Mei 27, 2018

Anak Muda dan Ekosistem Kesenian Kita

Annayu Maharani, peneliti Koalisi Seni, berkesempatan bercerita tentang pengalamannya bekerja sebagai peneliti di Koalisi Seni sekaligus tentang bagaimana anak muda bisa berkontribusi memajukan kesenian Indonesia dalam sesi wawancara dengan Student Job Indonesia via twitter. Berikut isi wawancaranya.

 

Q : Halo Kak Annayu apa kabar? Apa saja kesibukannya saat ini?

A : Halo! Di Koalisi Seni saya sedang mengerjakan kegiatan berpikir kritis melalui medium seni, riset pengukuran dampak sosial seni, pendataan seni budaya, dan filantropi untuk kesenian.

 

Q : Sebelum menjadi peneliti, kakak berkuliah dimana dan jurusan apa?

A : Saya kuliah di FIB UI jurusan Sastra Belanda. Saya jadi dapat kesempatan melihat Indonesia–terutama zaman kolonial – dari “kacamata” orang Belanda melalui bahasanya. Dari dulu saya menyukai seni dan budaya.

 

Q : Apa saja sih jobdesc-nya seorang peneliti di bidang seni?

A : Macam-macam sekali, tergantung apa yang mau kita teliti. Penelitian seni itu luas sekali; kita bisa meneliti seni dari segi interinsiknya, sosial budaya, ekonomi politik, dan kebijakan. Sampai saat ini, penelitian Koalisi Seni bertemakan kebijakan budaya (cultural policy). Sifatnya sangat multidisiplin, kita melihat seni sebagai elemen pembangunan dan oleh karena itu mengarah pada kebijakan publik.

Koalisi Seni antara lain telah meneliti jumlah anggaran pemerintah pusat terkait kesenian, keberlangsungan lembaga seni di Indonesia, dan evaluasi bantuan fasilitas kesenian di sekolah. Dari riset-riset tersebut, Koalisi Seni mendapat temuan antara lain miskonsepsi pengembangan seni budaya oleh pemerintah dan jumlah dana yang dibutuhkan komunitas per tahun untuk berkegiatan.

Riset yang telah ada dijadikan data ketika Koalisi Seni mengadvokasi UU Pemajuan Kebudayaan, yang akhirnya telah berhasil diundangkan tahun lalu. UU ini menjadi landasan bagi siapa saja yang ingin memajukan kesenian Indonesia!

Riset kebijakan kesenian sifatnya multidisiplin. Tidak hanya perlu pemahaman budaya saja, tapi juga disiplin hukum, ilmu negara, sampai teknologi informasi. Ini ruang bagi anak-anak non humaniora utk membangun kesenian kita!

 

Q : Umumnya anak muda yang punya passion di bidang seni merasa minder terhadap kesempatan berkarir di masa depan, sebenarnya bagaimana kesempatan karir bidang seni di dunia kerja saat ini sih Kak?

A : Di dunia global, seni masih memiliki panggung karena dipercayai mempromosikan keberagamaan antarbangsa dan menjadi salah satu unsur penting dalam pembangunan berkelanjutan. Ini menjadi ruang bagi para seniman, kurator dan kritikus yang biasanya lulusan seni, ilmu sosial, dan humaniora. Tapi dunia makin kompleks dan dunia akademik dituntut makin multidisiplin. Saya percaya justru masa depan kesenian Indonesia akan terbantu oleh lulusan manajemen, hukum, dan teknologi informasi/data science.

Misalnya, dari ilmu manajemen (dan lulusan FISIP). Kesenian Indonesia butuh manajer seni yang bekerja di komunitas dan galeri untuk keperluan administrasi dan komunikasi. Seniman tidak bisa mengerjakan hal ini sendirian krn mereka sibuk berkarya. Begitu juga ilmu hukum. Kesenian Indonesia perlu sekali ahli hukum untuk keperluan hak cipta hak kekayaan intelektual, dsb. Ini sangat terkait dengan warisan budaya dan penciptaan baru sehingga mendorong apresiasi dan kesejahteraan para pekerja kebudayaan itu sendiri. Di bidang TI/data science: data kebudayaan Indonesia itu minim sekali, padahal kita menyaksikannya sehari-hari. Kesenian Indonesia memerlukan mereka yang dapat mendata, mengarsip, mendigitasi, dan mengolah informasi tentang kekayaan seni budaya kita! Kita memasuki era digital.

Singkat nya, ekosistem kesenian Indonesia akan menjadi lebih besar jika anak muda, dari disiplin manapun, saling berkoalisi untuk mengembangkan seni budaya kita!

 

Q : Menurut pendapat kakak, Bagaimana cara millenial saat ini mengekspresikan kreatifitas di bidang seninya? Apakah ada keunikan tersendiri?

A : Banyak sekali platform di internet bagi yang ingin mempublikasikan karya tulisan, gambar, foto, dan musik. Upload and share. Yang berbeda dari generasi sebelumnya adalah karya seni mereka ini akan menjadi “arsip digital” dan audiensnya bisa dari seluruh belahan dunia. Tidak sulit bagi millenial untuk mencari referensi karya di internet begitu juga dengan audiens yang semakin luas. Kesadaran mereka soal data juga lebih tinggi karena biasa “merekam” melalui smartphone dan merapikan folder-folder karya di harddisc, misalnya.

 

Q : Apa sih suka dukanya bekerja sebagai peneliti dibidang seni?

A : Secara individu: Peneliti tidak boleh cepat mengambil kesimpulan dan harus fokus. Ini jadi tantangan bagi saya–Millenial–di mana media sosial sangat bising dan informasi terlalu berlimpah. Kamu harus banyak baca dan melewati proses dari “tidak tahu” menjadi “lebih tahu”.

Secara general: Sulitnya mencari referensi karena sebagian sumber sejarah seni kita ditulis dengan format review dan kritik, bukan kajian. Sisanya, riset kesenian Indonesia (terutama tradisional) lebih banyak dilakukan orang luar. Ini masalah sumber literatur dan akses.

 

Q : Apa itu Koalisi Seni Indonesia?

A : Koalisi Seni adalah organisasi seni perhimpunan demi mendorong terwujudnya ekosistem kesenian Indonesia yang lebih baik dan berlandaskan keragaman budaya. Lembaga ini berdiri sejak 2012 dan berpusat di Jakarta. Sampai 2018 Koalisi Seni mempunyai 172 anggota (individu dan lembaga) di 14 provinsi. Kegiatan kita adalah advokasi seni, filantropi seni, pemberdayaan masyarakat melalui seni, dan manajemen pengetahuan.

 

Q : Menurut Kakak, bagaimana cara anak muda berkontribusi dalam melestarikan budaya di era  millenial sekarang?

A : Sebelum menjawab pertanyaan ini, menurutku lebih baik kita bertindak untuk “memajukan budaya” dibanding “melestarikan” ya, karena maknanya cenderung mempertahankan, bukan mengembangkan.

Anak muda bisa berkontribusi dalam filantropi seni. Artinya, memberikan sumbangan dalam bentuk dana, tenaga, pengetahuan, dan apresiasi! Misalnya, anak muda bisa menjadi donatur atau relawan di acara seni, seperti pameran dan pertunjukan karena sebuah acara seni biasanya memerlukan biaya dan SDM yang tidak sedikit. Anak muda juga bisa menyumbang pengetahuannya dengan mendata pelaku seni atau karya yang kamu ketahui, misalnya di Wikipedia Indonesia atau Wiki Commons Indonesia. Lalu bantu menaikkan apresiasinya dengan SHARE sebanyak-banyaknya. Penuhi lini masa kita dengan berita baik.

 

Q : Apakah ada kesempatan berkarir di Koalisi Seni untuk anak muda seperti part time, freelance atau volunteer?

A : Untuk waktu dekat akan ada lowongan menjadi volunteer, tunggu aja infonya di medsos Koalisi Seni ya!

 

Q : Terakhir, apa yang ingin disampaikan kak Annayu untuk anak muda yang sedang   menyimak  saat ini?

A : Kesenian Indonesia punya Pramoedya, Soedjojono, Edi Sedyawati, dan masih banyak lagi, serta kekayaan seni tradisional dan kontemporer yang melimpah. Kita bukan bangsa kecil. Kesenian adalah aset penting negara kita. Untuk itu, jangan ragu untuk mengambil sekolah seni, sastra, sejarah, arkeologi, dan filsafat, serta disiplin ilmu komplementer lainnya untuk menjadi sistem pendukung kesenian kita. Usaha ini nantinya memperpanjang identitas bangsa kita, yang dari dulu beragam.

Related posts