pilih.”

Energi positif yang sama memantik terobosan pementasan cerita dengan konsep khas Papermoon, yaitu Story Tailor. Teater yang umumnya dipentaskan di depan banyak audiens berubah bentuk menjadi pertunjukan intim dan personal. Papermoon mengundang penonton untuk mengirimkan tiga kata. Dari kata-kata itu, mereka kemudian menciptakan sebuah pertunjukan yang direkam, lalu dikirim kembali pada pemesannya lewat video WhatsApp. Setiap orang mendapat pertunjukan berbeda sesuai kata-kata pesanan mereka. 

Konsep segar ini disambut antusias oleh publik. Papermoon mengadakan dua seri dengan kuota masing-masing seratus tiket. Semuanya ludes terjual.

(Pertunjukan ‘A Bucket of Beetles’ yang digelar Papermoon di tengah pandemi. Kredit: papermoonpuppet.com)

Saluran virtual kemudian menjadi andalan Papermoon di tengah pagebluk. Berikutnya, mereka berani membuat pentas daring lebih besar, hasil kolaborasi dengan berbagai komunitas. Dengan mode ini, penonton tak hanya menyaksikan pertunjukan, tapi juga mendapat kesempatan untuk tur virtual ke studio Papermoon hingga bincang-bincang dengan seniman. 

Penonton pun tak hanya dari Indonesia karena dapat dijangkau oleh mereka yang berada di belahan bumi berbeda. Inilah yang membuat Maria merasa bahwa pementasan virtual memiliki potensi berbeda, tetapi sama baiknya dengan pertunjukan langsung. Misalnya, belum tentu pertunjukan langsung dapat menemui penonton di Maumere, New York, atau daerah-daerah lain. 

“Kapan Papermoon bisa berangkat ke Maumere untuk mementaskan ini? Nggak tahu, kita punya keterbatasan dana untuk melakukan itu,” tutur Maria. “Teman-teman di New York (juga) bisa nonton sambil sarapan, premier dari Jogja.”

Selain kelompok Papermoon, komunitas budaya Foho Rai dari Nusa Tenggara Timur juga jadi salah satu yang terguncang akibat pandemi. Pada 2020, Foho Rai semestinya menggelar festival Budaya Kampung Adat Matabesi (Festival Foho Rai) bekerja sama dengan platform Indonesiana – hasil kemitraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan pemerintah daerah. Rencana ini batal lantaran wabah.

Ketua Komunitas Foho Rai, Fransiskus Delvi Abanit Asa, mengemukakan festival Foho Rai memang batal. Namun, berkat kerja sama anggota komunitas, sejumlah acara pendukungnya masih berjalan. Kegiatan seperti kajian sosio-antropologi, pembuatan film pendek, desain, dan foto tetap berlangsung.

“Memang (masih berjalan) tanpa kita abaikan standar protokol COVID-19,” kata Fransiskus yang biasa disapa Romo Delvi.

(Museum Foho Rai di Atambua Barat. Kredit: infopublik.id) 

Sebelum pandemi, komunitas ini giat mewujudkan Museum Foho Rai di Kampung Adat Matabesi, Atambua Barat. Konsep museum ini tak hanya sebuah bangunan berisi koleksi benda belaka. Seluruh kampung adat beserta segala tradisi dan ekosistemnya juga menjadi bagian dari museum ini. Anak-anak muda Foho Rai merintisnya, sebagian besar secara filantropi.

Menurut Fransiskus, kegiatan-kegiatan kesenian dalam komunitas Foho Rai harus tetap hidup dan beradaptasi dengan situasi pandemi. Harapannya, komunitas ini bisa mendukung ekonomi kreatif yang berbasis kebudayaan di Nusa Tenggara Timur.

Dukungan terbesar yang dapat membuat seni tetap bersemi di tengah pandemi tak lain adalah penguatan ekosistem kesenian. Maria menyebut perlunya pemetaan kekuatan di lingkaran seniman dan organisasi terkait yang dapat saling bergandengan. Dukungan pemerintah tentunya juga tak boleh ketinggalan. 

Simak transkrip Maria dan Fransiskus selengkapnya dalam podcast Ruang Usik-Usik (RUU) di tautan berikut

(Moyang Kasih Dewimerdeka)

Tulisan Terbaru

Tinggalkan komentar

Ayo Percepat Perubahan

Bayangkan Indonesia jadi tempat semua orang bisa mendapat manfaat maksimal dari seni — kita jadi bangsa yang lebih logis, kritis, imajinatif, inovatif, dan toleran. Seni jadi bagian terpadu dalam pendidikan dan segala kegiatan bermanfaat. Anda bisa membantu Koalisi Seni mendorong perubahan itu agar lebih cepat terjadi. Klik tautan ini untuk tahu caranya:

Silakan ketik dan tekan enter untuk mencari

X